Adanya Struktur Baru, Jembatan Glendeng Lebih Kuat

Jembatan Glendeng
Pembatas ruang kendaraan setinggi 2,8 meter dipasang dan pembatasan tonase kendaraan diberlakukan untuk mencegah kerusakan jembatan.

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Tuban — Jembatan Glendeng penghubung antara Desa Simo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban dengan Desa Kalirejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang resmi dibuka konon lebih kuat dengan adanya struktur baru.

Tim Leader Konsultan Pengawas Rehabilitasi Jembatan Glendeng, Ir. Nanang Edi Sularno mengatakan, guna memperkuat Jembatan Glendeng, digunakan mutu beton fc 30 pada struktur atas.

“Begitu juga untuk struktur bawahnya kami gunakan juga beton fc 30 mulai bore pile, ada foot path-nya, dan kemudian ada struktur portal, nah ini yang masih jarang digunakan,” kata pria asli Banyuwangi ini kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (01/02/2024) kemarin.

Rancangan teknik tersebut diberlakukan sebab berkaca pada pengalaman sebelumnya jembatan itu mengalami patah tiang pancang. Sehingga untuk membangun seperti pada struktur yang semula mustahil dilakukan sebab adanya tiang pancang, jadi tidak mungkin ditanam tiang pancang lagi.

“Makanya kami buat perletakan diperlebar dengan struktur portal itu, ini yang memungkinkan kami bisa bekerja tidak di struktur lama,” ujarnya.

Ir. Nanang Edi Sularno.
Team Leader Konsultan Pengawas Rehabilitasi Jembatan Glendeng, Ir. Nanang Edi Sularno.

Nanang mengaku sempat mengalami kesulitan karena jenis tanah yang dilakukan bore pile tergolong pekat atau liat. Ini berakibat molornya pengerjaan dari target awal karena sulitnya pengeboran.

Baca Juga :   Menjaga Ketahanan Energi, Memulihkan Bumi

Struktur tanah clay saking liatnya hingga menempel pada peralatan, membuat pelaksana harus mendatangkan dua alat bore pile untuk sisi kiri dan kanan sekaligus. Sebab jika sisi sebelah kiri berhasil, maka sisi sebelah kanannya rusak, demikian seterusnya.

“Target bore pile yang seharusnya satu hari dapat satu, karena kesulitan itu jadi molor tiga sampai lima hari, padahal ada 28 bore pile di jembatan ini,” terangnya.

Pondasi bore pile itu menyentuh hingga kedalaman 40 meter di bawah tanah untuk bisa mencapai kekuatan menopang struktur jembatan. Sehingga dengan begitu bakal menjadikan jembatan tahan beberapa puluh tahun kedepan.

“Kami berupaya sebisa mungkin agar mendekati desain jembatan agar mampu bertahan 50 tahun,” ucapnya.

Pondasi bore pile dibangun sedalam lebih dari 40 meter untuk menopang struktur baru jembatan.

Pihaknya juga memasang pembatas ruang kendaraan setinggi 2,8 meter untuk mencegah kerusakan jembatan berulang. Tak hanya itu, di depan bore pile dipasang beton shotcrate yang berguna menahan apabila terjadi banjir tidak langsung menghantam struktur portal.

“Jadi ada pengaman portal,” tandas alumnus Universitas Merdeka Malang ini.

Baca Juga :   Dumai Expo 2024 Ajang Edukasi dan Kontribusi Hulu Migas untuk Masa Depan

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman (PUPR PRKP) Tuban, Agung Supriyadi menyatakan, struktur Jembatan Glendeng diperhitungkan mampu bertahan selama 50 tahun.

“Karena jembatan ini sudah di bore pille sedalam 48 meter, harapan kami bisa dipergunakan selama-lamanya,” ucap Agung.

Baik kendaran roda dua dan roda empat sudah bisa melewati jembatan itu, namun dengan catatan, yakni sebab letak jembatan berada pada jalan kelas III atau jalan kabupaten, maka sesuai aturan terbatas pada kendaraan dengan berat maksimal 8 ton yang bisa melewati jembatan rehabilitasi ini.

Proyek rehabilitasi jembatan Simo Glendeng ini menelan anggaran APBD Tuban 2023 sebesar Rp20,8 miliar. Pada saat jembatan resmi ditutup pada 3 Agustus 2023 silam, pengguna jalan dari wilayah Kecamatan Rengel, Plumpang, dan Kecamatan Soko, Tuban ke Bojonegoro harus memutar ke arah Ponco di wilayah Kecamatan Parengan.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *