Inilah Lokasi 21 Geosite Geopark Tersebar di Bojonegoro

Situs di Sugihwaras
Kedung Lantung, di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras. Terdapat rembesan minyak bumi di daerah ini.(ist/bappeda)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, terus memantapkan langkah menuju kawasan Geopark melalui penetapan 21 situs warisan geologi (geosite) yang diusulkan ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Deretan lokasi ini tersebar di sejumlah kecamatan.

‎Lokasi di mana warisan geologi itu berada merepresentasikan kekayaan bentang alam, sejarah geologi, hingga temuan fosil purba yang bernilai ilmiah, edukatif, sekaligus wisata.

‎Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bojonegoro, Achmad Gunawan Ferdiansyah mengatakan, secara fisiografi, wilayah Bojonegoro berada pada pertemuan Zona Kendeng, Zona Randublatung, dan Zona Rembang.

‎”Posisi ini membentuk keragaman struktur geologi berupa lipatan, sesar, cekungan sedimen, hingga jejak aktivitas vulkanik dan aliran sungai purba Bengawan Solo,” kata Achmad Gunawan kepada Suarabanyuurip.com, Senin (9/2/2026).

‎Keragaman tersebut menjadi dasar kuat pengajuan kawasan geopark karena memuat nilai konservasi, penelitian kebumian, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui geowisata.

‎Proses penetapan dilakukan berjenjang, mulai dari usulan pemerintah daerah, inventarisasi keragaman geologi (geodiversity), verifikasi lapangan oleh Badan Geologi, hingga penyusunan rancangan keputusan menteri.

‎”Setiap situs dinilai berdasarkan keunikan batuan, struktur geologi, kandungan fosil, nilai lanskap, dan potensi pemanfaatannya,” ujar Achamd Gunawan.

‎Beberapa situs yang diusulkan antara lain berada di wilayah barat hingga selatan Bojonegoro. Di Kecamatan Margomulyo, terdapat Geoarkeologi Matar yang menampilkan endapan teras sungai Bengawan Solo dengan temuan fosil vertebrata purba seperti Stegodon dan Hexaprotodon. Kawasan ini dinilai penting sebagai laboratorium alam untuk penelitian sejarah kehidupan purba.

Situs di Ngasem
Endapan Undak Sungai Bengawan Solo Purba di Desa Tengger, Kecamatan Ngasem.(ist/bappeda)

‎Masih di kecamatan yang sama, terdapat Endapan Flysch Formasi Kerek Margomulyo yang memperlihatkan susunan batuan perselingan batupasir, batulempung, dan tuf napalan. Struktur sesar yang tampak di lokasi ini menunjukkan dinamika tektonik masa lampau dan menjadi objek studi penting dalam ilmu geologi struktur.

‎Sementara itu di Kecamatan Ngraho, terdapat Lokasi Lektotipe Elephas hysudrindicus Tinggang, sebuah situs yang memiliki nilai internasional karena ditemukan fosil gajah purba serta endapan sungai kuarter yang memperkuat bukti sejarah fauna purba di kawasan Bengawan Solo.

‎Di wilayah Kecamatan Kedewan, sejumlah situs juga masuk dalam daftar kandidat, di antaranya Batupasir Formasi Bulu Beji yang menunjukkan litologi batupasir gampingan dan struktur lipatan antiklin.

‎Selain itu terdapat Hipostratotipe Formasi Wonocolo Hargomulyo yang menampilkan singkapan napal dan napal lempungan kaya fosil foraminifera planktonik, serta Antiklin Kawengan yang memperlihatkan struktur lipatan batuan berskala regional.

‎Tidak hanya itu, di Kecamatan Malo juga terdapat Bentonit Air Terjun Kedung Peti yang memperlihatkan lapisan bentonit hasil pelapukan batuan lempung Formasi Ledok.

‎Sedangkan di Kecamatan Ngasem, situs Endapan Undak Sungai Bengawan Solo Purba Tengger menampilkan jejak endapan aluvial purba lengkap dengan temuan fosil kaki gajah dan mamalia lainnya.

Baca Juga :   DPRD Blora Percepat Pengesahan RAPBD
Situs di wonocolo
Hipostratotipe Hargomulyo Formasi Wonocolo di Kecamatan Kedewan.(ist/bappeda)

‎Dari keseluruhan lokasi tersebut, penilaian awal menunjukkan tiga situs berkelas internasional, lima nasional, dan sisanya lokal, menandakan spektrum nilai ilmiah yang beragam.

‎”Sebaran situs-situs tersebut menggambarkan potensi geosite tidak terpusat di satu wilayah, melainkan tersebar merata mengikuti jalur geologi dan aliran Bengawan Solo purba,” tandas Achmad Gunawan.(fin)

Berikut Ini 21 Lokasi Geosite Geopark Bojonegoro:

‎1. Geoarkeologi Matar – Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo. Menampilkan endapan teras Bengawan Solo dengan temuan fosil vertebrata purba seperti Stegodon dan Hexaprotodon.

‎2. Endapan Flysch Formasi Kerek Margomulyo – Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo. Perselingan batupasir, batulempung, dan tuf napalan dengan jejak sesar dan lipatan.

‎3. Lokasi Lektotipe Elephas hysudrindicus Tinggang – Desa Bancer, Kecamatan Ngraho. Situs penting temuan fosil gajah purba dan endapan kuarter.

‎4. Batupasir Formasi Bulu Beji – Desa Beji, Kecamatan Kedewan. Singkapan batupasir gampingan dengan struktur lipatan antiklin.

‎5. Hipostratotipe Formasi Wonocolo Hargomulyo – Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan. Napal dan napal lempungan kaya fosil foraminifera planktonik.

‎6. Antiklin Kawengan – Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan. Struktur lipatan batuan berskala regional yang jelas terlihat di lapangan.

‎7. Bentonit Air Terjun Kedung Peti – Desa Ketileng, Kecamatan Malo. Lapisan bentonit hasil pelapukan lempung Formasi Ledok, berdekatan dengan air terjun.

‎8. Endapan Undak Sungai Bengawan Solo Purba Tengger – Desa Tengger, Kecamatan Ngasem. Endapan aluvial purba dengan temuan fosil mamalia.

Baca Juga :   Tari Api Kayangan Tandai Pembukaan Festival Geopark Bojonegoro 2025

‎9. Kayangan Api – Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem. Fenomena api abadi akibat keluarnya gas alam dari rekahan batuan.

‎10. Hipostratotipe Anggota Atas Angin Formasi Kalibeng Deling – Desa Deling, Kecamatan Sekar. Singkapan batugamping klastik dan perlapisan sedimen kaya fosil mikro.

‎11. Mata Air Panas Banyu Kuning – Desa Krondonan, Kecamatan Gondang. Sumber air panas yang dipengaruhi aktivitas vulkanik dan rekahan lokal.

‎12. Intrusi Gunung Watu – Desa Krondonan, Kecamatan Gondang. Bukit intrusi batuan beku dengan tekstur khas dan kekar berpasangan.

‎13. Selo Gajah – Desa Jari, Kecamatan Gondang. Bentukan ceruk/goa pada batugamping akibat proses pelarutan karbonat.

‎14. Lava Watu Gandul – Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang. Tumpukan batuan andesit hasil aktivitas vulkanik purba.

‎15. Hipostratotipe Formasi Kalibeng Sambongrejo – Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang. Napal tufaan dengan kandungan fosil planktonik melimpah.

‎16. Kompleks Gua Kars Dander Sumberarum – Desa Sumberarum, Kecamatan Dander. Sistem gua batugamping dengan lorong alami dan jejak aliran sungai purba.

‎17. Kompleks Fosil Fauna Laut Jono – Desa Jono, Kecamatan Temayang. Hamparan batugamping terumbu dengan fosil fauna laut seperti gigi hiu dan moluska.

‎18. Hipostratotipe Formasi Klitik Waduk Pacal – Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang. Singkapan batupasir kalkarenit dan struktur perlipatan memanjang.

‎19. Hipostratotipe Formasi Sonde Kedung Maor – Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang. Lapisan batugamping keras dengan fosil moluska (bivalvia).

‎20. Lapisan Batugamping Kokina Formasi Lidah Bareng – Desa Bareng, Kecamatan Sugihwaras. Perlapisan batugamping berbutir kasar dengan struktur sinklin.

‎21. Kedung Lantung – Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras. Kontak lapisan batupasir–batulempung dan morfologi lembah sungai denudasional.

‎Badan Geologi Kementerian ESDM menyiapkan rancangan keputusan menteri sebagai dasar hukum penetapan warisan geologi Kabupaten Bojonegoro, sekaligus membuka ruang koordinasi dengan pemerintah daerah dan provinsi dalam pengelolaan serta perlindungan situs.

‎Pengembangan Geopark Bojonegoro diharapkan tidak hanya memperkuat konservasi alam dan pendidikan kebumian, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis geowisata berkelanjutan, sehingga kekayaan geologi yang dimiliki dapat dinikmati sekaligus dijaga untuk generasi mendatang.

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait