Kurve Geopark Kedewan, Rawat Jejak Minyak dan Dongkrak Wisata Bojonegoro

kurve di kawasan geopark
Camat Kedewan, Mudlofir (paling kanan) sedang memimpin kurve di kawasan geopark.(arifin jauhari)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Kegiatan kurve (kerja bakti) di kawasan geopark Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menjadi langkah konkret dalam merawat situs geologi yang berkaitan erat dengan sejarah minyak, sekaligus mendorong pengembangan wisata berbasis energi di Kabupaten Bojonegoro.

Kurve diinisiasi rutin tiap Jumat oleh Camat Kedewan, Mudlofir, ini dikuti para staf, kepala desa dan perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, masyarakat sekitar kawasan geopark, serta didukung oleh personel dan peralatan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

‎Melalui kegiatan ini, Kedewan diharapkan tidak hanya mampu menjaga kelestarian situs geologi, tetapi juga memperkuat identitasnya sebagai kawasan wisata berbasis sejarah minyak yang unik dan membanggakan bagi Bojonegoro.

‎Camat Kedewan, Mudlofir, mengatakan, kurve ini dilaksanakan dalam rangka mendukung program Indonesia ASRI, persiapan penilaian Unesco Global Geopark (UGGp), serta upaya mewujudkan Kedewan sebagai kawasan wisata.

“Kurve ini kami lakukan untuk mendukung Indonesia ASRI, persiapan penilaian geopark, dan sebagai upaya mewujudkan Kecamatan Kedewan sebagai kawasan wisata,” katanya kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (24/4/2026).

Baca Juga :   Di Demo Mahasiswa, Bupati Bojonegoro Lari

Aparatur Sipil Negara (ASN) yang pernah menjadi wartawan ini menegaskan, peran serta masyarakat dan seluruh stakeholder akan dimaksimalkan untuk menjaga situs geopark yang dinilai sebagai aset daerah yang langka dan unik.

‎“Kami ingin masyarakat bersama-sama merawat dan menjaga situs geopark agar tetap terjaga, menjadi daya tarik, sekaligus pengungkit perekonomian daerah,” tegasnya.

Kurve kawasan Kedewan
Truk sampah dari DLH mendukung kurve kawasan geopark di Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro.(arifin jauhari)

‎Kegiatan kurve difokuskan di tiga titik yang memiliki nilai geologi dan keterkaitan langsung dengan keberadaan minyak di Bojonegoro. Formasi Bulu Beji disebut sebagai batuan tertua yang menjadi bukti awal terbentuknya daratan di wilayah ini. Sementara Antiklin Desa Kawengan menjadi indikator adanya jebakan minyak bumi, yang sejak lama dikenal sebagai kawasan eksplorasi.

Adapun kawasan Alang-alang dan Formasi Wonocolo merupakan puncak struktur akibat patahan tanah dengan lapisan pasir dangkal, yang menandai keberadaan sumber minyak relatif dekat permukaan. Wilayah ini juga dikenal dengan aktivitas sumur minyak tradisional yang masih bertahan hingga kini.

Baca Juga :   Ketua KPU Jatim : Pelaksanaan Pemilu Jangan Sekadar Prosedural

‎Kepala DLH Kabupaten Bojonegoro, Luluk Alifah, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lintas pihak dalam kegiatan tersebut. DLH juga memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan persiapan penilaian Geopark di kawasan Kedewan, khususnya di lokasi Alang-alang Teksas Wonocolo.

Dukungan tersebut berupa bantuan teknis dan logistik, antara lain: 1 unit armada dump truck untuk pengangkutan sampah; 3 unit mesin pemotong rumput; dan 10 personel lapangan yang dikerahkan untuk bergotong royong bersama masyarakat, TNI, Polri, Satpol PP, dan BPBD.

‎DLH berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah Kecamatan, Desa, serta seluruh pemangku kepentingan demi menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan geopark.

‎”Ini adalah wujud nyata persiapan menuju penilaian Geopark yang berkelanjutan,” tandas Luluk Alifah.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait