SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Bencana tanah longsor terjadi di Desa Punggur, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Longsor di wilayah kecamatan sekitar lapangan gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) ini terjadi di tebing Sungai Gandong. Kejadian tersebut ditengarai akibat hujan deras yang mengguyur wilayah setempat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bojonegoro, Heru Wicaksi menjelaskan, longsor terjadi setelah intensitas hujan tinggi, menyebabkan debit Sungai Gandong meningkat dan menggerus tebing sungai.
“Begitu menerima laporan, personel BPBD langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan assessment dan memastikan kondisi warga di sekitar titik longsor,” kata Heru Wicaksi kepada Suarabanyuurip.com.
BPBD Bojonegoro menerima informasi kejadian pada Kamis (15/1/2026) pukul 15.01 WIB sore. Personel kemudian berangkat ke lokasi pukul 15.10 WIB dan tiba sekitar pukul 16.20 WIB. Diketahui longsor terjadi pada Rabu 14 Januari 2026.
Hasil asesmen menunjukkan tebing Sungai Gandong mengalami longsor dengan panjang sekitar 30 meter, lebar 10 meter, dan kedalaman mencapai 2 meter.
Dalam kejadian tersebut, satu rumah warga berada dalam jarak sangat dekat dengan lokasi longsor, sekitar dua meter dari bibir tebing sungai. Meski demikian, tidak ada korban jiwa maupun luka. Pemilik rumah hingga saat ini masih menempati bangunannya dengan kewaspadaan tinggi.

Sebagai langkah awal penanganan, BPBD Bojonegoro menyerahkan satu paket bantuan sembako kepada pemilik rumah yang terdampak langsung. Selain itu, BPBD juga menyarankan Pemerintah Desa (Pemdes) Punggur untuk segera mengajukan surat permohonan penanganan kepada Bupati Bojonegoro dengan tembusan BPBD dan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo.
“Hasil koordinasi dengan Pemdes, kebutuhan mendesak saat ini adalah pemasangan bronjong sebanyak 60 lembar serta 72 meter kubik batu isian bronjong untuk menahan laju erosi sungai,” jelas Heru.
Sementara itu, untuk mengantisipasi risiko longsor susulan, Pemdes Punggur bersama Polsek Purwosari telah memasang garis polisi (police line) di sekitar lokasi kejadian. Warga juga diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi.
Kapolsek Purwosari, AKP Subeki mengatakan, posisi rumah milik Karjan, kini semakin rawan karena jarak bangunan dengan aliran Sungai Gandong tinggal sekitar 10 meter.
Karjan memberikan keterangan kepada polisi jika rumahnya sudah dua kali dipindahkan akibat kejadian serupa pada tahun-tahun sebelumnya.
“Arus sungai mengarah langsung ke rumah korban, sehingga berpotensi menimbulkan longsor susulan,” ungkap AKP Subeki.
Sementara itu, pengamat Sungai Kaligandong dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Bagus Hendriansyah, menyampaikan, bahwa pada Desember 2025 pihaknya telah mengusulkan pembangunan bronjong sepanjang 30 meter di lokasi tersebut.
”Namun hingga kini, usulan belum terealisasi,” bebernya.(fin)





