SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro – Sebagai penghasil minyak dan gas bumi (Migas), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, melalui Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disdagkop UM) memiliki komitmen besar untuk memastikan keberadaan industri Migas memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat di bumi Angling Dharma sebutan lain Bojonegoro.
Salah satu fokusnya adalah mendorong tumbuhnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan berdaya saing.
”Kami melakukan berbagai upaya mulai dari pelatihan usaha, pendampingan legalitas, fasilitasi pemasaran, penguatan koperasi, hingga membantu akses pembiayaan dan kemitraan usaha. Agar UMKM di sekitar kawasan migas mampu tumbuh menjadi penopang ekonomi lokal yang berkelanjutan,” kata Sekdin Disdagkop UM, Ahmadi, kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (19/05/2026) kemarin.
Keberadaan industri migas, lanjut Ahmadi, harus mampu menciptakan multiplier effect bagi masyarakat sekitar. Migas merupakan sektor strategis, namun sifatnya terbatas dan tidak selamanya bisa menjadi sumber utama ekonomi daerah.
Oleh sebab itu, pemberdayaan UMKM menjadi langkah penting di kawasan sekitar migas, agar masyarakat memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan. Dengan UMKM yang kuat, ekonomi masyarakat akan lebih mandiri, lapangan kerja bertambah, dan kesejahteraan dapat dirasakan lebih merata.
”Kami ingin pembangunan di Bojonegoro tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi juga pada kekuatan sumber daya manusianya,” ujarnya.

Dijelaskan, bahwa Bojonegoro memiliki potensi yang sangat besar. Beberapa usaha yang potensial dikembangkan antara lain industri makanan dan minuman olahan, kerajinan lokal, konveksi, meubel, batik khas Bojonegoro, pengolahan hasil pertanian, hingga usaha jasa penunjang industri.
”Selain itu, usaha pendukung kawasan migas seperti katering, laundry industri, penyedia alat keselamatan kerja, percetakan, logistik lokal, dan bengkel teknik juga memiliki peluang yang cukup baik untuk dikembangkan oleh masyarakat sekitar,” ucapnya.
Disinggung bagaimana strategi Disdagkop memastikan UMKM ini mampu menyerap tenaga kerja lokal. Ahmadi menyampaikan, bahwa strateginya adalah memperkuat UMKM agar mampu naik kelas dan berkembang secara berkelanjutan. Ketika usaha berkembang, otomatis kebutuhan tenaga kerja juga meningkat.
”Kami mendorong pelaku UMKM untuk meningkatkan kualitas produk, manajemen usaha, serta pemanfaatan teknologi digital agar pasar mereka semakin luas. Prinsipnya, kami ingin pertumbuhan UMKM ini benar-benar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” jelasnya.
Kendati, tak dapat dipungkiri adanya tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan UMKM tersebut. Antara lain peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pelaku usaha, akses pemasaran, kemampuan adaptasi teknologi, hingga konsistensi kualitas produk. Selain itu, sebagian UMKM masih menghadapi keterbatasan modal usaha dan legalitas usaha.
”Kami terus berupaya melakukan pendampingan secara bertahap agar UMKM di Bojonegoro semakin siap bersaing, baik di pasar lokal maupun nasional,” katanya.

Pihakmya berharap program pemberdayaan UMKM ini dapat berjalan secara berkelanjutan dan melibatkan kolaborasi banyak pihak, baik pemerintah, perusahaan migas, perbankan, akademisi, maupun masyarakat sendiri.
”Harapannya UMKM Bojonegoro tidak hanya tumbuh dari sisi jumlah, tetapi juga kualitas dan daya saingnya. Kami ingin lahir lebih banyak UMKM yang kuat, mandiri, mampu menciptakan lapangan kerja, serta menjadi kebanggaan daerah,” imbuhnya.
Secara umum, kata Ahmadi, jumlah UMKM di Kabupaten Bojonegoro saat ini mencapai puluhan ribu pelaku usaha yang tersebar di berbagai sektor usaha. Untuk wilayah sekitar kawasan migas seperti Banyu Urip, Kedung Keris, Blok Cepu, Gas JTB, maupun Sukowati, jumlah UMKM juga terus berkembang setiap tahunnya. Sebagian besar bergerak di bidang perdagangan, makanan olahan, jasa, kerajinan, dan usaha rumah tangga lainnya.
”Data ini terus kami lakukan pembaruan melalui pendataan dan pembinaan secara berkala agar program pemberdayaan yang dilakukan bisa lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Pihaknya mengajak masyarakat Bojonegoro untuk terus semangat berwirausaha, meningkatkan kreativitas, dan tidak takut untuk berkembang. Potensi Bojonegoro sangat besar, dan tentu percaya masyarakat memiliki kemampuan untuk maju dan mandiri.
Pemerintah hadir untuk mendampingi dan membuka peluang, namun keberhasilan tentu juga membutuhkan kemauan, kerja keras, dan semangat gotong royong dari seluruh masyarakat.
”Semoga UMKM Bojonegoro semakin maju, produknya semakin dikenal luas, dan mampu menjadi penggerak utama ekonomi daerah menuju Bojonegoro yang lebih makmur dan membanggakan,” pungkasnya.(fin)





