SuaraBanyuurip.com – D Suko Nugroho
Bojonegoro – Gas Hidrogen sulfida (H2S) yang terkandung dalam minyak Banyuurip, Blok Cepu, cukup tinggi yakni 1,2 hingga 1,5 % di fase gas. Kandungan tersebut dari sumur yang belum diolah.
“Ini tergolong tinggi,” kata Bagian Produksi Lapangan Banyuurip, Awang Lazuardi menjelaskan seputar produksi kepada rombongan Direktur Hulu Pertamina saat berkunjung di Lapangan Banyuurip, Jum’at (22/7/2016).
Sedangkan untuk kualitas crude (minyak mentah) dari Lapangan Banyuurip yang bisa dijual adalah maksimal di 10 ppm di fase minyak.
“Dengan 10 ppm ini bisa bikin mata iritasi. Tapi kita ada processing area sehingga kadar 1,5 tidak keluar dari lokasi karena diinjekasikan lagi,” ucap Awang.
Saat ini sebagian gas telah gunakan sebagai bahan bakar gas turbin generator (GTG) untuk menghasilkan listrik, kemudian listrik dipakai untuk menjalankan engine.
“Sedangkan gas sisanya diinjeksikan  ke dalam sumur,” tegas Awang.
Produksi Banyuurip sekarang ini telah mencapai 180 ribu – 185 barel per hari. Produksi tercapai dua bulan terakhir ini. Sampai saat ini belum ada rencana untuk meningkatkan produksi.
“Sedang kita bahas di internal. Tapi Fokus kita saat ini adalah menjaga produksi di angka itu,” pungkas Awang.
Produksi tersebut telah disalurkan menggunakan pipa sepanjang 97 kilo meter (Km) ke tempat penampungan yang terapung di tengah laut Palang, Tuban.(suko)





