SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Mahasiswa Universitas Bojonegoro (Unigoro) kembali mendapat juara di ajang Bojonegoro Innovative Award (BIA) 2024. Setelah menyabet juara inovasi teknologi bidang pertanian, kini mahasiswa Unigoro kembali menciptakan teknologi untuk sektor perikanan.
Ketiga mahasiswa itu, Nayla Farikha Zahra, Putri Puja Pratiwi, Lilik Setiawan, dan Nanik Fadilatun Nafisa. sukses menjadi juara pertama BIA 2024. Alat pakan ikan otomatis karya mahasiswa teknik industri Unigoro mendapat juara ketiga di BIA 2024. Inovasi berjudul Automatic Smart Feeder Berbasis Teknologi Cerdas untuk Optimalisasi Budidaya Akuatik menjadi solusi untuk efisiensi biaya di sektor perikanan.
Mahasiswa peraih juara di BIA 2024, Nayla Farikha Zahra mengatakan, inovasi pakan ikan otomatis ini berawal dari potensi lokal Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, di sektor budidaya ikan. Alat ini bisa membuat para peternak ikan lebih hemat saat memberikan pakan ikan.
“Pemberian pakan yang kurang terkontrol dari segi jumlah dapat menyebabkan inefisiensi. Apalagi kalau ada sisa pakan yang mengendap di dasar kolam dapat memengaruhi kualitas air dan meningkatkan risiko kematian ikan,” kata Nayla, Selasa (10/12/24).
Dia mengatakan, alat pakan ikan otomatis ini berfungsi menyebarkan pakan dengan jumlah dan intensitas berdasarkan usia ikan. Selain itu, pelaku budidaya ikan juga dapat memantau suhu dan PH air kolam melalui data yang dikirimkan oleh alat tersebut.
Nayla menerangkan, cara kerja alat pakan ikan otomatis ini diawali dengan penerimaan data dari sensor suhu dan PH air yang dikirim secara real time. Kemudian alat itu, akan mengelola pemberian pakan berdasarkan kondisi lingkungan serta menyesuaikan volume pakan sesuai dengan umur ikan.
“Kami membutuhkan waktu enam minggu untuk merangkai sekaligus simulasi alat,” katanya.
Dijelaskan, sebelumnya simulasi dilakukan di kolam berukuran tiga meter dengan benih ikan mas usia 20 hari sebanyak 100 ekor. Setiap harinya ikan diberikan pakan dengan takaran 50 gram dan dilakukan monitoring dari HP menggunakan aplikasi ThingSpeak.
Hasilnya alat ini bisa bekerja dengan baik. Lalu saat ikan berusia lebih dari 30 hari atau di bulan kedua, takaran pemberian pakan ditingkatkan jadi 70 gram per hari.
“Jika pemberian pakannya manual, peternak tidak menghitung secara pasti takarannya sesuai umur ikan. Akhirnya banyak pakan yang mengendap di kolam,” jelasnya.
Meski alat pakan ikan otomatis ini dapat berfungsi dengan baik, lanjut Nayla, dewan juri BIA 2024 memberi beberapa masukan. Di antaranya kapasitas alat harus diperbesar dan dapat menjangkau ujung kolam lainnya.
“Karena untuk budidaya ikan di tambak-tambak sangat luas. Sehingga kapasitas mesinnya harus ditambah lagi. Kami bahkan pernah bertemu peternak ikan lele yang punya kolam seluas dua hektar. Kalau diberi pakai metode manual, pasti harus ada pekerja khusus yang keliling kolam kasih pakan,” pungkas Nayla.(jk)





