Mantan Tenaga Kerja Gas JTB Sukses Usaha Rajangan Tembakau Kering

Perajangan tembakau
Para ibu-ibu rumah tangga sedang beraktivitas menata dan mencampur rajangan tembakau yang dikelola oleh Sugianto warga Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Mantan tenaga kerja gas JTB sukses menekuni usaha rajangan tembakau kering untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Bahkan mampu membuka peluang kerja bagi warga lingkungannya terlibat dalam pengelolaan. Dia adalah Sugianto, warga Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

SENJA masih belum beranjak kerembang petang. Segumpal awan berjalan beriringan digendong angin. Sang digdaya tampak bergerak pelan ke peraduan. Sinarnya yang masih terasa panas timbul tenggelam dijilat gugusan awan.

Tampak sekelompok perempuan sedang beraktivitas menata dan mencampur rajangan tembakau di atas anyaman bambu atau widik di halaman rumah berukuran 4 x 12 meter, berdinding bata putih.

Datang laki-laki berkulit sawo matang mengangkat rajangan tembakau yang telah ditata di atas widik untuk dijemur. Dia adalah Sugianto, warga Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Mantan tenaga kerja lapangan gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) ini seakan tak menghiraukan panasnya sinar matahari yang masih terasa menggores kulit. Dengan cekatan tangannya mengangkat rajangan tembakau yang sudah kering dijemur untuk diganti rajangan yang baru.

“Sudah biasa kena sinar matahari, jadi tidak kaget lagi. Justru senang kalau cuaca panas seperti ini agar rajangan tembakau yang dijemur cepat kering,” kata Sugianto, kepada Suarabanyuurip.com disela-sela menjemur rajangan tembakau, Jumat (10/10/2025) kemarin.

Perajangan tembakau
Para pekerja cekatan saat melakukan aktivitas perajangan tembakau yang dikelola Sugianto.

Sembari mengusap keringat di wajahnya, Sugianto mengaku, usaha merajang tembakau baru dilakukan tahun ini, namun menjadi penjual daun tembakau sudah dijalani sejak tiga tahun silam.

‎Menekuni usaha merajang tembakau tidak semudah membalik telapak tangan. Sebab, selain butuh modal puluhan juta untuk beli daun tembakau, alat perajang, widik, dan upah pekerja, juga bisa mengantisipasi naik turunnya harga dan cuaca yang kerap tak menentu agar tidak mengalami kerugian.

Baca Juga :   Petani Bojonegoro Mulai Semai Bibit Tembakau

‎”Modal awal saja sudah Rp30 juta, ini baru untuk beli pasah (alat perajang) dan widik, belum untuk beli daun tembakau dan upah pekerja ya,” ujarnya.

Warga desa penghasil Gas JTB ini mengaku, untuk beli daun tembakau tidak bisa ditarget menghabiskan modal berapa, karena harga per kilogramnya bervariasi melihat kondisi daunnya baik apa tidak dan juga cuaca habis hujan apa tidak. Harga di petani ada yang Rp2.000 per kilogram (kg) dan ada yang kurang dari Rp2.000 per kg. Namun, rata-rata saat ini harganya tinggal Rp1.800 per kg.

‎”Kulakan 1 ton daun tembakau, dirajang tinggal jadi 1 kuintal lebih rajangan kering. Dalam 1 ton tembakau, rata-rata butuh waktu 4 jam untuk menyelesaikan merajang,” tuturnya.

“Jika cuaca bagus sehari semalam rajangan tembakau sudah kering dan langsung dilakukan penggulungan siap jual. Usaha yang saya lakukan ini mandiri ya tidak ada bantuan dari pihak lain,” lanjutnya.

Sekali jual di pengepul, kata pria yang karib disapa Monok ini, tidak bisa dipastikan. Karena melihat kondisi jumlah kulakan daun tembakau yang diperoleh. Kadang bisa 4 sampai 5 kuintal. Dengan harga per kg pernah mencapai Rp42.000, dan sekarang turun tinggal Rp31.000 per kg.

‎”Saya tidak jual langsung ke pabrik, tapi diambil oleh pengepul. Dalam satu minggu bisa jual dua sampai tiga kali. Sekali jual, rerata dapat uang Rp6 juta, hasil ini belum kepotong biaya beli tembakau dan upah pekerja, Mas,” jelasnya merincikan.

Baca Juga :   Material ABN Datang Cepat, Proyek BKKD Beged Lancar ‎
Perajangan tembakau
Para pekerja sedang menjemur rajangan tembakau di lahan pertanian yang tak jauh dari tempat perajangan yang dikelola Sugianto.

Dalam pengelolaannya, ia menggunakan tenaga 10 orang warga. Tiga laki-laki sebagai perajang dan penjemur. Tujuh perempuan sebagai penata dan mencampur rajangan tembakau. Sedangkan upahnya, setiap 1 kuintal rajangan kering dihargai Rp400.000 dibagi 10 orang tersebut.

Dipilihnya usaha merajang tembakau dan tidak melanjutkan sebagai tenaga kerja migas, selain sudah lama terjun di usaha jual tembakau, juga ingin mandiri dan membuka peluang kerja bagi warga lainnya untuk meningkatkan perekonomian.

‎”Sehari-hari beraktivitas sebagai petani. Kalau soal keuntungan dari jual rajangan kering jelas ada meski belum maksimal. Tapi seberapapun hasil yang tak dapat saya syukuri saja terpenting tidak merugikan orang lain. Dan cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarga,” imbuh pria yang tergolong sukses dalam menekuni usaha rajangan tembakau kering ini.

‎”Semoga tahun depan harga rajangan kering tembakau terus naik, minimal tidak sering turun. Dengan begitu, maka petani dan pelaku usaha rajangan tembakau dapat meningkatkan ekonominya. Dan alhamdulillah bisa memberdayakan warga sekitar juga, Mas. Meski tidak banyak,” pungkas pria ramah ini.

‎Ditempat yang sama, salah satu pekerja Munta’ah, mengaku senang bisa ikut bekerja menata dan mencampur rajangan tembakau. Karena dapat penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Meski hasil yang didapat tidak pasti karena tergantung seberapa banyak jumlah rajangan tembakau kering yang terkumpul.

‎”Kadang sehari dapat Rp100.000 kadang juga lebih. Tinggal seberapa banyak rajangan kering yang didapat. Karena dibagi juga dengan pekerja lainnya. Alhamdulillah bisa bantu suami mencukupi kebutuhan keluarga. Mudah-mudahan tahun depan rajangan tembakau semakin laku dan harga terus meningkat,” sambung perempuan paruh baya ini.(sami’an sasongko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait