SuaraBanyuurip.com — Kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi perhatian serius berbagai pihak. Operator lapangan unitisasi gas Jamnaran-Tiung Biru (J-TB), Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (Cepu) mengajak pesanggem (masyarakat penggarap lahan hutan) di wilayah operasinya mencegah Karhutla.
Upaya tersebut dilakukan Pertamina EP Cepu melalui kegiatan Sosialisasi Keamanan dan Keselamatan Fasilitas Lapangan Gas JTB di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pada 28 Agustus 2026. Kegiatan menyasar para petani penggarap lahan hutan atau pesanggem di sekitar Gas Processing Facility (GPF) JTB.
Sosialisasi yang dilaksanakan Pertamina EP Cepu ini sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap pencegahan dan penanganan Karhutla di berbagai wilayah Indonesia. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan pentingnya penanganan Karhutla secara serius dan terpadu. Sebab bisa memberi dampak terhadap keselamatan masyarakat, kesehatan, lingkungan, serta aktivitas sosial dan ekonomi.
Deputy Field Manager JTB, Andy Suhendro menyampaikan, sosiaslisasi ini menjadi bagian dari langkah preventif PEPC Lapangan JTB untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai risiko pembakaran lahan. Sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga keamanan dan keselamatan fasilitas operasi JTB yang merupakan bagian dari Objek Vital Nasional (Obvitnas) di sektor energi.
Andy menegaskan, pelibatan masyarakat menjadi kunci dalam mencegah potensi kebakaran sejak dini, terutama karena sebagian masyarakat masih menggunakan metode pembakaran untuk membersihkan lahan sebelum musim tanam.
“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa membakar lahan bukanlah solusi untuk membersihkan lahan karena api dapat dengan mudah menyebar dan menjadi kebakaran yang tidak terkendali, terlebih ketika lokasinya berada di sekitar fasilitas operasi,” ujarnya dikutip, Kamis (10/9/2026).
Menurut Andy, pencegahan Karhutla bukan hanya terkait perlindungan lingkungan, tetapi juga merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan masyarakat dan keandalan operasi fasilitas JTB.
“Karena itu, kami mengajak para pesanggem menjadi bagian dari sistem pencegahan. Ketika masyarakat memahami risikonya dan mengetahui apa yang harus dilakukan, potensi kejadian dapat kita cegah bersama sejak awal,” tambahnya.

Penyuluhan ini untuk memberikan pemahaman tentang karhutka secara komprehensif, karena menghadirkan narasumber dari berbagai pemangku kepentingan. Diantaranya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro memberikan materi mengenai pencegahan dan mitigasi Karhutla, termasuk langkah-langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi potensi kebakaran.
Sementara itu, Perum Perhutani melalui Administratur (ADM) KPH Bojonegoro memberikan edukasi mengenai pengelolaan lahan hutan serta penerapan praktik pertanian tanpa bakar sebagai alternatif dalam mempersiapkan lahan sebelum musim tanam.
Juga dari pihak kepolisian memberikan pemahaman mengenai ketentuan hukum serta konsekuensi dan sanksi terhadap praktik pembakaran hutan dan lahan.
Sebagai bentuk komitmen bersama, seluruh peserta menandatangani pakta integritas pencegahan Karhutla. Pakta tersebut menjadi simbol kesepakatan bersama untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta turut menjaga kawasan hutan di sekitar wilayah operasi dari potensi kebakaran.
Pertamina EP Cepu juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dengan menyerahkan secara simbolis alat pompa punggung pemadam kebakaran lahan kepada perwakilan kelompok petani hutan. Peralatan tersebut diharapkan dapat mendukung upaya penanganan awal apabila terjadi potensi kebakaran di sekitar area aktivitas masyarakat.
“Kami percaya bahwa menjaga keselamatan fasilitas dan lingkungan tidak dapat dilakukan sendiri. Diperlukan kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, dan pengelola kawasan hutan. Ketika semua pihak memiliki kepedulian yang sama, pencegahan akan jauh lebih efektif,” pungkas Andy.(red)





