SuaraBanyuurip.com – Pemandangan tak biasa dipertunjukkan siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Puluhan anak-anak berlarian berebut sampah. Masing-masing berusaha agar tidak ada lagi sampah yang menumpuk, bercampur, apalagi berantakan. Sampah bekas makan bergizi gratis (MBG) pun ludes mereka sapu bersih dari lingkungan sekolah.
Beberapa di antaranya menata tong sampah terpilah bertuliskan organik, anorganik, dan residu. Kepala sekolah dan beberapa guru sibuk memberi arahan. Memastikan semua siswa bekerjasama.
“Hari ini kami sedang mengajak anak-anak agar tumbuh rasa peduli lingkungan, membangun karakter yang peka bila ada sampah,” ujar Maskun, Kepala Sekolah SD Negeri 1 Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan yang bertajuk “Aksi Pilah Sampah” itu merupakan bagian dari Program Kampanye Praktik Baik Pengelolaan Sampah di Sekolah dan Komunitas Aliran Sungai. Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) itu diprakarsai ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas yang menggandeng Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI) sebagai pendamping.
Aksi Pilah Sampah ini berlangsung di dua sekolah dasar desa setempat. Selain siswa dan guru, Pemerintah Desa Sudu, Dinas Pendidikan, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro juga mendukung gerakan ini. Selain ke sekolah, program juga menyasar warga di sepanjang bantaran sungai Bengawan Solo di sepanjang desa tersebut.
“Kami melakukan pelatihan, pendampingan bank sampah, gotong royong mendirikan TPS 3R, dan hari ini membangun kesadaran para siswa dan guru,” ucap manager program YDTI, Rudy Susilo.
Rudy menjelaskan, program ini diharapkan bisa memperkuat gerakan masyarakat Desa Sudu dalam menjaga lingkungan bersih. Selain itu, kedua SD Negeri di Sudu menargetkan sekolahnya meraih gelar Sekolah Adiwiyata. Dorongan program, kata dia, diharapkan mampu membangun ekosistem dan kesadaran kolektif yang kuat di masyarakat pada semua level.

Sementara itu, perwakilan EMCL, Almaliki Ukay Sukaya Subqy menegaskan bahwa gerakan bersama mengelola sampah ini merupakan komitmen industri hulu migas untuk mendukung Pemerintah Kabupaten dalam mewujudkan Bojonegoro yang bersih. Inisiatif masyarakat yang sudah menjalankan bank sampah, kata dia, perlu didorong dengan penguatan kapasitas dan sarana yang memadai.
“Para siswa ini adalah para pemimpin Desa Sudu di masa yang akan datang. Aksi ini bentuk upaya kita menanam memori baik peduli lingkungan pada anak,” papar pria yang akrab dipanggil Malik itu.
Menurut Malik, membangun kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan itu perlu didorong dari semua dimensi. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Sejak dari rumah hingga sekolah dan tempat ibadah.
“Kesadaran lingkungan itu sejatinya dibangun dari adaptasi tradisi yang ada di masyarakat, dengan menambahkan pengetahuan, pengalaman, dan keyakinan bahwa lingkungan harus dijaga bersama,” imbuh praktisi komunikasi lingkungan ini.
Malik menambahkan, program pengembangan masyarakat ini dibangun dari tradisi masyarakat yang sudah ada. Melalui majelis pengajian, arisan ibu-ibu, hingga tempat berkumpulnya bapak-bapak di warung kopi. Termasuk menjadikan tema lingkungan sebagai materi ajar mata pelajaran menggambar di sekolah dasar.
“Mulai hari ini hingga akhir tahun, setiap kali pelajaran menggambar, para siswa akan menuangkan imajinasi mereka tentang lingkungan,” pungkasnya.(red)





