SuaraBanyuurip.com – Geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur berbentuk lembah sungai dengan tebing batuan kapur putih yang eksotik.
Di celah bebatuan sungai Kedung Lantung keluar rembesan minyak bumi secara alami. Rembesan minyak bercampur air. Warnanya berkilau diterpa cahaya matahariml.
Uniknya, ikan dan ekosistem lainnya di dalam sungai tetap hidup normal. Meskipun aliran sungai Kedung Lantung sejak dulu telah bercampur dengan minyak bumi.
Pemandangan tak biasa yang terpampang di sungai Kedung Lantung itu menyambut puluhan mahasiswa semester dua Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Bojonegoro (Unigoro), Senin (11/5/2026).
Di lokasi Kedung Lantung inilah mahasiswa mengikuti kuliah lapangan mata kuliah Pengantar Ekologi dan Ilmu Lingkungan. Mereka mempelajari langsung ekosistem unik yang jarang ditemui di tempat lain.
Menurut Dr. Laily Agustina R., S.Si., M.Sc., selaku dosen pengampu, kuliah lapangan tidak sekadar menjadi agenda akademik biasa. Mahasiswa diajak masuk langsung ke ruang belajar hidup untuk memahami bagaimana interaksi antara makhluk hidup dan lingkungan berlangsung dalam kondisi ekstrem. Ketika air sungai bercampur dengan rembesan minyak bumi alami.
Fenomena geologi ini menghadirkan tantangan ekologis tersendiri. Kandungan minyak di aliran sungai diduga menjadi faktor pembatas yang menentukan organisme tertentu mampu bertahan hidup, beradaptasi, atau justru tidak dapat berkembang di ekosistem tersebut.
“Dari pengamatan lapangan, mahasiswa belajar memahami konsep toleransi lingkungan, adaptasi spesies, hingga keseimbangan ekosistem secara nyata, bukan sekadar melalui teori di ruang kelas,” terangnya.
Laily menegaskan, Geosite Kedung Lantung memiliki potensi besar sebagai laboratorium alam terbuka yang kaya akan nilai pendidikan dan penelitian.
Dia berharap kawasan ini dapat menjadi ruang belajar langsung bagi siswa maupun mahasiswa untuk memahami ekosistem secara nyata di lapangan. Tidak hanya tentang geologi dan fenomena rembesan minyak bumi, tetapi juga tentang bagaimana makhluk hidup berinteraksi dengan kondisi geologi yang unik tersebut.
“Termasuk keterkaitannya dengan budaya dan kehidupan masyarakat lokal,” imbuhnya.
Pendekatan pembelajaran berbasis lapangan menjadi cara penting untuk membangun pemahaman yang lebih utuh, kontekstual, dan aplikatif mengenai ekologi serta pembangunan berkelanjutan.
Menariknya, kegiatan kuliah lapangan tersebut juga bertepatan dengan pengujian kualitas air yang dilakukan di tiga titik aliran sungai Kedung Lantung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro bekerja sama dengan UPT Laboratorium Lingkungan DLH Jawa Timur.
Ketiga titik lokasi pengujian kualitas air sungai Kedung Lantung berada di bagian hulu, area rembesan minyak, dan hilir sungai.
“Mahasiswa menyaksikan dan terlibat langsung saat proses pengambilan sampel air. Mulai dari teknik sampling, penggunaan alat dan bahan, hingga prosedur teknis yang digunakan dalam pengujian kualitas lingkungan,” ujar Laily.
Kuliah lapangan berlangsung interaktif. Mahasiswa Prodi Ilmu Lingkungan Unigoro memanfaatkan momen tersebut untuk berdiskusi tentang parameter kualitas air, metode pengambilan sampel, regulasi yang digunakan, sekaligus pentingnya validitas data dalam kajian lingkungan hidup.
Kegiatan pengujian kualitas air tersebut juga menjadi bagian dari komitmen DLH Kabupaten Bojonegoro dalam memperkuat data pendukung menghadapi penilaian UNESCO Global Geopark (UGGp) pada Juli 2026 mendatang. Ketersediaan data ilmiah dan kualitas lingkungan menjadi aspek penting dalam mendukung pengelolaan geosite berbasis konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Geosite Kedung Lantung semakin menunjukkan potensinya bukan hanya sebagai destinasi wisata geologi. Melainkan juga sebagai pusat pembelajaran, penelitian, dan laboratorium alam yang menyimpan nilai ilmiah, ekologis, serta budaya yang sangat kaya.(red)




