SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Serapan pupuk subsidi jenis organik di Bojonegoro, Jawa Timur baru mencapai 40 persen, padahal sudah memasuki musim tanam kedua. Sedangkan pupuk urea dan NPK serapannya sudah mencapai 50 persen.
Menurut Kepala Seksi Pupuk dan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Tatik Kasiati masih rendahnya serapan pupuk organik ini dikarenakan petani banyak yang memproduksi pupuk kompos sendiri.
“Biasanya selain menanam padi para petani juga beternak. Dari kotoran ternak itu kemudian dibuat kompos untuk memupuk tanaman padi miliknya,” katanya, Rabu (6/8/2025).
Tatik menjelaskan, dari alokasi pupuk organik sebanyak 18.083 ton hingga saat ini baru tersalur 7.957 ton atau baru 40 persen. Sedangkan jenis pupuk seperti urea dan NPK serapannya rata-rata sudah mencapai 50 persen.
Pupuk urea dari alokasi 55.893 ton terserap 30.958 ton, kemudian jenis NPK pagu 42.276 ton terserap 23.844 ton. Sedangkan alokasi pupuk yang didapatkan Bojonegoro 116.207 ton tahun ini, hingga 31 Juli kemarin tersalurkan 62.759 ton.
“Melihat data tersebut pupuk subsidi serapannya paling rendah,” ungkapnya.
Dia berharap alokasi pupuk yang disediakan bisa ditebus oleh petani secara maksimal baik itu jenis urea, NPK hingga organik. Sehingga pupuk subsidi ini nantinya bisa membantu peningkatan produksi pertanian di Bojonegoro.
Salah satu petani di Desa Karangdowo, Kecamatan Sumberrejo, Rondhi menyampaikan, rata-rata petani di wilayah Sumberrejo baru menanam padi. Sehingga belum melakukan penebusan pupuk pada masa tanam kedua di tahun ini.
“Rata-rata petani di wilayah Kecamatan Sumberrejo baru tanam padi,” tambahnya.(jk)





