Bojonegoro Miliki Reservoir Minyak Bumi Terdangkal di Indonesia, Ini Buktinya

Welly Fritama
Kepala Disbudpar Kabupaten Bojonegoro, Welly Fritama kala menyampaikan laporan dalam acara Launching Gedung PIGG Bojonegoro.(arifin jauhari)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas), Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tercatat merupakan penopang kebutuhan energi nasional. Tak hanya itu, Bojonegoro juga memiliki kedalaman reservoir penghasil minyak bumi dengan pengeboran terdangkal di Indonesia. Pun menjadi bukti bahwa struktur petroleum di Bojonegoro aktif secara geologi.

‎Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, Welly Fritama mengatakan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia menerbitkan Surat Nomor: 55.K/HK.P2/MEM.G/2021 tentang Penetapan Kawasan Cagar Alam Geologi Kabupaten Bojonegoro. Dalam keputusan tersebut, Kawasan Cagar Alam Geologi Kabupaten Bojonegoro ditetapkan mencakup lima objek geologi.

‎Objek pertama ialah Petroleum System Wonocolo, Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan. Merupakan batuan reservoir penghasil minyak bumi yang berada pada kedalaman rata-rata sekitar ±100 meter di bawah permukaan tanah.

‎”Kedalaman pengeboran ini tercatat sebagai yang paling dangkal di seluruh Indonesia,” katanya kala membacakan surat tersebut dikutip Suarabanyuurip.com, Jumat (23/1/2026).

‎Objek geologi kedua adalah Struktur Antiklin Kawengan, Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan. Berupa singkapan batuan berlapis yang menjadi bukti keberadaan minyak bumi pada kedalaman dangkal.

Baca Juga :   ‪Ajak Pahami Produksi Migas Secara Tuntas‬
Kedung Lantung
Tim Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) saat meninjau Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, pada 2025.(istimewa)

‎Ketiga, yakni Kayangan Api, di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem. Fenomena geologi berupa sumber api alami yang terjadi akibat keluarnya gas alam melalui rekahan batuan yang tersulut api, serta kemunculan gas pada mata air.

‎Objek geologi ke empat ialah Kedung Lantung, di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras. Merupakan batuan reservoir yang termasuk dalam Formasi Sonde berumur Pliosen Akhir (sekitar 2,9 juta tahun lalu). Objek ini tergolong sebagai reservoir dangkal berumur muda yang jarang dijumpai.

‎Keistimewaan ilmiah Formasi Sonde terletak pada fakta bahwa reservoir hidrokarbon umumnya berkembang pada batuan yang jauh lebih tua (Miosen hingga Oligosen).

‎Reservoir berumur Pliosen Akhir seperti di Kedung Lantung tergolong langka, karena sistem perminyakan biasanya memerlukan waktu geologi yang panjang untuk proses pembentukan, migrasi, dan akumulasi hidrokarbon.

‎Keberadaan reservoir dangkal berumur muda ini menunjukkan, bahwa Sistem petroleum di wilayah Bojonegoro masih aktif secara geologi, proses migrasi hidrokarbon berlangsung cepat dan efisien, dan terdapat keterkaitan kuat antara struktur geologi, stratigrafi, dan aktivitas tektonik lokal.

‎”Objek ke lima yaitu Fosil Purba Gigi Hiu, Desa Buntalan, Kecamatan Temayang. Menyimpan temuan fosil purba berupa gigi hiu yang memiliki nilai ilmiah tinggi,” ujar Welly Fritama.

‎Sementara itu, Perwakilan Pusat Survey Geologi Kementerian ESDM, Asep Kurnia Permana menyatakan, bahwa Indonesia memiliki kekayaan geologi berupa mineral dan gas alam yang luar biasa. Kekayaan ini bukan hanya menunjukkan nilai ekonomi yang tinggi. Tetapi juga menjadi rujukan untuk keperluan pendidikan dan juga konservasi.

‎”Geopark Nasional Bojonegoro merupakan hal yang sangat strategis, sehingga layak untuk terus dikembangkan dan dipromosikan bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga ditingkatan menuju ke tingkat global,” ungkapnya.

‎Geopark, kata dia, pada hakikatnya bukan saja semata-mata kawasan geologi, namun merupakan ruang integrasi antara kelestarian warisan geologi dengan kementerian dan budaya, yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

‎”Dalam konteks ini Badan Geologi memandang geopark sebagai unsur strategis untuk menjembatani dalam pembangunan wilayah yang inklusif dan berkelanjutan,” tandasnya.(fin)

Pos terkait