Warga Bojonegoro Temukan Fosil Rahang Manusia Purba di Bengawan Solo

Fosil Rahang Manusia Purba
Warga Bojonegoro Temukan Fosil Rahang Manusia Purba di Bengawan Solo.(istimewa)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro – Penemuan fosil rahang bawah yang diduga berasal dari manusia purba di kawasan Sungai Bengawan Solo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berpotensi menjadi temuan penting bagi dunia arkeologi, sejarah, dan paleontologi.

‎Fosil tersebut telah dilaporkan kepada instansi terkait dan sedang menunggu penelitian lanjutan untuk memastikan spesiesnya.

‎Fosil itu ditemukan oleh Deprian Agus Salim (34), warga Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, pada 20 Juni 2026. Sehari-hari, Deprian bekerja sebagai penjual daging beku (frozen food).

‎Saat itu, sekitar pukul 10.00 WIB, Deprian melintas dari arah Kalitidu. Usai mengantar dagangan, dia berhenti di tepi Sungai Bengawan Solo untuk beristirahat sambil melihat-lihat sungai. Sejak beberapa bulan terakhir, dia memang mulai menekuni pencarian fosil.

‎Penemuan tersebut terjadi tanpa disengaja. Awalnya sebuah benda keras mengenai kakinya.

‎”Saya kira pegangan gelas. Setelah saya lihat lebih dekat ternyata fosil rahang,” kata Deprian kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (6/8/2026).

‎Fosil itu berada di permukaan lapisan pasir dengan sebagian kecil masih tertanam kurang dari satu sentimeter di dalam tanah. Bersamaan dengan fosil rahang tersebut, Deprian juga menemukan sejumlah fosil mamalia darat, di antaranya rahang babi purba, tulang belakang, dan tulang kering.

Baca Juga :   KPU Bojonegoro : Logistik Pilkada Serentak 2024 Sudah Siap
Cagar budaya
Pendata Benda Bersejarah dan Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur, Ahmad Satria Utama (kemeja krem).(istimewa)

‎Ketertarikan Deprian terhadap sejarah sebenarnya sudah tumbuh sejak 2014. Namun, saat itu dia lebih fokus pada dunia numismatik. Baru sejak Februari 2026 aktif turun ke lapangan untuk belajar mengenali fosil dengan mendatangi para pegiat, termasuk Pendata Benda Bersejarah dan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Provinsi Jawa Timur Ahmad Satria Utama serta Ali Syafaat.

‎”Dulu saya belum bisa membedakan mana fosil dan mana batu biasa. Setelah belajar dari para senior, saya mulai sedikit demi sedikit bisa mengenalinya,” ujarnya.

‎Dia mengaku, sangat terkejut sekaligus bahagia atas penemuan tersebut karena selama ini berbagai pencarian yang dilakukan di wilayah Bojonegoro bagian barat belum pernah membuahkan hasil.

‎”Saya merasa ini panggilan moral. Setiap menemukan benda bersejarah selalu saya data dan saya laporkan karena saya mencintai sejarah,” ucapnya.

‎Sementara itu, Pendata Benda Bersejarah dan ODCB Provinsi Jawa Timur, Ahmad Satria Utama, mengatakan, hasil identifikasi awal menunjukkan fosil tersebut merupakan bagian mandibula atau rahang bawah mamalia golongan primata yang termasuk sub-suku Hominina.

‎Menurutnya, fosil rahang bawah tersebut dipastikan berasal dari hominin atau manusia purba yang selama ini dicari. Namun, untuk memastikan apakah termasuk spesies Homo erectus atau Homo sapiens, masih diperlukan penelitian lebih lanjut oleh para ahli.

Baca Juga :   Lumpang Kenteng Mlinjeng Bojonegoro Didaftarkan Cagar Budaya

‎Ahmad Satria menjelaskan, kondisi fosil telah mengalami mineralisasi sempurna sehingga menyerupai batu. Bobotnya jauh lebih berat dibandingkan tulang biasa akibat endapan mineral besi dan mangan dari aliran Sungai Bengawan Solo.

‎Secara anatomi, bagian corpus atau badan rahang depan masih utuh dengan bentuk huruf “U” parabolik. Sementara bagian ramus atau cabang rahang kiri dan kanan telah patah yang diduga terjadi setelah kematian. Di dalam soket alveolus juga masih terdapat tiga gigi geraham asli dengan tingkat keausan yang cukup tinggi pada permukaan kunyah.

‎Temuan tersebut telah dilaporkan Deprian kepada Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro. Laporan serupa juga disampaikan kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Timur.

‎Pada 23 Juli 2026, dua orang ahli dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur turun ke lokasi untuk melakukan verifikasi lapangan dan pendataan bersama petugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro.

‎”Selanjutnya, hasil temuan ini telah diteruskan kepada Bidang Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur untuk mendapatkan tindak lanjut penelitian,” tandas Ahmad.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait