SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro – Operator Lapangan Minyak dan Gas Bumi (Migas) Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) mendorong peran aktif perempuan dalam upaya pelestarian kawasan hulu hutan. Pelibatan perempuan dalam pelestarian hutan ini diperkuat melalui Program Penghijauan Tahun 2026.
Progam penghijauan yang diprakarsai oleh EMCL ini mendapat dukungan penuh dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
Dalam hal ini, EMCL menggandeng IDFoS Indonesia sebagai fasilitator dengan menyelenggarakan Pelatihan Gender Action Learning System (GALS) di Balai Desa Sekar, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro. Pesertanya terdiri para ibu dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Sekar Makmur 2 dan para warga Dusun Sekar lainnya.
Kegiatan ini diarahkan untuk membekali masyarakat, khususnya kaum perempuan atau ibu-ibu di Desa Sekar, dalam merancang visi hidup masa depan, mengenali peluang, hingga memetakan tantangan sosial dan lingkungan di tingkat keluarga maupun kelembagaan kelompok.
Dalam sesi pembelajaran partisipatif ini, peserta diajak memvisualisasikan impian dan rencana aksi lingkungan melalui metode gambar buatan sendiri. Pendekatan visual GALS ini mendorong peserta untuk merumuskan langkah konkret dalam perbaikan ekosistem sekaligus meningkatkan peran perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat desa.
Perwakilan Pemerintah Desa (Pemdes) Sekar, Mimin, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini dan berpesan agar seluruh peserta mengikuti rangkaian proses dengan sungguh-sungguh. Pemdes Sekar, kata dia, berharap ilmu dan pengetahuan praktis yang didapatkan dari pelatihan GALS ini dapat diterapkan secara nyata serta digetoktularkan ke lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.
”Demi keberlanjutan kelestarian lingkungan Desa Sekar,” ujarnya.
PIC Program EMCL, Ali Mahmud, mengatakan, keterlibatan berbagai pihak menjadi salah satu kunci agar upaya penghijauan dapat berjalan lebih optimal dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Kami berharap dari kegiatan ini semua pihak dapat terlibat dalam upaya baik ini. Dengan keterlibatan bersama, tentu hasil yang dicapai akan jauh lebih baik,” kata Ali Mahmud kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (20/8/2026).
”Pelatihan GALS berlangsung selama dua hari, 18–19 Agustus 2026,” beber Manajer Program IDFoS Indonesia, Laily Mubarokah, selaku fasilitator bersama dua rekan satu lembaga, yakni Devi dan Sri Komariyah.
Laily, begitu karib disapa, menekankan pentingnya pemulihan kawasan hutan Sekar demi mencegah bencana hidrometeorologi di wilayah hilir.
Desa Sekar disebutnya masuk dalam wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo, tepatnya sub-DAS Sungai Gandong yang wilayah hilirnya kerap terimbas banjir.
”Program ini hadir untuk memperbaiki kawasan hulu karena ketiadaan daerah tangkapan air akibat hutan yang gundul dapat memicu terjadinya banjir bandang,” terangnya.
Melalui pelatihan GALS, kaum perempuan diharapkan memiliki ruang dialog yang setara serta terdorong untuk memberikan masukan dan mengajak kaum pria bersama-sama menanam pohon demi memulihkan kawasan hutan.
”Penanaman pohon dalam Program Penghijauan 2026 ini salah satunya dipusatkan di kawasan Petak 161, yang berada di dekat Sendang Gujel,” pungkasnya.(fin)





