SuaraBanyuurip.com – D Suko Nugroho
Bojonegoro – Di tengah anjloknya harga minyak dunia sekarang ini, operator migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), tetap menargetkan produksi puncak Banyuurip sebanyak 165 ribu barel per hari (Bph) terlaksana tahun 2015. Saat ini, harga minyak dunia berada dikisaran USD 57,95 per barel.
“Tak ada perubahan. Produksi puncak tetap kita upayakan terlaksana tahun ini,” tegas Field Public and Government Affairs Manager EMCL, Rexy Mawardijaya, saat membuka Lokakarya Jurnalistik tentang Migas yang diikuti sejumlah wartawan dari Bojonegoro dan Tuban di Hotel Tanjung Kodok and Resort Kabupaten Lamongan, Sabtu, (6/6/2015) kemarin.
Dia mengungkapkan, penurunan harga minyak dunia yang terjadi hingga sekarang ini telah dibahas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Vice President (VP) ExxonMobil, Raymond Jones. Dalam pertemuan itu, kata Rexy, ExxonMobil memastikan tidak akan mengurangi investasinya di Indonesia dan tetap berupaya melakukan produksi puncak Banyuurip tahun ini.
“Pada saat harga minyak dunia turun di level US$ 40 per barel, hal itu sudah dibahas. Dalam pertemuan itu Pak Jokowi juga menanyakan apakah ExxonMobil akan mengurangi investasinya di Indonesia, namun VP ExxonMobil mengatakan, Exxon tidak akan megurangi investasinya dan tetap berupaya melaksanakan produksi puncak Banyuurip tahun ini,” kata Rexy.
Sekarang ini, produksi minyak Banyuurip terus meningkat hingga mencapai lebih dari 75 ribu bph. Produksi itu berasal dari 40 sumur di tapak sumur (well pad) B dan C. Sementara 8 sumur di tapak sumur A sedang dalam proses pemboran.
Rencananya, produksi Banyuurip dalam waktu dekat ini akan ditingkatkan lagi. Saat ini masih menunggu ijin perubahan analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) untuk gas suar bakar (falring) dengan volume 70 Juta Standar Kaki Kubik per Hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD).
Produksi minyak Banyuurip sendiri telah dialirkan ke tangki penampungan (Floating Storage Off-loading/FSO) bernama Gagak Rimang yang terapung di tengah laut Palang di Kabupaten Tuban melalui pipa 20 inci sepanjang 95 kilometer (KM). Dari produksi yang tertampung itu sebanyak 550 ribu barel telah dikirim ke kilang RU IV di Cilacap dan RU VI di Balongan dengan menggunakan Kapal Gunung Geulis milik Pertamina.
“Lifting pertama minyak Banyuurip sudah dilakukan pada 12 April lalu,” kata Rexy.
Informasi yang diperoleh, sejak melakukan kegiatan di Indonesia pada 1968, ExxonMobil Oil telah berinvestasi sebanyak US$ 20 miliar. Jumlah investasi itu diperkirakan telah meningkat. Sebab sesuai rencana pengembangan lapangan (plan of development/PoD), investasi di proyek Banyuurip mencapai US$ 2,525 miliar.
Rinciannya, untuk pembangunan fasilitas produksi sebesar US$ 2,188 miliar dan pengeboran sumur sebanyak US$ 337 juta. Kemudian pembangunan fasilitas dibagi ke dalam lima kontrak EPC (engineering, procurement, and construction/rekayasa, pengadaan, dan konstruksi), yakni fasilitas produksi utama (Central Production Facility/CPF), pipa darat (onshore) 72 km, pipa laut (offshore) dan menara tambat (mooring tower), Floating Storage Off-loading (FSO), serta fasilitas infrastruktur.
“Sekarang ini, progress proyek EPC Banyuurip secara keseluruan telah mencapai 96 persen lebih,” pungkas Rexy.(suko)





