Jumlah Penduduk Bertambah, Timbulan Sampah di Bojonegoro Meningkat Setiap Tahun

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi tumpukan sampah.

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Jumlah timbulan sampah di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus meningkat setiap tahun. Peningkatan inii terjadi seiring bertambahnya jumlah penduduk di kabupaten penghasil minyak dan gas bumi (Migas) tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Luluk Alifah mengatakan, peningkatan jumlah timbulan sampah menjadi salah satu tantangan pembangunan yang berbasis lingkungan.

“Sepanjang empat tahun terakhir timbulan sampah baik volume maupun berat terus mengalamii peningkatan,” katanya kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (12/7/2025).

Pada 2020 timbulan sampah di Kabupaten Bojonegoro seberat 189.402,15 ton per tahun. Lalu padaa tahun 2021 meningkat menjadi 195.609,49 ton per tahun.

Kemudian, grafik timbulan sampah pada 2022 mencapai 196.101,94 ton per tahun. Meningkat pada tahun 2024 seberat 199.006.47 ton per tahun.

“Timbulan sampah ini meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dii Kabupaten Bojonegoro,” ungkap Luluk Alifah.

Dijelaskan, bahwa sumber timbulan sampah di Kabupaten Bojonegoro terdiri dari sampah rumah tangga, aktivitas komersial, fasilitas umum,, maupun industri.

Baca Juga :   Berawal Iseng Posting di Medsos, Sriani Sukses Kembangkan Usaha Opak Singkong

Pengolahan sampah, lanjut dia, masih menjadi tantangan lingkungan di Kabupaten Bojonegoro. Permasalahan persampahan ini masih terjadii, karena saat ini memang belum ada pemilahan sampah dari sumber.

“Masih banyak titik pembuangan sampah liar (illegal dumping),, pembakaran sampah dan pembuangan sampah di bantaran sungai,” jelasnya.

Kendati, dalam hal upaya pembangunan berbasis ekologi, pihaknya mengaku telah melakukan berbagai hal diantaranya, penyusunan dokumen kajian lingkungan hidup strategis, inventarisasi gas rumah kaca, pembentukan bank sampah, sekolah Adiwiyata, desa/kelurahan proklim/berseri.

“Serta pengolahan sampah berbasis TPS 3R yaitu, Reduce atau Mengurangi, Reuse atau Menggunakan Kembali, dann Recycle atau Mendaur Ulang,” tandas Luluk Alifah.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Dorong (wajibkan lewat perbub) supaya kades buat perdes untuk kelola sampah, saya juga muris dengan isi sungai sekarang, dulu th 80an saya mandi dikali, bisa salto, nyelam, betapa segarnya air, sekarang boro-boro salto kalau kepala tidak mau retak Krn air tinggal sebetis, nyelam yg dilihat plastik diujung ke ujung, mau kumur bisa telan itu kotoran pampres, dihulu juga begitu hutan babat terus akibatnya kunci, dander, Sumberarum, banjir bandang, mumpung blm sangat telat bukadis lh tolong pikir itu semua rangkul kelompok pecinta alam/lingkungan