SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Bolo JTB binaan Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 di Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menghadapi kendala kekurangan bahan baku gerut untuk produksi emping.
Gerut merupakan tanaman umbi-umbian yang dikenal dengan nama ilmiah Maranta Arundinacea L. Tanaman ini tumbuh di sejumlah kawasan, termasuk di sekitar hutan, di bawah tegakan pohon jati, maupun pekarangan. Umbi gerut dapat diolah menjadi berbagai produk pangan, salah satunya emping. Ketersediaan bahan bakunya bergantung pada musim tanam dan panen.
Pemilik usaha Sumala Snack, Ika Furi Sumiati, mengatakan, permintaan emping gerut yang semakin baik membuat kebutuhan bahan baku meningkat. Sayangnya pasokan gerut dari petani sekitar belum mampu memenuhi kebutuhan produksinya.
“Alhamdulillah, emping gerut kami bagian dari UMKM Bolo JTB sukses di pasaran, tapi butuh bahan lebih banyak,” kata Ika Furi Sumiati kepada SuaraBanyuurip.com, Senin (19/10/2026).
Pengelola usaha emping gerut sejak 2007 itu juga mengembangkan sejumlah produk camilan lain. Seperti olahan ketela ungu, kacang sangrai, keripik pisang, dan berbagai jenis kerupuk.
Dari sejumlah produk tersebut, emping gerut yang membutuhkan penanganan khusus, terutama dalam penyediaan bahan baku. Gerut umumnya ditanam pada musim hujan dan dipanen saat musim kemarau. Setelah dipanen, umbi harus dikeringkan terlebih dahulu untuk dijadikan persediaan bahan baku yang siap diolah.

Karena itu, Ika berupaya mengumpulkan dan menyimpan gerut setiap kali musim panen tiba. Meski begitu, persediaan yang terkumpul masih belum mencukupi kebutuhan produksi.
“Kalau ada pekarangan nganggur, silakan tanami gerut, nanti setor ke kami,” ujar perempuan yang akrab disapa Mbak Sum ini.
Wanita yang berhasil menyekolahkan putranya hingga perguruan tinggi dari hasil usahanya ini, bersedia membeli gerut dengan harga Rp4.000 per kilogram (kg). Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Ika harus mencari bahan baku hingga ke luar wilayah Kecamatan Ngasem.
Dalam sehari, dia berupaya mengumpulkan sekitar 20 kg gerut basah. Setelah melalui proses pengeringan, bobotnya menyusut menjadi sekitar 4 kg. Artinya, dari setiap 20 kg gerut sebelum dikeringkan, hanya diperoleh sekitar 4 kg bahan kering.
“Kendala kami ini kami atasi dengan cara menumpuk gerut setiap panen, ini pun masih kurang sampai sekarang,” ungkapnya.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari semakin berkembangnya pemasaran produk Sumala Snack. Pendampingan yang diberikan oleh LIMA2B membantu pelaku UMKM meningkatkan kualitas pengolahan, pengemasan (packaging), hingga pemasaran melalui lokapasar (marketplace).
Perwakilan LIMA2B, Didik Jatmiko, mengatakan, pendampingan terhadap UMKM Bolo JTB telah dilakukan sejak 2023. Pada tahun tersebut, para pelaku usaha juga mendapat kesempatan memamerkan sekaligus memasarkan produk mereka dalam Forum Komunikasi dan Pameran Nasional (Fokapnas) di Jakarta dengan dukungan PEPC.
“Pada 2024, kami juga memberikan pembekalan manajemen keuangan, dan lanjut public speaking pada 2025. Lalu, 2026 ini, satu binaan kami lolos ikut trade expo Indonesia,” tutur Kak Didik, sapaan akrabnya.
Peningkatan pemasaran, lanjut Kak Didik, perlu diimbangi dengan ketersediaan bahan baku agar pelaku usaha dapat memenuhi permintaan pasar. LIMA2B akan mengupayakan penyediaan lahan untuk budidaya gerut, melalui kerja sama dengan masyarakat yang difasilitasi PEPC.
Sementara itu, Associate Community Relation and Community Involvement and Development (CID) Zona 12, Bedhah Adityo Nugroho, menjelaskan, UMKM Bolo JTB merupakan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) PEPC-JTB.
Sumala Snack menjadi salah satu usaha yang mendapat pendampingan melalui program tersebut. Selain usaha makanan ringan, UMKM Bolo JTB juga menaungi usaha katering dan koperasi produsen yang memasarkan berbagai produk oleh-oleh.
Produk yang dipasarkan tidak hanya berupa makanan siap saji. Konsumen juga dapat memesan produk terlebih dahulu sesuai kebutuhan.
“Ini merupakan dukungan kami terhadap masyarakat sekitar JTB,” jelas pria asal Madiun ini.(fin)





