Dukung Geopark Bojonegoro Mendunia, ExxonMobil Bangun Infrastruktur Geosite Kedunglantung

Geosite Kedunglantung.
Geosite Kedunglantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, memiliki potensi rembesan minyak.

SuaraBanyuurip.com – Geosite Kedunglantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwarasa, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menuju Unesco Global Geopark (UGGp) mendapat dukungan berbagai pihak.

Salah satunya operator lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Dukungan tersebut diberikan EMCL melalui program pelibatan pengembangan masyarakat (PPM). Fokus utama bantuan ini adalah pada infrastruktur konservasi dan edukasi.

Sinergi antara swasta, pemerintah daerah, dan akademisi, menjadi kunci mengatasi tantangan teknis lapangan di geosite Kedunglantung.

Langkah proaktif tersebut ditunjukkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Bojonegoro dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam mengawal proses perizinan lahan di wilayah Perhutani. Dengan dukungan pendampingan teknis dari LPPM Universitas Bojonegoro (Unigoro), Pemerintah Desa Drenges berhasil menuntaskan dokumen Permohonan Kerja Sama Kemitraan Kehutanan Perhutani (KKP).

Keberhasilan penyelesaian dokumen ini menjadi pemantik bagi Pemkab Bojonegoro mereplikasi pola pendampingan serupa ke geosite lainnya. Strategi jemput bola ini memastikan seluruh administrasi desa selaras dengan standar yang ditetapkan, sekaligus mempercepat langkah Bojonegoro memenuhi persyaratan legalitas kawasan hutan sebelum penilaian Juli 2026.

Baca Juga :   Revalidasi Geopark Bojonegoro Menuju UGGp Rampung, Tim VGN Berikan Catatan Penting

“Kami mendukung penuh visi Pemkab dengan membangun bronjong untuk stabilitas tebing guna menjaga rembesan minyak alami, serta menara pandang untuk sarana edukasi visual,” ujar perwakilan EMCL, Slamet Rijadi, Senin (13/4/2026).

Dukungan yang diberikan EMCL, tidak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat lokal (Pokdarwis) agar mampu mengelola potensi edutourism secara mandiri dan berkelanjutan.

Kedunglantung menawarkan keunikan yang berbeda dari Geosite Wonocolo. Di sini, pengunjung dapat menyaksikan langsung fenomena oil seepage (rembesan minyak) dengan struktur geologi yang sangat jelas. Potensi tersebut sekarang ini diperkuat dengan riset hayati oleh Unigoro untuk melengkapi narasi geo-bio-culture yang disyaratkan UNESCO.

Dengan model wisata riset yang dikembangkan, masyarakat Desa Drenges diproyeksikan akan menerima manfaat ekonomi jangka panjang melalui penyediaan jasa akomodasi dan kuliner bagi para peneliti dan wisatawan edukasi.

“Kolaborasi di Kedunglantung menjadi bukti nyata bahwa ketika pemerintah, korporasi, dan akademisi bergerak bersama, target pengakuan dunia bukan lagi sekadar impian, melainkan tujuan yang segera tercapai,” tambah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unigoro, Laily Agustina.(red)

Pos terkait