SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Sekar Makmur 2, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berusaha lepas dari ketergantungan obat-obatan kimia pabrikan. Melalui pembekalan intensif racikan fungisida semi nabati, mereka kini bersiap mengelola perlindungan tanaman secara swadaya demi menghemat biaya operasional pertanian.
Langkah penguatan kapasitas ini dikemas dalam Program Penghijauan 2026 yang diinisiasi oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas, dengan menggandeng IDFoS Indonesia sebagai mitra pelaksana pelatihan teknis.
Bagi masyarakat penerima manfaat, program ini menjawab kegelisahan mereka terkait melonjaknya harga obat pertanian kimia yang kerap kali membebani dompet peternak dan petani hutan setempat.
Anggota KTH Wono Sekar Makmur 2, Nuril mengaku, bersyukur atas pengetahuan baru yang didapat. Selama ini, para petani lokal terbiasa membeli obat-obatan tanpa memahami kandungan bahan aktif di dalamnya, yang justru memicu hama menjadi kebal (resisten).
Bagi dia, program ini juga sangat bermanfaat untuk para petani hutan. Sebab petani kini jadi lebih paham cara mengendalikan hama dengan tepat, tidak lagi asal beli obat pabrik.
”Ini sangat membantu kami mengurangi biaya operasional,” ujar Nuril.

Di wilayah Sekar, komoditas utama warga didominasi oleh tanaman jagung, bawang merah, dan cabai. Pengalihan metode ke arah semi organik dengan memanfaatkan belerang (sulfur) dan Kalium Hidroksida (KOH) ini dinilai menjadi kunci utama untuk menekan modal tanam sekaligus menjaga kesuburan tanah.
Perwakilan EMCL, Ali Mahmud, menegaskan, bahwa keterlibatan industri hulu migas dalam program ini merupakan wujud nyata dukungan industri hulu migas terhadap prioritas pembangunan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, khususnya di sektor ekologi dan penguatan ekonomi akar rumput.
”Program ini merupakan komitmen berkelanjutan dari industri hulu migas untuk berjalan beriringan dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam menjaga kelestarian lingkungan serta mendongkrak kesejahteraan para petani hutan,” katanya kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (1/8/2026).
Melalui peningkatan keahlian ini, Ali berharap, KTH mampu mandiri secara ekonomi, memiliki ketahanan pangan yang lebih baik, sekaligus tetap menjaga lahan pertanian tetap subur dan produktif.
Sementara itu, Manager Program IDFoS Indonesia, Laily Mubarokah, mengamini pentingnya pemutusan rantai ketergantungan kimia di tingkat tapak. Karena pemulihan lahan tidak bisa instan dan harus dimulai dari komitmen kelompok tani.
”Pelatihan taktis digelar langsung di kediaman salah satu anggota kelompok tani di Kecamatan Sekar, Kamis kemarin,” bebernya
Lewat pelatihan itu, lanjut dia, petani perlahan beralih ke pengelolaan semi organik agar lingkungan dan lahan pertanian tetap produktif dalam jangka panjang.
“Keterampilan baru ini diharapkan terus ditularkan secara gotong royong di antara sesama anggota kelompok tani hutan,” tutur Laily.
Dalam sesi praktik, praktisi pertanian sekaligus pemateri program, Hilal, mengingatkan warga agar kunci keberhasilan pertanian mandiri ini bertumpu pada ketelatenan pengamatan di lapangan. Penggunaan bahan aktif harus melihat kondisi lingkungan sekitar, termasuk kecukupan air.
“Kuncinya ada pada pengamatan rutin yang memenuhi prinsip tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat dosis,” pungkas Hilal.(fin)





