Kilang TWU Bersiap Operasi Kembali, DPRD : Ini Akan Gerakkan Perekonomian Bojonegoro

Kilang TWU.
CEO TWU, Rudy Tavinos menjukkan kilang minyak mini di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur saat masih operasi.

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – Kilang Tri Wahana Universal (TWU) di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur telah memperoleh pasokan minyak mentah 15.000 barel per hari (Bph) dari lapangan Banyu Urip, Blok Cepu. DPRD Bojonegoro menyambut baik akan beroperasinya kembali kilang mini yang sempat mati suri tersebut.

“Tentu kami senang jika kilang mini TWU beroperasi kembali,” kata Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri kepada suarabanyuurip.com, Jumat (27/10/2023).

Menurutnya, dengan beroperasinya kembali kilang mini TWU ini akan mampu menyerap tenaga kerja lokal, sehingga dapat mengurangi pengangguran di Kabupaten Bojonegoro. Sebab jumlah pengangguran sekarang ini bertambah pascaselesainya proyek gas Jambaran – Tiung Biru (JTB).

“Rekrutmen tenaga kerja di TWU harus dilaksanakan secara transparan agar tidak menimbulkan gejolak sosial masyarakat,” pesan Lasuri.

Selain mampu menyerap tenaga kerja lokal, lanjut Lasuri, beroperasinya kembali kilang mini TWU juga akan membuka peluang usaha bagi warga sekitar. Mulai dari jasa pengangkutan hasil produksi kilang, warung makan minum, rumah kos, laundry, dan lain sebagainya.

“Ini akan menggerakkan perekonomian Bojonegoro, khususnya di sekitar kilang mini,” tegas politi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Oleh karena itu, komisi dewan yang membidangi masalah migas ini berharap ada tambahan pasokan minyak mentah dari lapangan Banyu Urip, Blok Cepu untuk kilang TWU. Agar TWU bisa beroperasi dengan durasi waktu yang panjang.

Baca Juga :   Sebut Suhu Panas Sekitar Ladang Migas Blok Cepu Meningkat

“Sehingga semakin banyak tenaga kerja lokal yang dipekerjakan dan multiplier efeknya bisa dirasakan warga sekitar,” tandas Lasuri.

Kilang TWU.
Kilang TWU melibatkan perusahaan lokal dalam jasa transportasi pengangkutan BBM saat masih beroperasi.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Hudi D. Suryodipuro sebelumnya menyampaikan, bahwa Kilang TWU telah memperoleh alokasi minyak mentah bagian negara dari lapangan Banyu Urip, Blok Cepu sebesar 15.000 bph.

“Pasokan MMBUBN kepada TWU up to 15.000 barrel/day,” kata Hudi dikonfirmasi secara terpisah.

Hudi, panggilan akrabnya, menjelaskan skema komersialisasi Minyak Mentah Bnyu Urip bagian Negara (MMBUBN) di wilayah kerja (WK) Cepu dengan kilang PT TWU saat ini adalah election in kind. Dengan penerapan skema ini, maka penjual MMBUBN adalah PT Pertamina (Persero).

“Pasokan MMBUBN di WK Cepu kepada PT TWU dilakukan melalui B to B atau business-to-business oleh TWU kepada PT Pertamina (Persero) selaku penjual yang ditunjuk oleh SKK Migas,” tegasnya.

Hudi menambahkan, dengan beroperasinya kembali kilang PT TWU diharapkan dapat mendukung ketahanan energi nasional dan memberikan dampak positif serta multiplier effect terhadap perekonomian lokal maupun nasional.

“Juga meningkatkan pendapatan asli daerah serta pendapatan pajak untuk negara,” tegasnya.

Untuk diketahui, Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta pada 2017 lalu, keberadaan kilang mini TWU dapat memberikan nilai tambah ekonomi sebesar Rp1,3 triliun di tingkat Kabupaten Bojonegoro, Rp2,6 triliun di tingkat Provinsi Jawa Timur, dan Rp9,8 triliun secara nasional.

Baca Juga :   Realisasi Produksi Minyak Jabanusa Lampaui Target

Selain itu, dari sisi tenaga kerja, multiplier effect pengoperasian kilang mini TWU mampu menciptakan lapangan kerja sebanyak 5.344 orang di tingkat Kabupaten Bojonegoro, 27.213 orang di tingkat Provinsi Jawa Timur, dan sebanyak 112.196 orang di level nasional.

Juga meningkatkan pendapatan rumah tangga sebesar Rp112,7 miliar di tingkat kabupaten Bojonegoro, Rp327,4 miliar di level provinsi, dan Rp10,4 triliun secara nasional, dan secara tidak langsung mengurangi impor BBM, sehingga bisa mengurangi beban subsidi. Sebab alokasi minyak yang diolah TWU mengurangi jatah impor BBM sejumlah yang sama.

Ada empat jenis bahan bakar yang diproduksi Kilang TWU untuk kebutuhan industri. Yakni High Speed Diesel (HSD) atau gas oil adalah fraksi yang lebih berat dari kerosene, Straight Run Gasoline (SRG) atau naphtha adalah nama umum yang digunakan dalam industri pengilangan minyak bumi untuk hasil cair paling atas dari at – mospheric distillation units (ADU).

Kemudian VTB/LSWR oil untuk burner pada furnace dan pembangkit listrik, mesin uap dan lain-lain. Serta memproduksi Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO).

Namun, kilang TWU berhenti operasi karena tidak mendapat pasokan minyak mentah dari Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu sejak akhir Januari 2018.(suko)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA BANYUURIP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *