SuaraBanyuurip.com – Petani Desa Tengger, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah merasakan dampak program pertanian berkelanjutan yang dilaksanakan operator lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Mereka mampu menekan biaya produksi jagung hingga 30 persen dibanding sebelum mengenal konsep pertanian berkelanjutan.
Desa Tengger berada di kawasan hutan. Mayoritas masyarakatnya adalah petani. Lahan pertaniannya merupakan sawah tadah hujan.
Desa Tengger merupakan salah satu desa di Kabupaten Bojonegoro, yang dilalui jalur pipa minyak mentah Banyu Urip menuju lepas pantai Palang Tuban. Desa ini menjadi sasaran program pelibatan dan pengembangan masyarakat (PPM) EMCL.
Program PPM pertanian berkelanjutan yang dilaksanakan EMCL mendapar didukung penuh SKK Migas. Bermitra dengan INSPEKTRA, program ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga mendorong petani agar mampu mengembangkan pola usaha tani yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, INSPEKTRA selaku pengampu program bersama kelompok tani mengembangkan sejumlah pendekatan pembelajaran yang memungkinkan petani mendapatkan pengetahuan sekaligus mempraktikkannya secara langsung di lapangan.
Salah satunya melalui demo plot (Demplot) yang difungsikan sebagai lahan belajar bagi petani. Di lahan tersebut, petani dapat melihat secara langsung penerapan praktik pertanian berkelanjutan, mencoba teknik budidaya, serta mempelajari pemanfaatan pupuk organik dalam kegiatan pertanian.
Selain Demo Plot, INSPEKTRA juga mengembangkan Jagong Tani sebagai ruang belajar dan berdiskusi bagi petani. Forum tersebut menjadi tempat petani bertukar pengalaman, membahas persoalan pertanian yang dihadapi, sekaligus belajar bersama mengenai praktik pertanian yang lebih efisien.
Petani Belajar Membuat Pupuk Organik Sendiri
Salah satu materi yang dikembangkan dalam kegiatan tersebut adalah pembuatan pupuk organik secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Petani dikenalkan proses pengolahan bahan organik, mulai dari penyiapan bahan, pencacahan, pencampuran, pengolahan hingga pengemasan.

Petani Tengger dapat melihat proses secara langsung, mempraktikkannya bersama kelompok, kemudian menerapkan pengetahuan tersebut di lahan masing-masing. Praktik ini sekaligus menjadi upaya untuk memanfaatkan limbah organik agar memiliki nilai guna dan dapat mendukung kebutuhan pertanian.
Ketua Kelompok Tani Desa Tengger, Puryaji, mengatakan keberadaan Demo Plot dan Jagong Tani membantu petani memahami inovasi pertanian secara lebih mudah.
“Kalau belajar langsung di lahan, petani lebih mudah memahami. Kami bisa melihat prosesnya, mencoba sendiri, kemudian membandingkan hasilnya. Di Jagong Tani kami juga bisa berdiskusi dengan petani lain mengenai pengalaman masing-masing,” ujar Puryaji.
Menurut dia, kemampuan membuat pupuk organik sendiri memberikan pengetahuan baru bagi petani. Selain dapat memanfaatkan bahan yang ada di sekitar, petani juga memiliki alternatif untuk mengurangi pengeluaran dalam memenuhi kebutuhan usaha tani.
“Yang paling dirasakan petani adalah biaya produksi bisa lebih ditekan. Kami juga belajar memanfaatkan bahan yang ada di sekitar sehingga tidak semuanya harus membeli. Dengan biaya yang lebih rendah, harapannya pendapatan petani bisa semakin baik,” tambahnya.
Petani Tak Sekadar Kejar Produktivitas
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Ngasem, Sugiyono menjelaskan, efisiensi biaya merupakan bagian penting dalam meningkatkan keuntungan usaha tani.

Menurutnya, petani tidak cukup hanya didorong untuk meningkatkan produktivitas. Mereka juga harus memiliki kemampuan menghitung dan mengendalikan biaya produksi agar usaha tani yang dijalankan memberikan keuntungan yang lebih optimal.
“Petani tidak hanya kita dorong untuk mengejar produktivitas, tetapi juga bagaimana biaya produksinya efisien. Pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap input dari luar,” tegasnya.
Sugiono menilai keberadaan Demo Plot dan Jagong Tani menjadi bagian penting dalam proses transfer pengetahuan kepada petani.
“Pertanian itu tidak cukup hanya dengan teori. Petani perlu melihat dan mencoba langsung. Demo Plot menjadi tempat belajar di lapangan, sementara Jagong Tani menjadi ruang untuk bertukar pengalaman. Kalau dua pendekatan ini berjalan bersama, proses adopsi teknologi pertanian akan lebih mudah,” jelas Sugiono.
Menurutnya, pembelajaran berbasis praktik juga dapat memperkuat kapasitas kelompok tani. Petani tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dapat menjadi pelaku yang mencoba, mengevaluasi, dan mengembangkan inovasi sesuai kondisi di lapangan.
INSPEKTRA Dorong Kemandirian Petani
Perwakilan LSM INSPEKTRA, Handoko mengatakan, demplot dan Jagong Tani dirancang sebagai bagian dari strategi untuk membangun kemandirian petani. Menurutnya, program tidak ingin hanya menghasilkan kegiatan sesaat. Pengetahuan dan keterampilan yang diberikan diharapkan dapat terus digunakan oleh petani setelah pendampingan berakhir.
“Kami tidak ingin petani hanya mendapatkan pengetahuan secara teori. Melalui demplot, petani bisa melihat dan mempraktikkan langsung di lahan. Sedangkan Jagong Tani menjadi ruang untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, dan mencari solusi bersama atas persoalan pertanian yang mereka hadapi,” ujar Handoko.

Ia mengatakan salah satu kemampuan yang terus didorong adalah keterampilan petani dalam membuat pupuk organik secara mandiri.
“Harapannya petani semakin mandiri. Kalau pupuk organik bisa dibuat sendiri dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar, maka ada biaya produksi yang dapat ditekan. Pada saat yang sama, petani juga belajar menjaga kesuburan tanah dan mengurangi limbah organik,” tambahnya.
Handoko menegaskan, keberhasilan program pertanian berkelanjutan di Desa Tengger tidak semata-mata diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari perubahan perilaku dan kemampuan masyarakat dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
“Ukuran keberhasilan program adalah ketika pengetahuan tersebut terus digunakan oleh masyarakat. Petani semakin mandiri, biaya produksi bisa ditekan, lingkungan lebih terjaga, dan usaha tani tetap produktif. Itu yang kami harapkan dari penerapan pertanian berkelanjutan di Desa Tengger,” katanya.
Biaya Produksi Jagung Turun 15–30 Persen
Berbagai pendekatan yang digunakan terbukti berhasil. Petani jagung Desa Tengger mampun meningkatan efisiensi produksi. Biaya produksi jagung turun sekitar 15 hingga 30 persen.
Penurunan tersebut menjadi capaian penting bagi petani di tengah tantangan meningkatnya biaya berbagai kebutuhan produksi pertanian. Dengan biaya produksi yang lebih rendah, petani memiliki peluang untuk meningkatkan margin pendapatan dari hasil panen.
Efisiensi tersebut juga tidak hanya berasal dari upaya mengurangi penggunaan input, tetapi dari perubahan cara berpikir petani dalam mengelola usaha tani. Petani didorong untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia, mengolah bahan organik secara mandiri, serta menggunakan sarana produksi secara lebih tepat dan efisien.
“Kami tidak lagi tergantung pada obat-obatan pabrikan, karena petani sudah bisa membuat pupuk organik sendiri,” timpal Puryaji.
Dari Lahan Belajar Menuju Kemandirian
Keberadaan demplot dan Jagong Tani menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan program karena proses belajar berlangsung secara partisipatif. Petani dapat belajar dari praktik di lahan, berdiskusi dalam kelompok, kemudian mengembangkan pengalaman tersebut sesuai kondisi masing-masing.
Puryaji berharap pola pembelajaran tersebut dapat terus dilakukan sehingga semakin banyak petani yang mampu menerapkan pertanian berkelanjutan secara mandiri.
“Kami berharap apa yang sudah dipelajari bisa terus dilakukan oleh petani. Kalau bisa membuat sendiri dan memanfaatkan bahan yang tersedia, tentu akan membantu mengurangi biaya. Yang penting petani mau belajar dan menerapkannya secara bersama-sama,” ujarnya.
Keberhasilan program pertanian berkelanjutan di Desa Tengger tidak hanya berbicara tentang penurunan biaya produksi. Tetapi juga tentang membangun kapasitas dan kemandirian petani.
Melalui dukungan EMCL, pendampingan INSPEKTRA, peran penyuluh pertanian, serta keterlibatan aktif kelompok tani, demplot dan jagong tani menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan, praktik, dan pengalaman petani.(red)





