RSUD Sosodoro Berhasil Laksanakan Tindakan DSA Perdana untuk Kasus Stroke Berat ‎

RSUD Sosodoro
BERHASIL: Tindakan Digital Subtraction Angiography (DSA) di RSUD dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo.(suarabanyuurip.com/ist)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo terus mengokohkan diri sebagai rumah sakit rujukan unggulan di Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya. Terbaru, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur ini berhasil melaksanakan tindakan Digital Subtraction Angiography (DSA).

‎DSA merupakan tindakan minimal invasif untuk mengetahui kondisi pembuluh darah otak. Prosedur ini dilakukan dengan teknik khusus, yakni memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah hingga mencapai area otak, sehingga dapat mendeteksi adanya gangguan secara lebih akurat.

‎Tindakan ini perdana dilakukan kepada dua pasien dengan gangguan pembuluh darah otak pada Sabtu, 4 April 2026, di ruang Catheterization Laboratory (Cathlab) RSUD Sosodoro.

‎Direktur RSUD, dr. Ani Pujiningrum, menyampaikan, bahwa keberhasilan pelaksanaan DSA menjadi langkah maju dalam peningkatan layanan kesehatan di Bojonegoro.

‎“Layanan ini menjadi salah satu bentuk komitmen kami dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih lengkap dan modern bagi masyarakat, khususnya dalam penanganan penyakit stroke,” katanya kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (8/6/2026).

‎Pengembangan layanan DSA dinilai sangat penting, mengingat kasus stroke setiap tahunnya masih masuk dalam 10 besar penyakit di RSUD Sosodoro.

‎”Dengan hadirnya layanan ini, diharapkan kualitas pelayanan serta kepuasan masyarakat terhadap layanan kesehatan di RSUD Sosodoro semakin meningkat,” imbuh dr. Ani Pujiningrum.

‎Sementara itu, tindakan DSA dilakukan oleh dokter subspesialis neurologi intervensi, Dr. dr. Subandi, Sp.N, Subsp.N.I.O.O (K). Dalam keterangannya, dr. Subandi menjelaskan, bahwa DSA sangat penting untuk mengetahui secara detail kondisi pembuluh darah otak.

‎“Melalui tindakan DSA ini, kami dapat mengetahui secara tepat pembuluh darah otak yang mengalami kelainan. Dengan demikian, penanganan bisa dilakukan lebih spesifik sehingga peluang kesembuhan pasien stroke lebih besar dan risiko kekambuhan dapat ditekan,” jelasnya.

‎Ia menambahkan, pasien yang membutuhkan tindakan DSA umumnya adalah penderita stroke akibat penyumbatan maupun perdarahan pembuluh darah otak.

‎”Selama prosedur berlangsung saya dokter subspesialis didampingi oleh tim perawat dan radiografer yang telah terlatih,” tandasnya.(fin/adv)

Pos terkait