SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Menulis sudah menjadi kebiasaan Siti Femi Listiana sejak duduk di bangku SD. Ia mencorat-coret bagian belakang buku. Namun, dalam kebiasaanya itu ia juga belajar membuat puisi. Kini, ia sudah mahir menulis dan telah menerbitkan 8 buku.
Femi kini tetcatat sebagai mahasiswa IAI Sunan Giri Bojonegoro dan menjadi Ketua Kopri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sunan Giri. Di tengah kesibukannya, Femi menemukan keindahan dan kenyamanan menulis. Baginya, menulis merupakan kebebasan menuangkan pikiran. Dua karyanya terbaru berjudul Nalika dan Telulikur.
Selain itu, dia juga ikut menerbitkan 6 buku antologi atau karya bersama. Di antaranya Sang Juara, Rhoma, Menembus Cakrawala, Suara Perempuan, Semangat mengalahkan segalanya, Aku, Tuhan dan pendidikan, menulis seakan menjadi rutinitas bagi Femi. Terlihat dari 8 karya yang berhasil ia suguhkan.
“Sebelumnya sempat tidak percaya, nama saya akan tertulis di sebuah buku,” katanya Jumat (28/08/2020.)
Keberaniannya untuk bisa menulis itu juga bermula dari hobi membaca buku. Ada satu buku yang membuat Femi terinspirasi dan jatuh cinta, karena buku itu mampu memotivasinya untuk bisa menulis. Yakni penulis novel Khilma Anis bukunya berjudul Hati Suhita.
Ketika awal masuk kuliah untuk menambah kemampuannya menulis ia mengikuti berbagai komunitas. Di antaranya Komunitas Sang Jura (KSJ), yang memiliki program untuk menerbitkan antologi buku.
“Ya, dari kumunitas itulah buku perdana saya terbit,” kata perempuan 23 tahun itu.
Selain itu, dia juga mengikuti sekolah menulis online (smo), dan terbitlah buku antologi kedua yakni berjudul Rhoma. Semenjak itu, Femi mulai semangat untuk menulis. Meskipun belum bisa Istiqomah seperti penulis pada umumnya.
Perempuan asal Desa Kenongosari, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, itu berusaha untuk meningkatkan minat bacanya. Karena dengan membaca, selain mendapat pengetahuan juga bisa memeperbanyak diksi.
“Saya lebih suka membaca buku motivasi, novel, dan cerpen,” ucapnya.
Dia mengatakatan, lebih sering menulis ketika dalam keadaan sedih. Karena, lebih bisa memperdalam kalimat dan mudah merangkai kata-kata. Sehingga, dalam keadaan sedih lebih lancar dalam menulis.
“Kalau mau fokus dalam menulis, harus dalam keadaan hening misalnya malam hari,” kata mahasiswi Fakultas Tarbiyah itu.(jk)





