SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Melambungnya harga cabai rawit di sejumlah daerah hingga menembus seratusan ribu rupih per kilogramnya, tidak terjadi di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Harga cabai di Kota Soto-sebutan lain Lamongan, itu  relatif lebih terkontrol karena distribusi komoditi ini masih terjaga, terlebih sekarang sedang memasuki musim panen.
Hasil pantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lamongan di minggu pertama bulan ini, harga cabai jenis rawit di Pasar Mantup dan Babat sebesar Rp 85 ribu perkilogram. Naik dari harga sebelumnya yang di kisaran Rp 65 ribu perkilogram.
Sementara harga cabai rawit di tingkat petani rata-rata sebesar Rp 70 ribu perkilogram untuk yang berkualitas bagus. Sejumlah wilayah yang menjadi sentra produksi cabai adalah Kecamatan Solokuro dan kecamatan di sekitarnya.
Selama tahun 2016, luas panen cabai di Lamongan tercatat mencapai 3.555 hektar dengan angka produksi yang masih sementara, mencapai sebesar 37.240 kwintal. Sedangkan di tahun 2015 luas panen cabai mencapai 3.550 hektar dengan produksi sebesar 43.699 kwintal.
“Sehingga ketika daerah lain mengalami kenaikan harga cabai yang tinggi, di Lamongan tidak terlalu terpengaruh, karena masih bisa kita cukupi dengan produksi sendiri,†ujar Bupati Lamongan Fadeli di dampingi Wakil Bupati, Kartika Hidayati usai melakukan panen cabai rawit di Desa Dadapan Kecamatan Solokuro, Senin (9/1/2017).
Meski tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan, pihaknya akan tetap konsisten mengawal pertanian di Lamongan agar semakin berkembang. Tidak hanya untuk komoditas jagung yang sudah dibuatkan kawasan modern terintegrasi, tapi juga untuk komoditas lainnya, termasuk cabai. (tok)





