Peta Pilkada Bojonegoro 2024 : Wahono – Farida ?

Pilkada Bojonegoro.
Wahono - Farida.

Oleh : d suko nugroho

Dinamika politik tidak ada yang abadi. Politik berjalan dinamis dan bisa berubah-ubah. Tidak terkecuali kondisi perpolitikan di Kabupaten Bojonegoro menjelang Pilkada (pemilihan kepala daerah). Pilkada Bojonegoro akan berlangsung pada 27 November 2024.

Peta perpolitikan di Kabupaten Bojonegoro dapat berubah sangat cepat. Bahkan bisa berubah 180 derajat. Itu bisa terjadi jika Setyo Wahono maju dalam kontestasi pesta demokrasi lima tahunan. Wahono adalah adik kandung Menteri Sekretaris (Mensesneg), Pratikno : tangan kanan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Wahono asli Bojonegoro kelahiran Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo. Ia pernah menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bojonegoro dua periode, namun memutuskan mengundurkan diri pada September 2016. Usai mundur dari anggota KPU Bojonegoro, Wahono banyak menjalankan bisnis. Wahono pernah menjadi Ketua Tim Pemenangan Jokowi – Ma’ruf Amin di Bojonegoro. Sekarang ini ia menjabat salah satu direksi di PT Samator Gas.

Wahono selama ini memang belum banyak dikenal masyarakat. Ia belum pernah menduduki jabatan strategis seperti anggota DPRD, pengurus partai politik, pengurus organisasi masyarakat (Ormas) dan organisasi keagamaan. Nama Wahono masih awam ditelinga masyarakat akar rumput. Namun begitu terkenal di elit pejabat di Bojonegoro.

Meski bukan elit parpol, Wahono jadi incaran beberapa bakal calon kontestan Pilkada Bojonegoro. Di antaranya mantan Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah. Anna pernah melamar Wahono untuk dipinang menjadi calon wakil bupati (Cawabup). Permintaan itu disampaikan Anna kepada keluarga Dolokgede pada lebaran 2023 lalu. Namun lamaran Anna ditolak.

Kemudian Nurul Azizah. Wanita yang saat ini menjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro itu kerap melakukan pendekatan ke keluarga Dolokgede. Bahkan, tersiar kabar, Nurul rela menjadi Cawabup Wahono di Pilkada Bojonegoro 2024. Namun, sampai hari ini belum ada sinyal hijau yang diberikan dari keluarga Dolokgede.

Ada ketakutan dan kekawatiran dari bakal calon kontestan jika Wahono maju mencalonkan diri dalam Pilkada Bojonegoro 2024. Artinya, Wahono dinilai memiliki kekuatan besar di mata elit Bojonegoro yang bisa memenangkan Pilkada.

Ada beberapa alasan Wahono bisa dicalonkan sebagai Bupati Bojonegoro dalam Pilkada 2024. Pertama, untuk menjaga kepentingan pusat, karena Bojonegoro menjadi tulang punggung energi Indonesia. 30 persen produksi migas nasional dipasok dari Bojonegoro. Kepentingan pusat terhadap Bojonegoro sangat besar. Kepentingan menjaga iklim investasi dan mensukseskan program-program strategis nasional. Seperti pembangunan pabrik methanol, jalan tol Ngawi – Bojonegoro – Tuban (Ngaroban), serta bendungan Karangnongko dan pembangunan kawasan ekonomi khusus atau kawasan Cepu Raya yang lokasi keduanya berada di perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Kedua, jika Wahono yang maju dalam Pilkada Bojonegoro akan mampu mengembalikan kondusifitas Bojonegoro. Ia bisa meredam konflik kepentingan yang terjadi di elit Bojonegoro selama lima tahun belakangan ini. Wahono akan mudah diterima elemen masyarakat mulai dari elit parpol, organisasi keagamaan, ormas, birokrasi, pengusaha, kepala desa, perangkat desa, dan lainnya karena selama ini dia tidak terlibat dalam konflik interest. Sehingga ia akan bisa lebih mudah merangkul, berkolaborasi dan bersinergi untuk menjaga iklim investasi dan mensukseskan PSN.

Baca Juga :   Di Balik Ritual Tahunan Banjir Bandang Rengel Tuban

Ketiga, Wahono lebih bisa memajukan dan mensejahterakan masyarakat Bojonegoro. Dari latar belakangnya sebagai pebisnis dan merupakan adik kandung Mensesneg, akan lebih mudah menarik investor besar untuk mengembangkan bisnisnya di Bojonegoro. Baik itu industri hilir migas, industri pupuk, industri pertanian, peternakan, perkebunan, perdagangan, dan sektor lainnya. Sehingga dapat membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan bagi rakyat Bojonegoro untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan yang masih tinggi.

Selain itu, Wahono akan lebih mudah berkomunikasi dengan pemerintah pusat untuk menyeleraskan program-program prioritas di Bojonegoro seperti penanganan stunting, kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan dan beberapa program lainnya. Program pemerintah pusat akan bisa memperkuat program priotas Bojonegoro. Apalagi kekuatan APBD Bojonegoro sekarang ini mencapai Rp8,7 triliun.

Berpasangan dengan Farida

Farida Hidayati adalah anggota DPR RI periode 2019 – 2024. Ia pernah menjadi Wakil Ketua III PKK Kabupaten Bojonegoro periode 2018 – 2023. Farida juga pernah menjadi pengurus Bidang Hukum dan Litbang Ikatan Notaris Indonesia, pengurus daerah Bojonegoro periode 2017 – 2022.

Nama Farida tidak asing bagi masyarakat Bojonegoro. Selain pernah menjabat anggota DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Bojonegoro dan Tuban, ia juga mencalonkan legislatif di dapil yang sama pada 2024. Tapi Farida gagal lolos ke Senayan.

Skenario dipilihnya Farida sebagai calon wakil bupati (Cawabup) berpasangan dengan Wahono dalam Pilkada Bojonegoro 2024 memiliki beberapa alasan. Pertama, Farida merupakan kader PKB dan masih keluarga dengan mantan Bupati Bojonegoro periode 2018 – 2023, Anna Mu’awanah. PKB merupakan pemenang Pileg di Bojonegoro dengan mengantongi 13 kursi. Perolehan suara PKB yang dominan ini akan menjadi kekuatan di parlemen untuk mengawal program-program.

Belum lagi ditambah partai yang akan mengusung Wahono. Bisa saja Wahono akan berangkat dari PDI-Perjuangan atau Gerinda. Ditambah beberapa koalisi partai lainnya yang mengusung Prabowo – Gibran di Pilpres 2024.

Kedua, Farida bisa meredam konflik interest, karena selama ini tidak pernah ‘bermusuhan’ dengan elit parpol, ormas, birokrasi, kepala desa dan elemen masyarakat lain di Bojonegoro. Sehingga akan mudah membangun dan menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk menjaga kondusifitas Bojonegoro.

Ketiga, Farida merupakan jawaban aspirasi sebagian besar masyarakat Bojonegoro: Pokok e Bupatine Ojo Anna. Isu ini setiap hari menggelembung semakin besar di kalangan masyarakat, khususnya yang pernah dikecewakan Anna Mu’awanah selama menjabat Bupati Bojonegoro. Artinya jika Anna tetap maju dalam kontestasi dan terpilih menjadi bupati kembali bukan tidak mungkin akan menjadikan situasi Bojonegoro semakin tidak kondusif dan dapat mengancam program-program strategis nasional di Bojonegoro.

Baca Juga :   Debat Berpotensi Ricuh Kembali, KPU Bojonegoro Disarankan Fokus ke Penghitungan Suara

Begitu juga dengan isu Asli Bojonegoro yang diusung Nurul Azizah. Isu ini tidak bisa dianggap sepele, karena gelombang dukungan terhadapnya semakin hari semakin besar di penjuru wilayah Bojonegoro. Namun dengan majunya Wahono dapat mengakomodir harapan warga. Wahono asli Bojonegoro.

Mengapa Tidak Menggandeng Anna atau Nurul

Dipilihnya Farida Hidayati mendampingi Wahono sebagai Cabup di Pilkada Bojonegoro 2024 untuk menjaga hubungan baik dengan Anna Mu’awanah dan Nurul Azizah. Wahono tidak mau mengecewakan kedua orang tersebut karena selama ini hubungan ketiganya terbangun dengan baik. Selain itu, Wahono ingin mewadahi dua kekuatan besar tersebut untuk membangun Bojonegoro lebih maju dan mensukseskan kepentingan pusat.

Apakah Anna dan Nurul legawa? Tergantung siapa yang memfasilitasi dan berkomunikasi dengan keduanya. Jika cucuk lampah (fasilitator) orang yang tepat, keduanya pasti akan setuju. Sebab, saat ini Anna Mu’awanah telah menjadi anggota DPR -RI terpilih 2024 – 2029, dan Nurul Azizah masih menjabat Sekda Bojonegoro.

Artinya, meskipun Anna tidak maju dalam kontestasi Pilkada Bojonegoro 2024, ia tetap akan menjadi wakil rakyat di Senayan. Toh, Cawabup yang digandeng Wahono dari PKB dan masih kerabat Anna. Anna akan tetap dapat mengawal program-program prioritas pusat di daerah pemilihannya, Bojonegoro dan Tuban.

Alasan kuat DPP PKB tidak akan menjatuhkan rekomendasi ke Anna Mu’awanah salah satunya adalah kegagalannya memenangkan pasangan Anis – Muhaimin (Amin) di Pilpres 2024 di Bojonegoro. Meskipun PKB menjadi pemenang Pileg, suara Amin jeblok.

Begitu juga dengan Nurul Azizah. Meski ia tidak maju dalam kontestasi Pilkada Bojonegoro 2024, tetap akan menjadi Sekda dan bisa mengurus birokrasi. Nurul bisa saja tetap menjadi Sekda Bojonegoro, atau menjadi Sekda Provinsi (Sekdaprov) Jatim. Peran Nurul di birokrasi ini sangat dibutuhkan pasangan Wahono – Farida untuk membantu memajukan Bojonegoro dan mensukseskan program strategis nasional. Apalagi sampai hari ini Nurul belum memiliki partai yang pasti mengusungnya di Pilkada Bojonegoro 2024.

Jika benar pasangan Wahono – Farida maju, maka bisa saja menjadi pasangan tunggal di Pilkada Bojonegoro 2024. Atau ada satu pasangan lagi yang sengaja didirikan. Skenario pasangan Wahono – Farida di Pilkada Bojonegoro 2024 ini bisa saja terjadi jika elit pusat cawe-cawe untuk menjaga kepentingan nasional yang lebih besar.

Penulis adalah wartawan suarabanyuurip.com

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Nek sing di gagas cepu raya, masio aku tonggo deso ne wahono…. Aku ora bakal milih….. Bojonegoro pingin maju, pingin rame….. Lha opo mikir cepu, kui daerah liyo….. Gak masuk.

    Nurul wae wis….. Gak wahono wahononan.