SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Bojonegoro – Wisata KaGeT (Kedewan Geopark Trip) Bojonegoro, Jawa Timur, resmi diluncurkan, Sabtu 30 Mei 2026, di Agroforestri Dangilo, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro berharap peluncuran wisata ini menjadi tonggak awal bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kecamatan Kedewan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro, Edi Susanto menyampaikan pariwisata tidak hanya bertujuan mendatangkan wisatawan, tetapi juga membangun ekosistem yang memberikan manfaat bagi seluruh elemen masyarakat.
“Dengan membangun ekosistem ini diharapkan seluruh elemen masyarakat merasakan dampak manfaatnya,” ujar mantan Sekretaris DPRD Bojonegoro itu.
Pihaknya mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro terus melakukan inovasi, khususnya dalam pemasaran digital untuk menciptakan narasi yang kuat tentang wisata Kedewan di berbagai platform.
“Ini penting, agar kegiatan pariwisata tidak hanya ramai saat peluncuran, tetapi memiliki keberlanjutan,” pesan Edi.

Pemerintah kecamatan dan desa juga diharapkan menjadi yang terdepaan dalam memberikan kenyamanan, ketertiban, dan kebersihan di tempat-tempat wisata, khususnya di Kecamatan Kedewan.
Sementara itu, Perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kecamatan Kedewan, Yoyok Asnoko, menjelaskan strategi yang diterapkan untuk membuat pengunjung tertarik dan ingin kembali lagi. Salah satu daya tarik utama yang disiapkan adalah Adventure Jeep yang akan mengantar pengunjung menjelajahi Geopark. Selain itu, terdapat area Agroforestry seluas 45 hektare yang ditanami lebih dari 1.000 jenis tanaman buah.
Konsepnya, ketika satu jenis buah panen, ada jenis buah lain yang akan panen, sehingga pengunjung tidak akan kehabisan buah dan selalu ada buah yang disajikan. Selain buah, akan dikembangkan juga pertanian sayur-mayur, seperti petik terong di tempat yang bisa diakses menggunakan ATV.
Keunikan lain yang ditawarkan kepada wisatawan, khususnya di wilayah Kedewan, adalah kondisi alamnya yang luar biasa. Meskipun dikenal sebagai hutan dan perminyakan, berbagai jenis tanaman seperti alpukat dapat tumbuh subur. Pengunjung juga bisa melihat langsung aktivitas penambangan minyak tradisional di pegunungan Wonocolo.
“Potensi ini dimanfaatkan dengan bekerja sama dengan berbagai pihak terkait, termasuk Perhutani dan Dinas Pendidikan serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” jelas Yoyok.

Untuk menjaga minat wisatawan, pihak pengelola mengusung konsep KaGeT yang diluncurkan hari ini. Konsep ini bertujuan memberikan kejutan-kejutan tertentu kepada setiap pengunjung.
Selain Agroforestry, paket wisata in juga akan menawarkan berbagai aktivitas lain seperti pemancingan, kolam kecek, dan area camping.
“Konsepnya adalah menciptakan suasana damai dan nyaman, di mana pengunjung dapat merasakan pengalaman berwisata di kampung dengan nuansa kota,” tuturnya.
Konsep KaGeT, menurut Yoyok, sudah digagas selama dua tahun dan melalui berbagai tantangan, termasuk pro dan kontra. Namun, Pokdarwis Kecamatan Kedewan tetap optimis dan akhirnya KaGeT dapat mewujudkan.
“Tantangan utama saat ini adalah mendidik dan memberi pengetahuan kepada masyarakat sekitar agar tujuan pengembangan wisata ini dapat tercapai,” umgkapnya.
Yoyok berharap, Agroforestry ini menjadi laboratorium hidup tempat teori dan praktik lapangan dengan lahan yang tersedia untuk pelatihan pembibitan dan pembangunan greenhouse.(ams)





