Oleh: Dr. Hj. Cantika Wahono
Setiap tanggal 21 April, kita mengenang semangat juang Raden Ajeng Kartini, seorang perempuan yang menyalakan obor perubahan, membuka jalan bagi perempuan untuk berpikir, belajar, dan berkarya. Namun, Kartini tidak hanya milik masa lalu. Ia hidup dalam diri setiap perempuan hari ini dalam peran sebagai istri, ibu, dan juga sebagai pribadi yang berkarya di ruang publik.
Menjadi perempuan hari ini adalah tentang menyeimbangkan banyak peran. Di rumah, ia adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, menanamkan nilai, akhlak, dan kasih sayang. Sebagai istri, ia menjadi sahabat perjalanan hidup, penguat dalam diam, dan penenang dalam badai. Di ruang publik, perempuan hadir sebagai penggerak, pemimpin, profesional, dan agen perubahan.
Namun kehidupan tidak berhenti pada satu fase. Akan tiba masa di mana perempuan melepaskan jabatan, menyelesaikan masa tugas, atau memasuki usia pensiun. Di titik inilah, tantangan baru muncul, bukan lagi tentang bagaimana memimpin, tetapi bagaimana memaknai.
Tidak sedikit yang kemudian mengalami post power syndrome, perasaan kehilangan makna, identitas, bahkan kepercayaan diri setelah tidak lagi memegang posisi atau jabatan. Fase ini seharusnya tidak dimaknai sebagai kemunduran, melainkan sebagai transformasi peran dari positional leadership menuju moral and relational leadership. Karena sejatinya, nilai seorang perempuan tidak pernah berhenti pada jabatan. Nilai itu melekat pada pengalaman, kebijaksanaan, keteladanan dan ketulusan yang telah ia bangun sepanjang hidupnya.
Perempuan yang telah memasuki usia pensiun justru memiliki kekuatan yang luar biasa: waktu, pengalaman, dan kedewasaan. Ini adalah fase emas untuk menjadi sumber inspirasi, penjaga nilai, dan penuntun generasi berikutnya. Salah satu aspek krusial dalam fase ini adalah bagaimana seorang perempuan pemimpin mampu melakukan transisi kepemimpinan secara elegan. Kepemimpinan yang matang ditandai bukan hanya oleh kemampuan memimpin, tetapi juga oleh kesiapan untuk melepaskan.
Sikap elegan setelah melepaskan jabatan, tercermin dalam beberapa hal. Pertama, memberikan kepercayaan penuh kepada penerus. Kepercayaan adalah fondasi keberlanjutan organisasi. Intervensi berlebihan, sikap membandingkan, atau kecenderungan untuk tetap “mengendalikan dari belakang” justru dapat menghambat kemandirian pemimpin baru.
Kedua, menghindari sikap menggurui dan mendikte. Pengalaman yang dimiliki memang berharga, namun cara penyampaiannya menentukan keberterimaan. Dalam konteks ini, pendekatan yang lebih tepat adalah mentoring by invitation, yaitu memberikan pandangan ketika diminta, bukan memaksakan.
Ketiga, bertransformasi menjadi penasehat yang bijaksana (wise counsel). Peran ini menempatkan mantan pemimpin sebagai figur rujukan yang memberikan arah secara halus, tanpa mengurangi ruang eksplorasi bagi penerus.

Keempat, menjaga etika komunikasi dan loyalitas organisasi. Tidak membangun opini yang berpotensi melemahkan kepemimpinan baru, baik secara langsung maupun tidak langsung, merupakan bagian dari integritas kepemimpinan itu sendiri.
Kelima, mengembangkan ruang aktualisasi baru. Purnatugas bukanlah akhir kontribusi, melainkan awal dari bentuk pengabdian yang berbeda, baik melalui kegiatan sosial, keagamaan, pendidikan, maupun pemberdayaan masyarakat.
Dalam perspektif active aging, perempuan di usia pensiun memiliki potensi besar untuk tetap sehat, aktif, dan produktif. Konsep ini menekankan pada optimalisasi tiga dimensi utama: kesehatan (health), partisipasi (participation), dan keamanan (security). Dengan menjaga kesehatan fisik dan mental, tetap terlibat dalam aktivitas sosial, serta memiliki rasa aman dan bermakna, perempuan dapat menjalani masa lansia secara berkualitas.
Lebih jauh, perempuan senior memiliki peran strategis sebagai social capital. Pengalaman panjang yang dimiliki menjadi sumber pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Dalam konteks pembangunan daerah, keberadaan perempuan senior yang aktif dan berdaya dapat menjadi penguat ikatan emosional dan struktural sekaligus penjaga nilai-nilai lokal.
Dengan demikian, refleksi Hari Kartini hendaknya tidak berhenti pada narasi perjuangan masa lalu, tetapi diperluas pada bagaimana perempuan mengelola seluruh fase kehidupannya secara bermakna, termasuk fase transisi dan purnatugas.
Untuk para perempuan hebat Bojonegoro, para ibu, para istri, para pemimpin, dan para pejuang kehidupan, ketahuilah bahwa peran kita tidak pernah usai. Estafet kepemimpinan mungkin telah kita serahkan, tetapi estafet keteladanan akan terus kita pegang.
Menjadi Kartini masa kini adalah tentang keberanian untuk berperan, kebijaksanaan untuk melepaskan, dan ketulusan untuk tetap memberi, tanpa terikat pada jabatan. Karena pada akhirnya, kepemimpinan sejati bukan tentang seberapa tinggi jabatan yang kita raih , bukan terletak pada lamanya seseorang memegang posisi, tetapi pada jejak nilai dan kebermanfaatan yang kita tebarkan hingga di usia senja, kita tetap menjadi cahaya.
Penulis adalah Ketua TP PKK dan Ketua Umum GOW Kabupaten Bojonegoro.





