Teknologi EOR dapat Dongkrak Cadangan Migas Indonesia Hingga 3 Miliar BOPED

FOTO ILUSTRASI : Ditjen Migas mendorong KKKSmenerapkan teknologi EOR untuk meningkatkan cadangan migas.

Suarabanyuurip.com –  

Jakarta – Direktorat Jendral Migas Kementerian ESDM menilai Teknologi pengurasan minyak tahap lanjut atau Enhance Oil Recovery (EOR) yang digunakan di sumur-sumur tua dapat meningkatkan cadangan dan menaikkan produksi atau sumur migas. Teknologi EOR diklaim dapat menambah cadangan migas Indonesia hingga 3 miliar BOEPD dari sebelumnya sekitar 2,4 miliar BOEPD.

“Kalau EOR itu bukan ke (peningkatan) produksi tapi cadangan. Produksi itu bisa dinaikkan dengan pompa, tapi cadangan tetap. Misalnya cadangan 100, diproduksikan sudah 5 atau 10 tahun. Kalau 5 tahun, maka produksi masih tinggi, kalau 10 tahun produksi rendah atau berkurang. Tapi kalau dengan EOR, dari cadangan 100, bisa naik jadi 150. Dengan kenaikan cadangan ini, produksi migas bisa dinaikkan atau bisa juga umurnya (sumur) lebih lama. Jadi EOR itu tujuannya meningkatkan cadangan,” papar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji

Menurut Tutuka, cadangan migas Indonesia saat ini sekitar 2,4 miliar BOEPD, dengan penerapan teknik EOR diharapkan bertambah menjadi 3 miliar BOEPD.

“Untuk itulah, Pemerintah terus mendorong KKKS untuk melakukan EOR di lapangan migas tua,” tegas mantan Kepala PPSDM Migas.

Baca Juga :   Naker TBR-C Masuk Bertahap

Tutuka menjelaskan, EOR merupakan metode yang diaplikasikan untuk meningkatkan (recovery) produksi hidrokarbon dari reservoir minyak apabila metode primary recovery dan secondary recovery tidak efisiensi lagi untuk menguras minyak. Atau cara memperoleh minyak dengan menginjeksikan suatu zat yang berasal dari luar reservoir, seperti energi mekanik, energi kimia dan energi termik.

“Pada umumnya EOR digunakan untuk tertiary recovery. EOR bisa langsung dilakukan di tingkat pertama atau primary recovery kalau minyaknya termasuk minyak berat. Seperti di Lapangan Duri di mana proses produksi biasa tidak bisa dilakukan. Pakai pompa juga (produksinya) kecil. Jadi langsung diinjeksikan uap,” papar Tutuka.

Ditambahkan, Untuk menentukan metode EOR yang tepat untuk suatu lapangan perlu dilakukan studi terlebih dulu di mana proses hingga implementasinya membutuhkan waktu.

“Kita seleksi di mana (lapangan) yang cocok, misalkan injeksi chemicals atau CO2 atau cocok juga dengan uap, baru kita terapkan. Di studi, juga modelling sebelum implementasi. Jadi tahapannya agak lama,” kata dia.

Beberapa lapangan migas Indonesia, menurut Tutuka, telah menggunakan injeksi chemical untuk EOR. Namun ada juga yang menginjeksikan CO2, seperti di Lapangan Jatibarang, Jawa Barat. Lapangan migas lainnya Lapangan Sukowati, Gundih, Ramba Subang, Akasia Bagus dan Betung.
Pemerintah terus mendorong KKKS untuk melakukan EOR di lapangan migas tua, meski saat ini penerapannya masih skala sumuran.

Baca Juga :   Tekan Emisi Karbon, Indonesia Maksimalkan Teknologi CCUS dalam Kegiatan Hulu MIgas

“Kalau kita tidak mulai injeksi dari sumuran, nggak bisa mulai-mulai. wacana terus. Jadi kita harus berani. Sumuran ini kan sudah dimulai di Jatibarang, terus Gemah. Nanti ada lagi di tempat lain. Nanti kalau sudah memahami, maka KKKS akan lebih berani injeksi lebih dari satu sumur,” tutup Tutuka.

Anggota Komisi VII DPR RI, Ratna Juwita sebelumnya meminta Ditjen Migas untuk memastikan penerapan teknologi EOR untuk mendongkrak produksi migas.

“Saya masih ingat EOR ini disampaikan dari awal tahun 2019. Jadi saya minta ini bagaimana nanti ke depannya, karena teman-teman praktisi (mengatakan) EOR membutuhkan investasi yang cukup besar,” tegas Ratna.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *