Terdampak Kemarau Basah, 3.403 Hektar Tanaman Tembakau di Bojonegoro Mati

Petani tembakau terdampak kemarau basah.
Tanaman tembakau petani di Bojonegoro terdampak kemarau basah.

SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro

Bojonegoro – Dampak kemarau basah dirasakan petani tembakau di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Sedikitnya 3.403 hektare tembakau milik petani mati di usia muda karena kerap diguyur hujan.

Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP) Ahli Muda Subkor Tanaman Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Bambang Wahyudi menyampaikan, kemarau basah mengancam tanaman tembakau milik petani.

“Banyak tanaman tembakau mati di usia muda, sehingga merugikan petani,” katanya kepada suarabanyuurip.com, Rabu (16/7/2025).

Dia mengatakan, berdasar laporan diterima DKPP Bojonegoro, terdapat sembilan kecamatan yang menjadi sentra tembakau terdampak hujan. Di antaranya Kecamatan Padangan, Sumberrejo, Temayang, Kasiman, Sugihwaras, Baureno, Sukosewu, dan Kedungadem.

“Dari luasan sekitar 9.000 hektare di sembilan kecamatan itu, 3.403 hektare mati karena hujan. Lahan yang ditanami tembakau banjir, akibatnya tembakau layu dan mati,” ungkapnya.

Yudi menyampaikan, kondisi cuaca sangat mempengaruhi tanaman tembakau. Bahkan akibat fenomena kemarau basah ini, para petani harus kembali menanam tembakau tiga hingga tujuh kali.

Baca Juga :   Olah Sampah Jadi Berkah, Bojonegoro Raih Adipura

“Petani sudah pasti rugi karena semua tembakau yang ditanam mati. Karena tembakau juga mengandalkan panas matahari,” ujarnya.

Salah satu petani tembakau di Desa Bulu, Kecamatan Sugihwaras Sukijan mengeluh karena tanaman tembakau miliknya banyak yang layu, dan dipastikan bakal mati.

“Tanaman tembakau saya sekitar 5 hektare. Kemarin setelah sore diguyur hujan, pagi harinya langsung layu,” keluhnya.

Ahli Pertanian Universitas Bojonegoro (Unigoro), Darsan sebelumnya menyarakan kepada petani tembakau menggunakan mulsa plastik. Cara ini dinilai bisa menghindari gagal panen akibat fonomena kemarau basah.

“Mulsa plastik ini berfungsi melindungi tanah. Selain itu, petani juga bisa membuat bedengan yang lebih tinggi dari permukaan tanah,” ujar Dekan Fakultas Pertanian Unigoro ini.

Darsan menjelaskan, tanaman tembakau idealnya ditanam di musim kemaru. Tapi saat ini hujan masih turun di beberapa wilayah Kabupaten Bojonegoro.

Dampaknya, lanjut dia, saat daun tembakau terkena hujan otomatis kandungan nikotin atau klelet akan turun dan luntur ke tanah. Ketika dipanen warna daunnya pun tidak bisa kuning keemasan seperti saat musim kemarau. Sehingga akan memperngaruhi kualitas dan harga jual tembakau.

Baca Juga :   Kolaborasi Berdayakan UMKM, PSHT Ranting Sukosewu Bojonegoro Bagikan Takjil

“Idealnya, tembakau ditanam mulai bulan Mei hingga Juni. Sehingga petani bisa memetik atau memanen tembakau pertamanya di musim kemarau,” katanya.(jk)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait