SuaraBanyuurip.com – Suasana Pondok Pesantren (Ponpes) Irsyaduth Tholabah II (Pesantren IT) di Dusun Rowobayan, Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Jumat (15/5/2026) malam, terlihat berbeda.
Di jalan masuk pesantren yang berada di tengah persawahan terparkir kendaraan roda empat dan dua. Berderet rapi.
Di tengah pelataran pesantren IT digelar tikar plastik warna merah. Sebagian ditutupi karpet. Seniman, budayaman dan sejumlah komunitas dari Bojonegoro dan luar daerah duduk gayeng. Berbaur dengan warga. Menikmati camilan pala pendem.
Di kanan dan kiri halaman tertancap obor. Di ujung timur ada bangunan joglo tua. Ukurannya tak begitu besar. Lampu temaram tergantung di atas pohon kersen menyorot ke joglo.
Di pintu masuk Posantren IT para santri tampak sibuk. Menyambut tamu yang terus bedatangan. Tangannya memegang janur kuning. Ada pula yang ditalikan di lengan.
Janur kuning yang diikatkan di lengan sebagai tanda pengenal. Selain itu memiliki filosofi sejating nur atau cahaya sejati. Sedangkan warna kuning melambangkan niat suci dan harapan baru.
Suasana riuh tiba-tiba hening. Seorang pria berpakaian sederhana menggendong rinjing (tas dari bambu) berisi janur kuning dan bunga ronce keluar dari joglo.
Dia adalah Rendra Bagus Pamungkas. Peneliti independen Perang Jawa dan pengelola forum Konservatorium Islam Jawa dari Yogyakarta.
Rendra membuka sarasahen sejarah dan budaya Padangan bertema “Pager Negoro: Merawat Warisan, Menyongsong Masa Depan” yang diselenggarakan oleh Pesantren IT, dengan monolog sekuel Perang Jawa.
Penampilan Rendra menghipnotis pengunjung. Kisah yang dibawakan dengan gaya khasnya cukup menyentuh. Penampilannya ditutup dengan kidung ronce melati syarat makna. Melambangkan kesucian, ketulusan, keharuman budi perkerti, dan simbol cinta abadi.

Usai penampilan Rendra. Pengasuh Pesantren IT II, Gus Arya Sabiila bersama putranya dan santrinya tampil membawakan kidung “Pager Negoro”. Lirik kidung mengenalkan sejarah Padangan. Mengajak generasi menguri-uri budaya. Mengingatkan perjuangan leluhur.
Sarasehan sejarah dan budaya Padangan dimulai. Budayawan Bojonegoro, A. Wahyu Rizkiawan mulai membedah sejarah Padangan. Penulis Tarikh Padangan dan Peradaban Nggawan, itu banyak menyampaikan bukti-bukti sejarah hasil penelitiannya terkait peradaban Islam Padangan abad ke-16 hingga ke-19 berdasarkan manuskrip kuno dan berbagai bukti primer lainnya.
Rizki juga menceritakan tentang perlawanan ulama terhadap penjajahan. Perlawanan terhadap penebangan pohon jati di wilayah Bojonegoro, Madiun, Ngawi dan Magetan.

Narasumber lainnya, Triyoga Wahyu Riyanto, akademisi dan peneliti asal Yogyakarta lebih banyak menjelaskan tentang Perang Jawa di tahun 1825–1830.
Dipandu moderator host Podcast Dewan Jegrank, Agus Salim, sarasehan menjadi hidup. Peserta yang hadir diberikan kesempatan bertanya untuk memperdalam materi yang disampaikan para narasumber.
Sarasehan sejarah dan budaya Padangan mendapat apesiasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro.Kegiatan ini baru pertama kali diselenggarakan oleh ponpes di Bojonegoro.
Kepala Disbudpar Bojonegoro, Elzadeba Agustina, menyampaikan, Padangan memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa. Tradisi, situs sejarah, dan nilai-nilai kearifan lokal yang tumbuh di masyarakat merupakan warisan yang harus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi muda,
“Forum sarasehan ini menjadi langkah penting untuk menggali, mendokumentasikan, dan melestarikan sejarah serta budaya lokal sebagai identitas daerah,” tuturnya.
Elzadeba menegaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mendukung penuh berbagai inisiatif masyarakat dalam upaya pelestarian budaya lokal.
“Sarasehan ini diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan positif yang dapat ditindaklanjuti untuk pengembangan budaya lokal di Padangan dan Bojonegoro,” tandasnya.
Pengasuh Pesantren IT II, Gus Arya mengatakan, sarasehan sejarah dan budaya Padangan ini untuk membangun kesepahaman bersama lintas sektor tentang potensi dan arah pengembangan Padangan sebagai kawasan heritage. Selain itu merumuskan konsep Padangan sebagai Living Museum atau kawasan “Pager Negoro” yang
hidup dan berkelanjutan.
“Padangan menyimpan warisan yang
terlalu berharga untuk dibiarkan tersebar tanpa titik temu. Forum ini adalah langkah pertama untuk menyatukannya, bukan atas nama satu pihak, melainkan atas nama Padangan. Padangan untuk Bojonegoro, Bojonegoro untuk Nusantara,” pungkasnya.(red)



