Teksturnya pulen: empuk, lembut dan padat. Tidak lembek seperti lontong. Saat dibuka tercium aroma khas daun pisang.
Begitulah bentuk Sego Gulung atau nasi yang digulung daun pisang. Sego gulung dulunya dikenal sebagai bontot (bekal) untuk pekerja tambang minyak Wonocolo di zaman kolonial Belanda.
Wonocolo dikenal sebagai pertambangan minyak tradisional. Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berbatasan dengan wilayah Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Dan sebelah timur Desa Senori, Kabupaten Tuban.
Masyarakat Wonocolo sejak lebih dari 100 tahun menggantungkan hidup dari pertambangan minyak tradisional. Mereka menambang minyak secara manual. Menggunakan kawat seling yang ditalikan di atas menara kayu berkaki tiga.
Di ujung kawat seling diberi timbal berbentuk lonjong. Timbal itu dimasukan ke dalam mulut sumur dengan kedalaman 300-350 meter dan kemudian ditarik secara bersama-sama oleh beberapa warga. Gerakan memasukkan dan menarik timbal dilakukan secara berulang. Bisa sampai 52 kali.
Setiap kali timbal ditarik dari dalam sumur mengeluarkan cairan berwarna kuning kecokelatan. Pekat. Baunya menyengat. Warga setempat menyebutnya: lantung.
Seiring berkembangnya zaman, aktivitas mluntur lantung tidak dilakukan warga secara tradisional, menggunakan tenaga manusia. Kawat seling ditarik menggunakan mesin diesel. Penambang hanya duduk mengatur timbal yang keluar masuk dari mulut.
Sejak zaman Belanda, Sego Gulung menjadi bekal praktis bagi pekerja tambang minyak tradisional. Lauknya sederhana dan awet lama. Tidak mudah basi.
Sudah seratus tahun lebih Sego Gulung bertahan. Dari dulunya sebagai bekal pekerja tambang, sekarang menjadi kuliner khas Wonocolo.
“Baru pertama kali makan ini. Penasaran. Tadi bayangan saya di dalamnya ada isinya seperti ayam suwir, daging sapi atau lain-lain. Ternyata tidak,” ujar Hidayah, warga Desa/Kecamatan Purwosari saat menikmati Sego Gulung di Depot Nasi Gulung Ummi GIG Ati Desa Wonocolo, Minggu (3/5/2026).
“Tapi enak. Teksturnya empuk, lembut dan padat. Tidak lembek seperti lontong. Ada aroma khasnya daun pisang. Apalagi disajikan dengan sambal teri dan rica-rica ayam. Mantab banget, dan harganya murah meriah,” lanjutnya memberi penilaian.

Kudapan Nasi Gulung, kata Ummi Giyati, pemilik Depot Ummi GIG Ati, bisa disajikan dengan beragam lauk. Seperti rica bebek, ceplok telur, sayur panggang (ikan laut), sayur kare ayam, dan lainnya.
“Ciri khasnya harus ada sambel teri. Juga lauknya yang pedas. Dan, satu lagi makan nasinya tetap dibungkusnya, biar terasa aroma daun pisangnya,” sergah Ummi.
Nasi Gulung mulai dikenalkan sebagai kuliner khas Wonocolo pada 2019 lalu. Ukurannya berbeda. Lauknya beragam.
“Kalau zaman dulu saat masih dijadikan bekal pekerja tambang porsinya lebih besar. Satu nasi gulung bisa dimakan sampai lima orang,” ungkap Ummi.
“Sekarang kita buat lebih kecil. Satu nasi gulung cukup dimakan satu orang. Lauknya sekarang juga bisa macem-macem,” lanjutnya.
Kuliner Nasi Gulung khas Wonocolo mulai diminati masyarakat setelah pandemi Covid-19. Banyak wisatawan luar daerah yang datang ke objek wisata Texas Wonocolo, dan mahasiswa yang melakukan riset penambangan minyak tradisional.
“Juga setiap ada kegiatan Pemkab Bojonegoro di sini selalu pesannya ke sini. Kita juga sering mengantar pesenan ke acara di Bojonegoro, seperti di Polres. Sempat dapat pesananan sampai 350 bukung,” tuturnya.
“Kalau pesanan dari Pertamina malah nggak pernah. Yang banyak dari instansi pemerintah,” ucapnya sambil memasukan Nasi Gulung dalam kotak untuk melayani pesanan.

Ummi mengaku bisa menghabiskan 1 kwintal beras dalam sepakan hingga delapan hari untuk membuat Nasi Gulung. Baik dijual di depotnya atau memenuhi pesanan. Harga per bungkus Rp 7 ribu sudah termasuk satu cup sambal teri.
“Kalau tambah lauk seperti rica ayam harga per porsinya lima belas ribu rupiah. Tapi tergantung mintanya lauk apa. Juga ngantar pesanannya kemana, kalau acara di sini saja tidak usah ongkir. Kalau seperti ke Kota Bojonegoro minimal pesannya 50 bungkus dan ada ongkirnya,” kata Ummi.
Selain memenuhi pesanan dan depotnya, Ummi juga rutin menjual Nasi Gulung di car free day di alun-alun Bojonegoro. Serta mempromosikannya di beberapa media sosial (medsos).
“Kalau mau pesan Nasi Gulung khas Wonocolo untuk acara kantor, sekolahan, hajatan atau lainnya bisa menghubungi nomor WA: 085213133231. Tapi pesannya satu hari sebelum acara,” ujarnya.
Umi menjelaskan, membuat Nasi Gulung membutuhkan empat proses dengan durasi waktu empat jam. Mulai dari mencuci beras, menanak menjadi nasi liwet, membungkusnya dengan daun pisang secara brlipat-lipat dan diikat rapat, dan terakhir dimasak lagi sampai matang. Ia dibantu suami dan dua anak perempuannya.
“Daun pisang yang dipakai bungkus juga tidak sembarangan. Harus pakai daun pisang klutuk atau daun pisang siem yang banyak tumbuh di hutan,” pungkasnya.
Umi berharap geopark Bojonegoro bisa ditetapkan menjadi Unesco Global Geopark (UGGp), sehingga bisa menjadi daya tarik wisatawan luar daerah hingga mancanegara untuk datang ke Wonocolo.
“Jika banyak pengunjung yang datang ke sini tentu pelaku UMKM seperti kami, penjual Nasi Gulung khas Wonocolo bisa meningkatkan omset penjualan,” pungkasnya.(red)




