SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Bojonegoro – Dibalik kesuksesan berjalannya Festival Banyu Urip (FBU) 2018 ini, ada peran pawang hujan. Tujuannya tak lain adalah agar hujan tak mengguyur lokasi kegiatan yang berpusat di Lapangan Bola Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Menurut ketua panitia penyelenggara, Eko Cahyono, tujuh pawang hujan tersebut semuanya dari lokal yang sudah berpengalaman. Diambilnya jumlah tujuh atau pitu dalam bahasa jawanya terdapat filosofinya. “Pitu, dikandung maksud pitulungan dari Alloh supaya sukses FBU tahun ini,” kata Eko Cahyono, kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (17/11/2018).
Pantauan di lapangan, sekitar lokasi kegiatan yang dilaksanakannya FBU 2018 terjadi hujan deras. Namun, di Lapangan Desa Gayam, lokasi FBU yang berada persis dekat well pad C Banyuurip, Blok Cepu hanya gerimis rintik-rintik.
Acara yang digelar Karang Taruna Kecamatan Gayam ini, berlangsung selama tiga hari. Mulai tanggal 16 sampai 18 November 2018.
Ketua Karang Taruna Kecamatan Gayam, Mohammad Kundori, menjelaskan, Festival Banyu Urip 2018 merupakan wujud kolaborasi antara usaha hulu migas dengan masyarakat dan Pemerintah. Dalam rangka merayakan Hari Jadi Ke 6 Kecamatan Gayam sekaligus memeriahkan Hari Jadi Ke 341 Kabupaten Bojonegoro.
Festival Banyu Urip 2018 ini, kata Kundori, didukung sepenuhnya oleh operator lapangan minyak Banyuurip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
“Sabtu malam kita meriahkan dengan Ketoprak Cak Percil. Sedangkan Minggu pagi kita akan ditutup dengan ngonthel bareng Tour de Gayam,” imbuh pria ramah ini.
Ditambahkan, pengunjung juga bisa menyaksikan berbagai produk unggulan lokal dalam pameran. Mulai dari Batik Jonegoroan produksi Kecamatan Gayam, berbagai macam kerajinan tangan, olahan-olahan jamur, beras organik, dan beragam produk pertanian.(Ams)





