SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro — Warna air Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur berubah coklat keruh cenderung menghitam beberapa hari belakangan. Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Buana mengeklaim air olahan bersumber dari Bengawan Solo masih aman dikonsumsi.
Perumda Tirta Buana sebelumnya bernama perusahaan daerah air minum (PDAM). Perusahaan pelat merah ini merupakan salah satu pengguna air Bengawan Solo untuk diolah dan didistribusikan ke pelanggan.
Direktur Perumda Tirta Buana Bojonegoro, Khairul Anwar mengatakan, meski kondisi air Bengawan Solo sedemikian rupa, keruh dan berwarna kehitaman, namun pengolahan air yang mengambil dari Bengawan Solo masih berjalan normal.
Khairul menjelaskan, pengolahan air masih normal, karena proses mengolah air dari Bengawan Solo menggunakan bahan kimia yang aman dan tidak berbahaya untuk dikonsumsi. Penggunaan bahan kimia ini disesuaikan dengan kualitas air baku. Sehingga hasilnya masih baik untuk distribusi ke pelanggan.
“Kualitas air baku memang memengaruhi penggunaan bahan kimia dalam proses pengolahan, namun hasil distribusi masih aman,” jelas pria penghobi olahraga tenis meja ini.
Khairul menambahkan, Perusda Tirta Buana memiliki lima titik instalasi pengolahan air yang mengambil air baku dari Bengawan Solo. Yaitu di Kecamatan Padangan, Purwosari, Kalitidu, Trucuk, dan Kanor.
“Untuk air di Padangan dan Purwosari, terlihat lebih pekat karena wilayah tersebut tidak diguyur hujan selama dua pekan terakhir. Namun, kualitas air baku di situ masih dalam batas aman,” tegasnya.

Diwartakan sebelumnya, air Bengawan Solo di sekitar Bendung Gerak, turut Desa Padang, Kecamatan Trucuk Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur tiba-tiba berwarna hitam sejak dua hari (tiga hari hingga sekarang) belakangan ini. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat telah mengambil sampel untuk uji laboratorium untuk memastikan kandungan air.
Sekretaris DLH Kabupaten Bojonegoro, Benny Subiakto membenarkan kejadian tersebut. Pihaknya telah mengetahui ihwal warna air Bengawan Solo yang berwarna hitam dari laporan warga. Untuk itu DLH telah menerjunkan petugas di lokasi.
“Petugas DLH sedang melakukan pengambilan sampel kualitas air sungai untuk di uji dan ini sesuai PP Nomor 22 tahun 2021. Sampel ini kami kirim untuk uji di laboratorium pihak ke tiga di Surabaya, hasilnya baru bisa diketahui sekitar 10 sampai 15 hari ke depan,” tandasnya.(fin)





