Pengembangan Geopark Kedung Lantung Bojonegoro Terganjal Izin Perhutani

Kedung Lantung Geopark Bojonegoro.
Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, menjadi salah satu Geopark Nasional Bojonegoro yang memenuhi kriteria geopark dunia atau UGGp.

SuaraBanyuurip.com – Gelar bergengsi UNESCO Global Geopark (UGGp) untuk Kabupaten Bojonegoro telah di depan mata. Penilaian final pada 27 Juli 2026 nanti akan menentukan apakah kekayaan alam Bojonegoro sanggup menjadi mesin ekonomi baru yang diakui dunia.

Namun dalam sisa waktu tiga bulan, masih banyak yang perlu dipersiapkan. Seperti yang terjadi di geosite Kedung Lantung, Kecamatan Sugihwaras. Pembangunan di titik sentral penilaian penting ini masih belum mendapat izin penggunaan lahan area Perhutani.

Universitas Bojonegoro (Unigoro) sebagai pendamping pembangunan, mengundang semua pihak untuk membahas percepatan. Pertemuan dihadiri oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bojonegoro, Dinas Pariwisata Bojonegoro, dan Perhutani, pada Selasa (28/4/2026) di Ruang Adu Ide Rektorat Unigoro.

Pembangunan geosite Kedung Lantung merupakan bagian dari Program Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) yang bermitra dengan LPPM Unigoro. Dukungan terhadap upaya Pemerintah Kabupaten dalam meningkatkan ekonomi masyarakat ini, disambut baik oleh semua pihak. Termasuk dinas-dinas terkait, pemerintah desa, dan Perhutani yang memiliki lahan di sekitar lokasi.

Baca Juga :   Tim Penilai Geopark Nasional Kagumi Museum 13 SDN Panjunan 2 Bojonegoro

Semangat kolaborasi ini terlihat dari pembagian peran yang strategis di lapangan. Bappeda dan Disbudpar Bojonegoro berperan memperkuat legitimasi dan dukungan kebijakan, sementara Perhutani KPH Bojonegoro memberikan fasilitasi terkait penggunaan lahan.

Kedung Lantung dipilih karena punya keunikan langka, yaitu rembesan minyak alami yang terlihat jelas di bebatuan sungai. “Kami sedang mengebut riset hayati dan data ilmiah di sana. Syarat UNESCO sangat ketat,” tutur Dr. Laily Agustina Rahmawati, S.Si., M.Sc., dari Unigoro.

Arah pengembangan Kedung Lantung sendiri difokuskan pada aspek konservasi dan edukasi melalui pembangunan infrastruktur penunjang seperti bronjong penahan erosi dan menara pandang. Fasilitas ini penting agar warga desa bisa mengelola wisata edukasi secara profesional.

Kepala Desa Drenges, Yaspingi menyambut baik sinergi ini, terutama dalam memberikan kejelasan bagi warga desa dan Pokdarwis yang akan menjadi garda terdepan di lapangan.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan percepatan ini. Hasil pertemuan memberikan kejelasan bagi kami bahwa rencana pengembangan infrastruktur dan penguatan kapasitas masyarakat akan berjalan sesuai jadwal,” timpalnya.

Baca Juga :   Guru dan Siswa Terpapar Covid-19, SMAN 1 Cepu Hentikan Pembelajaran Tatap Muka

Terpisah perwakilan EMCL, Slamet Rijadi menegaskan bahwa komitmen ini merupakan bentuk kontribusi industri hulu migas dalam mengangkat potensi lokal Bojonegoro ke level internasional.

“Program ini merupakan wujud sinergi untuk mendorong Geopark Bojonegoro menuju panggung dunia, sekaligus memastikan bahwa pengembangan geosite memberikan dampak positif bagi edukasi dan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi,” tukas Slamet.

Dengan waktu yang semakin mendekati penilaian UNESCO, langkah terukur ini membuktikan bahwa Bojonegoro memiliki kapasitas kolaboratif yang kuat. Sinkronisasi antara kebijakan pemerintah, ketelitian ilmu pengetahuan, dan dukungan industri menjadi kunci utama dalam mewujudkan pengakuan global bagi warisan geologi Kedung Lantung.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait