Cerita Menarik di Balik Proyek GRR Tuban Raih Penghargaan Keselamatan Migas

Proyek GGR Tuban.
Pekerjaan pembersihan lahan yang akan digunakan untuk proyek pembangunan GGR atau Kilang Tuban.

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Tuban – Proyek Grass Root Refinery (GRR) atau Kilang Tuban dianugerahi penghargaan Keselamatan Migas tahun 2023 dari Kementerian ESDM. Namun, dibalik penerimaan penghargaan tersebut terdapat cerita menarik yang tidak banyak terungkap di publik.

Proyek GRR berpusat di wilayah Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Proyek strategis nasional (PSN) yang dikerjakan oleh Pertamina – Rosneft ini memiliki standart keselamatan tinggi. Sama seperti pada proyek-proyek migas pada umumnya.

Semua pekerja yang bekerja di proyek GRR Tuban harus menerapkan aturan standar keselamatan kesehatan kerja dan lingkungan (K3L) yang ditetapkan perusahaan. Tidak terkecuali bagi pekerja land clearing. Pekerjaan pembersihan lahan untuk mempersiapkan lokasi sebelum konstruksi dimulai.

PRPP melaksanakan pekerjaan pembersihan lahan secara padat karya menggunakan peralatan manual mulai 2019 hingga 2022. Terdapat 1.000 pekerja lokal dari desa-desa terdampak dilibatkan di pekerjaan tersebut yang terbagi dalam empat tahap.

Meski tergolong pekerjaan unskill, namun Pertamina – Rosneft Pengolahan & Petrokimia (PRPP) tetap mengedepankan dan mengutamakan keselamatan kerja bagi para pekerja pembersihan lahan. Sehingga semua pekerja wajib memakai alat pelindung diri (APD) lengkap. Mulai dari memakai helm, baju proyek, sarung tangan, kaos kaki, hingga sepatu keselamatan.

Namun, penerapan budaya keselamatan kerja tersebut menjadi tantangan terberat PRPP dalam mengimplementasikan keselamatan kerja pada saat awal-awal pelaksanaan proyek pembersihan lahan GRR Tuban. Mengingat, para pekerja yang dipekerjakan merupakan pemuda-pemuda desa yang selama ini hanya mengenal bertani dan buruh bangunan. Belum pernah berkecimpung di proyek padat teknologi, modal dan risiko, seperti kilang minyak Tuban.

Para pekerja pembersihan lahan proyek GRR Tuban beranggapan pemakaian APD lengkap terlalu ribet. Tidak membuat mereka nyaman saat bekerja.

“Lucunya setiap hari pekerja datang tidak membawa kaus kaki dan sarung tangan dengan alasan lupa lah, ribet lah, sehingga kami mau tidak mau menyediakan stok kaus kaki dan sarung tangan dalam jumlah besar untuk mengantisipasi pekerja yang tidak membawa kaus kaki dan sarung tangan,” kenang Presiden Direktur PRPP, Reizaldi Gustino.

Tantang berat tersebut justru menjadi penyemangat PRPP untuk terus membangun budaya keselamatan kerja di lingkungan kerjanya sejak awal proyek pembersihan lahan proyek GRR Tuban. Alhasil, melalui sosialisasi, penerapan disiplin yang tinggi para pekerja menyadari pentingnya menjaga keselamatan kerja.

“Alhamdulillah akhirnya seluruh pekerja telah terbiasa dan menghasilkan pengakuan ini,” lanjut Reizaldi.

Pekerjaan pembersihan lahan merupakan salah satu aktivitas yang menyumbangkan kontribusi jam kerja selamat di proyek GRR Tuban. PRPP menerima penghargaan bergengsi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, yaitu Penghargaan Keselamatan Migas 2023 Patra Nirbhaya Pratama pada Selasa, 3 Oktober 2023, bertempat di Hotel JW Marriot Jakarta,

Baca Juga :   Dua Produk PT Gasuma Diminati PD Migas Tuban

Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Dirjen Migas Tutuka Ariadji kepada Presiden Direktur PRPP, Reizaldi Gustino.Penghargan Patra Nirbhaya Pratama yaitu penghargaan yang diberikan kepada perusahaan dengan jam kerja aman mencapai lebih dari 3 juta jam kerja aman. Adapun PRPP pada periode 13 Maret 2019 hingga 30 April 2023 telah mencatatkan lebih dari 4,5 juta jam kerja aman tanpa Loss Time Injury.

Proyek GRR Tuban.
Presiden Direktur PRPP, Reizaldi Gustino menerima penghargan keselamatan migas, Patra Nirbhaya Pratama dari Dirjen Migas Tutuka Ariadji.(dok.prpp).

Selain konsisten dalam implementasi standar keselamatan, PRPP dan GRR Tuban juga telah mengimplementasikan standar Contractor Safety Management System serta pengawasan menyeluruh mulai dari aspek administrasi dan perizinan hingga pemeriksaan aktivitas secara berkala pada setiap aktivitas proyek.

Reizaldi mengingatkan bahwa pada saat pelaksanaan pekerjaan pendahuluan lanjutan maupun EPC nanti, tantangan akan jauh lebih berat dan komitmen seluruh perwira PRPP maupun seluruh elemen Proyek GRR Tuban mutlak diperlukan.

“Saya percaya bahwa apa yang kita capai saat ini masih bisa kita tingkatkan kembali, karena tentunya seiring dengan perkembangan proyek apalagi nanti sudah masuk ke fase EPC, pekerjaan akan semakin kompleks yang diiringi dengan potensi bahaya yang semakin besar. Diperlukan kekonsistenan dan kerja keras seluruh perwira PRPP maupun elemen Proyek GRR Tuban untuk memastikan implementasi aspek K3 dengan baik,” pungkas Reizaldi dalam keterangannya.

Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam sambutannya secara daring saat penganugerahan penghargaan menyampaikan, bahwa di tengah upaya pelaksanaan transisi energi, keselamatan pada kegiatan usaha migas harus tetap mendapat perhatian, khususnya pada aspek keefektifan dan efisiensi. Sesuai dengan Undang-Undang Migas, Badan Usaha atau Badan Usaha Tetap (BU/BUT) wajib menjamin keselamatan dan kesehatan kerja, serta pengelolaan lingkungan hidup.

Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap (BU/BUT), Arifin melanjutkan, harus memiliki sistem manajemen keselamatan yang tidak hanya dipahami oleh Top Management akan tetapi juga oleh para pelaksana teknis di lapangan.

“Penjaminan harus dimulai dari komitmen para Pimpinan Tertinggi Perusahaan untuk menempatkan Keselamatan sebagai keharusan dalam setiap lingkup pekerjaan,” tegas Arifin.

Sebagai informasi, megaproyek GRR Tuban menelan investasi senilai US$13,5 miliar atau setara dengan Rp205,05 triliun. Perkembangan proyek sekarang ini masih dalam proses persiapan tahap keputusan akhir investasi atau final investment decision (FID) dengan mitra Rusia, Rosneft Singapore Pte Ltd.

Perkembangan lainnya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) juga sedang mengajukan opsi penambahan mitra kerja strategis baru untuk percepatan proyek GRR Tuban kepada rekanan bisnis Rosneft.

Proyek GRR Tuban sekarang ini juga masih memerlukan sejumlah dukungan terkait infrastruktur dan akses lahan kilang sebagaimana tertuang dalam joint venture agreement antara Pertamina dan Rosneft. Yakni, pembangunan ruas jalan tol ruas Tuban dan rel kereta api dari Babat-Tuban untuk mendukung operasi kilang secara berkelanjutan.

Baca Juga :   Jadi Industri Unggulan, Investasi Petrokimia Bisa Capai US$30 Miliar

Juga pelebaran jalan dan penguatan jembatan existing di ruas Gresik-Tuban. Status saat ini, telah didapatkan persetujuan pelebaran jalan sebesar 3,6 kilometer dari target 10,5 km.

Proyek GRR Tuban berdiri di atas lahan seluas 840 hektar di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Secara umum kilang GRR Tuban terdiri dari total 70 unit dengan 14 unit pengolahan BBM dan 7 unit pengolahan petrokimia, dan sisanya merupakan unit pendukung.

Kilang GRR Tuban sendiri ditargetkan dapat menjadi pemimpin industri dengan margin pengolahan tertinggi dibandingkan dengan kilang lain di Asia Tenggara.

Salah satu inovasi penting yang ditelurkan dari GED GRR Tuban ini adalah penggunaan teknologi high bottom of the barrel conversion yang memungkinkan kilang GRR Tuban dapat mengolah residu atau sisa minyak mentah menjadi material olahan minyak bumi lain yang bernilai tinggi.

Sebagai tambahan kilang GRR Tuban juga diproyeksikan dapat mengolah minyak mentah berat dan mengandung sulfur tinggi yang secara umum dikenal tidak mudah untuk diolah. Selain itu kilang GRR Tuban juga terintegrasi dengan kompleks industri petrokimia yang dapat mengolah material minyak bumi menjadi produk turunan petrokimia seperti styrene, polypropylene, polyethylene, serta produk aromatik.

GED merupakan tahap yang penting dalam persiapan pembangunan kilang GRR Tuban karena kegiatan ini akan menghasilkan gambaran secara spesifik terhadap peralatan kilang dan infrastruktur yang akan dibangun di kilang GRR Tuban. Tingginya kompleksitas kilang GRR Tuban yang mencapai skala 13,3 berdasarkan standar Nelson Complexity Index membuat perancangan GED dilakukan dengan sangat hati-hati dan perhitungan matang.

Pengerjaan GED GRR Tuban menghasilkan total 40.000 dokumen, melibatkan 700 orang tenaga ahli, 105 sesi tinjauan model 3D kilang, serta 345 sesi studi analisis risiko keselamatan dan kerja dengan metode Hazard and Operability Study. Secara total, pengerjaan BED ini menghabiskan lebih dari 2,1 juta jam kerja.

GRR Tuban dirancang memiliki kapasitas pengolahan minyak mentah kurang lebih 300 ribu barel per hari dan produksi petrochemical mencapai 4.250 kilo ton per annum (ktpa). Selain itu, Kilang Tuban juga akan memproduksi bahan bakar minyak (BBM) dengan kualitas Euro V (BBM ramah lingkungan) yaitu gasoline sebesar 80.000 barel per hari dan diesel sebesar 98.000 barel per hari.

Proyek GRR Tuban akan menyerap tenaga kerja sebanyak 20.000 orang pada saat konstruksi, dan 2.500 pada saat mulai beroperasi.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *