SuaraBanyuurip.com – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Jawa Timur, berencana membangun 400 sumur bor di lahan persawahan pada 2026. Pembangunan ratusan sumur bor tersebut untuk mengantisipasi dampak el nino, sekaligus menjaga produksi padi Bojonegoro sebanyak 1 juta ton lebih gabah kering panen (GKP).
Kepala DKPP Bojonegoro, Zaenal Fanani mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan iklim yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM), Bojonegoro akan dilanda El Nino. Artinya, musim kemarau akan berlangsung lebih panjang daripada musim penghujan.
“Sehingga kita telah mempersiapkan beberapa skenario untuk mengantisipasi dampaknya, agar produksi pertanian utamanya padi tetap terjaga,” kata Zaenal saat menjadi narasumber di Dewan Jegrank bertema “Pertanian Kita Dibawa Kemana?”.
Zaenal menjelaskan, skenario yang disiapkan untuk mengantisipasi dampak el nino yakni membangun 400 sumur bor di lahan persawahan. Jumlah tersebut meningkat dari dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) DKPP Bojonegoro tahun 2026 sebanyak 92 sumur bor.
“Sebenarnya saya ingin sebelum pensiun bisa membangun 5.000 sumur bor. Tapi kalau tidak bisa segitu ya 1.000 sumur bor. Biar ada tinggalan fisik untuk petani,” ungkap pria asli Blitar itu.
Bantuan ratusan sumur bor tersebut akan diprioritaskan bagi petani miskin untuk menekan biaya produksi. Selain itu, petani dapat memaksimalkan lahan pertaniannya untuk meningkatkan pendapatan.
“Untuk listriknya nanti menggunakan solar cell. Jadi lebih hemat karena memakai tenaga surya,” terangnya.
Menurut Zaenal, pembangunan ratusan sumur bor tersebut membutuhkan perjuangan. Baik dari sisi anggaran maupun regulasi.
“Regulasi ini menjadi tantangan terberat, karena mmengambil air dari bawah tanah ada regulasinya. Karena itu kita akan koordinasikan masalah perizinannya, mudah-mudahan ada pengecualian untuk pertanian,” tuturnya.
Selain membangun ratusan sumur bor, lanjut Zaenal, DKPP juga akan memberikan bantuan benih padi hibrida. Padi hibrida dinilai dapat meningkatkan hasil panen.
Berdasarkan hasil uji coba yang sudah dilakukan DKPP Bojonegoro di lahan sawah tadah hujan di Desa Gajah, Kecamatan Baureno, produksinya pada musim tanam kedua (kemarau) meningkat 8 ton/ha dari sebelumnya 5 ton/ha. Sedangkan di lahan irigasi produksinya bisa mencapai 13 ton/ha dari sebelumnya 8 ton/ha.
“Selain bisa menjaga produksi, padi hibrida ini bisa meningkatkan pendapatan petani sekitar 1-2 juta setiap kali panen. Untuk itu, kita akan dorong petani memakai hibrida, karena bantuan benih yang kita sediakan terbatas jumlahnya, hanya untuk 2.500 hektar,” tuturnya.
Zaenal menambahkan, DKPP Bojonegoro sekarang ini juga melakukan penelitian bekerja sama dengan bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk budidaya padi gogo dan padi irigasi. Dalam kerja sama ini juga telah dilakukan pembuatan demplot dengan UGM untuk jenis padi Gamagora (gadjah mada gogo rancah). Gamagora adalah varietas padi amfibi, padi unggul yang adaptif untuk menjawab tantangan perubahan iklim.
Sementara, kerja sama dengan IPB berupa budidaya padi di wilayah hutan melalui bakteri penicillium, yang bekerja membuat jel di sekitar akar tanaman sehingga bisa bertahan dalam keterikan. Sehingga tanaman padi di Bojonegoro kedepan tidak hanya terkonsentrasi di lahan irigasi, tapi juga ke lahan hutan.
“Semua yang kita siapkan ini untuk membangun pondasi kuat guna mewujudkan sentra agroindustri Bojonegoro,” pungkas Zaenal.
Petani Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Narto menyambut baik rencana bantuan sumur bor untuk petani. Menurutnya, bantuan tersebut dapat meringankan biaya pengeluaran petani untuk mencukupi kebutuhan pengairan saat tanam, dan bisa meningkatkan hasil pertanian.
“Tapi bantuan somor bor ini harus diprioritaskan untuk lahan sawah tadah hujan yang selama ini kesulitan mendapat air saat musim tanam,” sarannya.(red)



