SuaraBanyuurip.com – Edi Supraeko
Bojonegoro – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata – Tematik (KKN-T) Universitas Bojonegoro (Unigoro) Kelompok 20 berhasil menciptakan peta bencana tanah longsor di Desa Tengger, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dengan peta bencana ini diharapkan dapat meningkatkan mitigasi dan meminimalisir risiko bencana, karena mudah diakses masyarakat.
Peta bencana tanah longsor ini sebelumnya tidak dimiliki oleh Pemerintah Desa Tengger. Namun, dengan arahan Sekretaris Desa, Aditiya Darmawan, mahasiswa KKN Unigoro kelompok 20 berhasil menciptakan peta bencana hanya bermodal Google Maps.
Mahasiswa KKN Unigoro bekerja keras mengumpulkan data tentang kondisi geografis, geologi, curah hujan, vegetasi, dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya longsor. Dengan menggunakan teknologi pemetaan dan analisis spasial terkini, mereka berhasil mengintegrasikan semua informasi tersebut menjadi peta yang interaktif dan mudah dimengerti.
“Program ini bertujuan agar dapat meningkatkan upaya mitigasi bencana longsor. Semua ini diharapkan dapat meminimalkan risiko dan kerugian,” kata salah satu mahasiswa KKN-T, Munawir.
Selain menciptakan peta, lanjut dia, mahasiswa KKN-T Unigoro kelompok 20 juga membuat tanda peringatan rawan longsor di beberapa titik agar masyarakat dapat waspada dan berhati-hati.
“Atss nama Pemdes dan Masyarakat Tengger, kami mengapresiasi inovasi yang dilakukan para mahasiswa Unigoro. Dengan adanya proker peta bencana ini dapat menambah pengetahuan dan terkonsentrasinya kesiapsiagaan warga terkait bencana longsor,” ujar Sekdes, Aditya Darmawan.
Peta bencana longsor ini akan menjadi asset berharga dalam upaya pencegahan bencana, dan dapat diakses oleh seluruh Masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah sangat penting dalam membangun kesadaran akan bencana dan meminimalkan resiko.
Peta bencana longsor yang dihasilkan oleh mahasiswa KKN ini bukan hanya sebuah produk akhir, tetapi juga sebuah langkah menuju kesadaran yang lebih besar tentang pentingnya memahami dan merespons ancaman bencana alam.
“Diharapkan kolaborasi semacam ini akan terus berlanjut, dan bahwa hasil-hasilnya akan terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan di masa depan,” tegasnya.
Disamping membuat peta tanah longsor, mahasiswa Unigoro juga melakukan sejumlah kegiatan di Desa Tengger selama KKN berlangsung. Yakni membantu membersihkan lapangan sepak bola yang menjadi tempat pusat kegiatan masyarakat.
“Kami berharap dengan adanya kegiatan bersih-bersih lapangan dengan masyarakat sekitar ini dapat terus terlaksana bukan hanya menjadi momen sekali-sekali tetapi dapat menjadi langkah awal dari berbagai aksi konsisten dan berkelanjutan. Kami juga berharap agar lapangan di Desa Tengger ini dapat kembali beroperasi lagi untuk kegiatan yang positif dan juga kegiatan kemasyarakatan,” ujar Adi, Ketua KKN Kelompok 20 Unigoro.

Kegiatan lainnya yang dilakukan mahasiswa KKN Unigoro adalah pembuatan papan nama di setiap jalan dan gang yang ada di Desa Tengger. Tujuannya agar mempermudah akses masyarakat atau pendatang yang datang untuk menjangkau jalan-jalan kecil di desa ini. Pembuatan nama jalan dan gang ini telah ditentukan dalam musyawarah dusun.
“Munculnya Ide membuat papan nama gang ini dikarenakan mengingat di Desa Tengger banyak sekali gang yang tidak ada papan namanya atau penunjuk jalanya, dimana itu sangat kesulitan bagi pendatang baru yang mau berkunjung ke sini, terutama mau berkunjung ke rumah sanak saudara,” katanya.
Pemasangan papan nama gang mendapat tanggapan positif dari warga Desa Tengger.
“Warga berharap, tidak ada lagi masyarakat luar desa yang tersesat atau salah tujuan karena selama ini banyak masyarakat luar desa yang mengalami hal tersebut,” ujar Asngari, Kepala Desa Tengger.(edi)





