SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro — Produksi minyak dari Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, mengalami penurunan pada awal tahun 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan realisasi lifting minyak nasional hingga akhir Mei belum mencapai target yang ditetapkan pemerintah.
Lapangan Banyu Urip terletak di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dikelola oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). EMCL merupakan produsen minyak terbesar kedua di Indonesia setelah PT Pertamina Hulu Rokan yang mengoperasikan Blok Rokan.
Senior Vice President Production ExxonMobil Cepu Limited, Muhammad Nurdin, menjelaskan, bahwa penurunan produksi terutama disebabkan oleh faktor alamiah atau natural decline yang terjadi pada lapangan migas yang telah lama beroperasi.
”Memang kami mengalami penurunan produksi atau mengalami decline dari produksi,” ujar Nurdin dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (3/6/2026) dikutip Suarabanyuurip.com dari siaran Parlemen TV, Kamis (4/6/2026).
Berdasarkan data SKK Migas, lifting minyak EMCL hingga 31 Mei 2026 mencapai sekitar 129.915 barel per hari atau barrel oil per day (Bph/BOPD). Angka tersebut setara 87,5 persen dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 148.500 BOPD.

Meski begitu, EMCL bersama mitra kerja dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengoptimalkan produksi dari Lapangan Banyu Urip. Salah satunya melalui pengembangan potensi bawah permukaan (subsurface opportunity) yang masih tersedia.
Selain itu, lanjut Nurdin, perusahaan juga berupaya meningkatkan keandalan fasilitas produksi (facility reliability) sehingga meminimalkan gangguan operasi yang dapat menyebabkan penurunan produksi (downtime) dari Lapangan Banyu Urip.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto menyebut, rendahnya realisasi produksi minyak nasional pada awal tahun dipengaruhi sejumlah gangguan operasional di beberapa wilayah kerja migas.
Menurutnya, pada kuartal pertama 2026 terjadi kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang berdampak pada penghentian sementara produksi dari sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Setelah gangguan tersebut teratasi, produksi kembali meningkat.
Namun, pada kuartal kedua muncul kendala baru berupa gangguan sistem kelistrikan di wilayah kerja Blok Rokan yang dikelola PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), serta penurunan produksi di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu.
”Setelah itu ada problem kelistrikan di PHR dan dilanjutkan dengan penurunan produksi di Banyu Urip. Dua blok migas ini merupakan penopang terbesar produksi nasional,” ujar Djoko.
Dalam paparan di ruang sidang disebutkan, hingga 31 Mei 2026, realisasi lifting minyak nasional tercatat mencapai 576,2 ribu barel per hari. Angka tersebut masih berada di bawah target APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 610 ribu barel per hari.(fin)




