SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menyimpan segudang potensi wisata yang kini mulai mencuri perhatian. Di wilayah Kedewan misalnya. Sesuai slogan “Ayo Dolan Kedewan”, maka di Kecamatan Kedewan, konsep wisata terintegrasi perlahan tumbuh dan memikat.
Kawasan bagian barat Bojonegoro ini menghadirkan pengalaman wisata yang bukan hanya beragam, tetapi juga detail, khas, dan sulit ditemukan di tempat lain.
Salah satu pengalaman paling ikonik ada di kawasan Geopark Wonocolo. Di sini, wisatawan bisa melihat langsung struktur antiklin di Desa Kawengan, sebuah formasi geologi yang menjadi sumber cadangan minyak. Perjalanan berlanjut ke rumah singgah di Wonocolo, tempat pengunjung mempelajari sejarah panjang penambangan minyak tradisional yang sudah berlangsung turun-temurun.
Dari sana, wisatawan diajak naik ke gardu pandang di titik tertinggi kawasan penambangan. Pemandangan hamparan sumur minyak tradisional terlihat jelas dari atas, menciptakan lanskap unik yang tidak biasa. Pengalaman semakin lengkap saat pengunjung menyaksikan bahkan mempraktikkan proses “mluntur, nimbel, dan godok”, yaitu tahapan pengambilan hingga pengolahan minyak secara tradisional.

Berpindah ke wisata agro, suasana berubah menjadi lebih hijau dan segar. Di kebun alpukat, pengunjung tidak hanya berjalan-jalan, tetapi bisa langsung memetik buah dari pohonnya. Buah tersebut kemudian diolah menjadi minuman atau jajanan sederhana yang bisa dinikmati di lokasi.
Di kebun buah naga, pengalaman serupa juga ditawarkan. Wisatawan diajak mengenal cara budidaya, memetik buah matang, hingga mengolahnya menjadi olahan segar. Sementara di kebun kopi dan rambutan, pengunjung bisa melihat langsung proses petik kopi dan belajar bagaimana biji kopi diolah menjadi minuman siap saji.
Di kawasan agroforestri Dangilo, pengalaman menjadi lebih interaktif. Wisatawan diajak menanam sayur dan pohon, memanen hasil kebun, lalu mengolahnya bersama menjadi makanan atau minuman. Aktivitas ini memberi sensasi wisata yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga edukatif.
Bagi rombongan pelajar atau komunitas, paket wisata edukasi menawarkan kegiatan yang lebih terstruktur. Mulai dari pelatihan motivasi, public speaking, hingga leadership dan outbound. Peserta juga mendapat fasilitas lengkap seperti ruang pertemuan, homestay, hingga hiburan berupa live music, pertunjukan budaya, dan sajian kuliner khas Kedewan.
Sementara itu, untuk keluarga, tersedia paket wahana permainan yang menghadirkan berbagai aktivitas anak. Setiap momen kunjungan bahkan bisa diabadikan oleh tim dokumentasi menggunakan kamera hingga drone, lalu diedit secara profesional agar menjadi kenangan tak terlupakan.

Petualangan di Kedewan terasa semakin seru dengan pilihan transportasi wisata yang beragam. Jeep terbuka menjadi favorit karena memberikan sensasi menjelajah medan dengan lebih dekat dan bebas. Ada juga motor trail bagi pencinta tantangan, mini bus untuk perjalanan nyaman, serta kendaraan “Tayo” yang dirancang khusus untuk anak-anak dengan tampilan ceria.
Di sela-sela perjalanan, wisatawan bisa menikmati kuliner khas yang menjadi identitas Kedewan. Sayur kluwek dengan kuah hitam khas, mirip rawon namun menggunakan ayam kampung, menawarkan rasa gurih dan sedikit pedas.
Sementara sego gulung, nasi yang dibungkus daun pisang dengan lauk seperti sambal teri, ati ampela, telur, hingga opor ayam kampung, menghadirkan cita rasa tradisional yang kuat.
Dengan seluruh pengalaman itu, Kedewan menjelma menjadi destinasi yang tidak hanya lengkap, tetapi juga hidup. Setiap sudut menawarkan cerita, setiap aktivitas memberi pengalaman.
“Ayo Dolan Kedewan” bukan sekadar ajakan berwisata, tetapi undangan untuk merasakan bagaimana alam, budaya, dan masyarakat berpadu dalam satu perjalanan yang utuh dan berkesan.

Camat Kedewan, Mudlofir, menegaskan, bahwa kekuatan utama wilayahnya terletak pada keberagaman potensi yang dimiliki setiap desa. Ia ingin semua potensi ini terhubung.
”Wisatawan tidak hanya datang ke satu titik, tapi bisa menikmati rangkaian pengalaman dari satu tempat ke tempat lain,” kata Mudlofir kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (22/4/2026).
Sedangkan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedewan, Kang Priyo, menambahkan bahwa konsep ini juga dirancang agar wisatawan tidak sekadar melihat, tetapi ikut terlibat langsung.
“Di Kedewan, wisata itu harus dirasakan. Pengunjung bisa belajar, mencoba, bahkan ikut beraktivitas bersama masyarakat,” jelasnya.(fin)





