Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni Imbau Waspadai Penularan Campak

Sri Wahyuni
Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni.(istimewa)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro – Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Sri Wahyuni mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penularan campak saat momen Lebaran. Ia menilai, tingginya mobilitas masyarakat serta tradisi silaturahmi yang melibatkan banyak orang berpotensi meningkatkan penyebaran penyakit menular, khususnya campak.

‎Imbauan ini menyusul setelah adanya laporan 38 kasus suspek campak pada awal 2026 yang ditemukan beberapa kota di Jawa Timur (Jatim). Sri Wahyuni mengaku khawatir akan meningkatnya kasus penularan campak.

‎Apalagi saat Lebaran, potensi penularan bisa meningkat karena mobilitas masyarakat yang tinggi. Untuk itu ia meminta masyarakat lebih waspada demi mencegah penularan campak.

‎“Kami tentunya sangat mengkhawatirkan peningkatan kasus campak di Jawa Timur, terutama dengan adanya 38 suspek campak di awal 2026 seperti yang dilaporkan di Tulungagung,” kata Sri Wahyuni kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (20/3/2026).

‎Oleh karena itu, DPRD Jatim meminta Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur segera mengambil langkah-langkah pencegahan dan penanganan secara lebih intensif.

‎Beberapa langkah yang diminta antara lain melakukan deteksi dini melalui sistem surveilans di fasilitas kesehatan, meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala campak.

Kadinkes Bojonegoro, Ninik Susmiati.
Kadinkes Bojonegoro, Ninik Susmiati.(arifin jauhari)

‎Selain itu, politisi perempuan dari Partai Demokrat ini juga menekankan pentingnya kesiapan fasilitas kesehatan, termasuk ketersediaan obat-obatan untuk menangani kasus campak yang mungkin meningkat.

‎“Dinas Kesehatan juga perlu berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota agar upaya pencegahan dan penanganan campak di daerah dapat berjalan lebih maksimal,” tegasnya..

‎DPRD Jatim juga meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan seluruh fasilitas kesehatan siap menghadapi kemungkinan peningkatan kasus, sekaligus memberikan dukungan kepada daerah yang terdampak.

‎Legislator asal daerah pemilihan (Dapil) Bojonegoro dan Tuban ini pun mengingatkan masyarakat agar turut berperan aktif dalam mencegah penyebaran penyakit ini, terutama dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan anak-anak mendapatkan vaksinasi lengkap.

‎“Dengan kerja sama semua pihak, kami berharap penyebaran campak bisa ditekan dan kesehatan masyarakat Jawa Timur tetap terjaga, terutama menjelang dan selama Lebaran,” ucapnya.

‎Peringatan tersebut sejalan dengan kondisi di Kabupaten Bojonegoro. Sebab dinas kesehatan setempat mencatat adanya temuan kasus suspek campak sejak awal tahun 2026.

‎Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Bojonegoro, Ninik Susmiati mengungkapkan, sejak Januari hingga 16 Maret 2026 terdapat 23 kasus suspek campak. Namun hasil uji laboratorium dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLabkes) Surabaya yang belum keluar membuat suspek tersebut belum dapat dipastikan positif campak atau tidak.

‎”Hasil pemeriksaan laboratorium di BBLabkes Surabaya sampai saat ini belum keluar karena reagen belum tersedia. Jadi masih suspek campak ya. Karena hasil lab belum ada, kami belum berani mengatakan itu positif campak atau bukan,” ujarnya.

‎Ninik menjelaskan, campak adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus campak. Penyakit ini sangat mudah menular, terutama pada anak-anak, namun juga dapat menyerang remaja dan orang dewasa yang belum mendapatkan imunisasi atau belum pernah terkena campak sebelumnya.

‎Penularan campak terjadi melalui percikan droplet di udara, misalnya saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Virus campak dapat bertahan di udara dan permukaan benda selama beberapa jam, sehingga penularannya sangat cepat, terutama di lingkungan padat seperti rumah, sekolah, dan tempat umum.

‎”Karena penularan melalui droplet (percikan saat bersin, batuk) kalau tangannya terkena percikan (terkontaminasi) virus campak ya bisa tertular, pesan penting : pakai masker terutama bagi yang sakit dan kelompok rentan, cuci tangan pakai sabun (hand sanitizer) sebelum dan sesudah bersalaman, serta jaga imunitas tubuh,” tandas Ninik.(fin)

Pos terkait