SuaraBanyuurip.com – Angka harapan hidup (AHH) masyarakat Bojonegoro, Jawa Timur, meningkat dari sebelumnya 73 tahun menjadi 75 tahun. Peningkatan ini diantaranya dikarenakan semakian baiknya pelayanan kesehatan yang berdampak terhadap meningkatnya kualitas hidup masyarakat.
Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah mengatakan, jumlah penduduk Bojonegoro sebanyak 1,36 juta jiwa. Dari jumlah itu diantaranya jumlah balita (0-4) sebanyak sekitar 50 ribu, sedangkan terbanyak berusia 64 tahun keatas.
“Jadi masyarakat Bojonegoro sekarang ini, dari angka harapan hidup di tahun 2023 adalah 73 tahun, dan menurut BPS tahun 2026 ini angka harapan hidup masyarakat Bojonegoro sekarang 75 tahun. Artinya, usianya wong Bojonegoro modot rong tahun atau bertambah dua tahun,” kata Wabup Nurul saat membersamai buruh memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day, Jumat (1/5/2026).
Wabup Nurul menjelaskan faktor yang menyebabkan usia harapan hidup masyarakat meningkat, karena Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro pada tahun 2026 ini memberi perhatian penuh pada sektor pertanian dan kesehatan.
Di sektor kesehatan, Pemkab Bojonegoro terus meningkatkan pelayanan kesehtan di rumah sakit umum daerah (RSUD) Sosodoro Djatikoesoemo. Diantaranya, pelayanan kemoterapi untuk pasien kanker. Melalui pelayanan ini masyarakat yang sebelumnya semua harus dirujuk ke Surabaya, sekarang ada yang bisa dilayanani Sosodoro.
“Kita sekarang kerja sama dengan dokter onkologi, dan secara bertahap pelayanan akan dimulai bulan ini,” tutur Nurul.
Kedua, pelayanan Cath Lab (Catheterization Laboratory) untuk fasilitas tindakan medis invasif minimal untuk mendiagnosis dan menangani penyakit jantung serta pembuluh darah. Penyakit jantung menjadi penyebab kematian terbanyak masyarakat Bojonegoro.
“Maka untuk alat kesehatan cath lab ini diantara Kabupaten Tuban, Lamongan, Ngawi, Nganjuk dan Blora, yang terlengkap di RSUS Sosodoro Bojonegoro,” beber mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro itu.
Pelayanan unggulan lainnya yang dimiliki RSUD Sososoro adalah stem cell. Stem cell merupakan prosedur medis modern yang memanfaatkan sel induk untuk memperbaiki, mengganti, atau meregenerasi jaringan dan organ yang rusak akibat penyakit degeneratif, cedera, atau penuaan.
“Jadi kalau bapak-bapak ibuk-ibuk, utamanya bapak-bapak yang usianya ingin muda bisa disuntik stem cell. Stem cell untuk peremajaan tubuh. Di Bojonegoro sekarang sudah ada kerja sama dengan RSCM Jakarta,” terangnya.
RSUD Bojonegoro sekarang ini juga bekerja sama dengan RSPAD Gatot Subroto untuk memberikan pelayanan kesehatan DSA (Digital Subtraction Angiography). DSA merupakan metode radiologi intervensi untuk mendiagnosis dan mengobati penyumbatan pembuluh darah otak (stroke) dengan memasukkan kateter untuk melebarkan pembuluh darah. Metode ini sering disebut masyarakat sebagai “cuci otak”. Tujuannya melancarkan aliran darah ke otak untuk mencegah atau mengatasi stroke.
“Di rumah sakit Sosodoro sekarang ini telah ada pelayanan DSA yang kerja sama dengan Dokter Terawan dari RSPAD. Dan, kemarin sudah ada pasien yang menjalani perawatan ini dan berhasil,” ujarnya.
“Meningkatnya pelayanan kesehatan ini menjadikan angka harapan hidup masyarakat Bojonegoro dari 73 tahun menjadi 75 tahun. Keberhasilan ini berkat kolaborasi semua pihak,” lanjut Wabup Nurul.
Selain meningkatkan pelayanan kesehatan, lanjut dia, Pemkab Bojonegoro telah mendaftarkan masyarakat di BPJS Kesehatan. Masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis di rumah sakit sesuai kelasnya.
“Tapi kalau untuk pelayanan DSA dan stem cell ini tidak gratis. Ini pelayanan yang beda. Tapi kalau pelayanan dasar gratis,” tegas Wsbup Nurul.
Pelayanan gratis lainnya di RSUD Sosodoro bagi masyarakat Bojonegoro yang terkover BPJS Kesehatan adalah hemodialisa atau cuci darah. Pelayanan ini dinilai juga membantu mreningkatkan angak harapan hidup masyarakat Bojonegoro.
“Kalau dulu orang Bojonegoro cuci darah nggak sampai dua tahun kapundut. Tapi sekarang ada yang lima tahun, enam tahun, masih bertahan. Bahkan kemarin kami menemukan tujuh sampai delapan tahun ada yang masih hidup,” ungkapnya.
“Kenapa, karena kalau dulu bayar cuci darah itu satu juta tiga ratus, tidak sampai tahun kenapa, karena kalau setiap satu minggu bayar segitu, mka tidak sampai dua tahun rumahnya terjual. Karena sekarang tidak bayar, maka umurnya bisa lebih panjang,” lanjut Wabup Nurul.
Pemkab Bojonegoro berharap melalui upaya tersebut dapat menjadi masyarakat sehat jasmani, sehat rohani dan sehat ekonomi.
Sekretris Daerah Bojonegoro, Edi Susanto sebelumnya menyampaikan, meningkatnya angka harapan hidup masyarakat ini dikarenakan semakin meningkatnya kesadaran gaya hidup sehat.
“Seperti program cek kesehatan gratis ini membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya, sehingga mereka bisa menjaga diri untuk mengantisipasi dengan mengubah prilaku hidupnya menjadi lebih sehat,” kata Edi saat memaparkan program prioritas RKPD Bojonegoro 2027 di Musrenbangkab.(red)





