Omah Jamur Nasa Kediri Bagikan Tips Merancang Usaha di Fakultas Pertanian Unigoro

Kuliah praktisi Unigoro.
Mahasiswa Unigoro antusias bertanya cara merancang bisnis kepada owner Omah Jamur Nasa Kediri, Darmayana, SP., dan Retno Setya Budi Rahayu saat menjadi dosen praktisi.(foto/ist)

SuaraBanyuurip.com – Prodi Agribisnis Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar kuliah praktisi di Modern Class Fakultas Pertanian Unigoro, Kamis (19/6/25). Kuliah praktisi kali ini mengangkat topik perencanaan usaha di bidang pertanian jamur tiram dari hulu sampai hilir. Prodi tersebut menghadirkan owner Omah Jamur Nasa Kediri, Darmayana, SP., dan Retno Setya Budi Rahayu sebagai praktisi.

Di hadapan mahasiswa, Darma dan Retno menceritakan lika-liku menggeluti usaha budidaya jamur tiram. Perencanaan usaha jamur tiram dari sektor hulu hingga hilir melibatkan seluruh rantai produksi dan distribusi. Diawali dengan menyediakan bahan baku, hingga olahan produk berbahan dasar jamur tiram.

“Di tingkat hulu atau saat kita mulai produksi awal budidaya, kita harus memastikan kualitas jamur yang ditanam bagus. Setelah panen, kita akan masuk ke tahap pengolahan dan diversifikasi produk. Jamur tiram bisa dijual sebagai produk segar dengan umur penyimpanan satu hingga dua hari. Atau diolah lagi menjadi kripik jamur, abon jamur, nugget jamur, dan lainnya untuk menambah nilai jual sekaligus memperpanjang usia produk,” papar Darma.

Baca Juga :   Pesilat Unigoro Raih 10 Medali Kanjuruhan Fighter Competition

Retno melanjutkan, pelaku budidaya jamur harus melengkapi legalitasnya jika memasarkan produk olahan. Yakni memiliki sertifikat NIB, PIRT, dan Halal. Di tingkat hilir, pihaknya melakukan mapping konsumen agar produk jamur segar dapat terjual hari itu juga. Omah Jamur Nasa Kediri juga bekerja sama dengan catering, restoran, hotel, toko ritel, dan pelaku UMKM lainnya sebagai supplier. “Intinya kita harus berani berkolaborasi. Terlebih yang kita jual adalah produk segar,” imbuhnya.

Kuliah praktisi agribisnis Unigoro yang dimoderatori oleh M. Yusuf Dawud, SP., MP., berlangsung interaktif. Beberapa mahasiswa juga melontarkan pertanyaan terkait bagaimana cara menstabilkan jumlah jamur yang dipanen sesuai permintaan pasar.

Retno menjelaskan, pelaku budidaya harus bisa menghitung masa tanam sekaligus masa panen jamur. Dia mencontohkan, jamur tiram putih memiliki masa tanam 20 hingga 30 hari. Dari 1.000 baglog, biasanya terkumpul 10 kilogram (kg) jamur tiram siap panen. Pelaku budidaya sebaiknya tidak memanen semua baglog di hari yang sama.

“Intinya kita harus pandai-pandai mengenali masa tumbuh dan panen jamurnya. Agar kita tetap bisa memenuhi permintaan harian dengan stabil,” tandasnya.(red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *