Enam Bulan, 61 Bayi di Tuban Meninggal

Ela kesehatan Tuban

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Pada Semester I 2017, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban, Jawa Timur, terbilang sukses menekan jumlah kematian ibu dan bayi. Penurunannya hampir 50 persen, dibanding tahun sebelumnya.

“Sejak bulan Januari-Juni 2017 ada 61 bayi meninggal,” ujar Kasi Kesehatan Keluarga Dinkes Tuban, Muselah, kepada suarabanyuurip.com, ketika dijumpai di kantornya Jalan Brawijaya Tuban, Jumat (21/7/2017).

Jumlah kematian ini diklaim lebih sedikit, dibandingkan dengan tahun 2016 lalu mencapai 219 kasus. Dimana Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di bawah 2 Kg, menjadi pemicu dominan kematian bayi.

Sebenarnya berbagai upaya telah dilakukan pemerintah kabupaten. Salah satunya menggandeng pemerintah desa untuk memberdayakan masyarakatnya. Beragam faktor penyebab kematian bayi inilah, berdampak pada naik turunnya grafik sejak tahun 2010.

Sesuai catatannya, ada 167 kasus kematian bayi di tahun 2010. Tahun 2011 naik menjadi 174 kasus. Turun menjadi 155 kasus di tahun 2012. Merangkak lagi di tahun 2013 sebanyak 171 kasus. Naik menjadi 186 kasus tahun 2014, puncaknya tahun 2015 mencapai 225 kasus.

Baca Juga :   200 Lansia Mojodelik Disuntik Vaksin Covid-19

“Kasus kematian bayi dapat ditekan tahun 2016 menjadi 219 kasus,” terang perempuan berkacamata ini panjang lebar.

Menurunnya jumlah kematian bayi sejak dua tahun terakhir membuat bangga Bupati Tuban, Fathul Huda. Dia menilai Tuban cukup berhasil membangun kesehatan. Dimana angka harapan hidup masyarakatnya meningkat 70,6 per tahun.

Selama periode 2016, jumlah kematian bayi di Tuban masih berada di bawah standart Nasional. Dimana untuk Nasional standart kematian bayinya mencapai 350/tahun. Sedangkan di Bumi Wali (sebutan lain Tuban) hanya 219 kasus.

Pada puncak kematian bayi tertinggi tahun 2015, rata- rata hitungan usianya kisaran 0-7 hari dan 29 hari-11 bulan. Sedangkan di tahun 2016, bayi yang meninggal ada di usia 8-26 hari. Pemicu kematian bayi ada beberapa faktor di setiap tahunnya. Kasus BBLR paling banyak terjadi di tahun 2015, asfiksia tahun 2016, infeksi tahun 2013 dan 2015, dan penyebab lain-lain mendominasi kematian di tahun 2012.

Sedangkan untuk lokasi kematian bayi dominan di Rumah Sakit (RS) tahun 2015, Pukesmas tahun 2016, Polindes tahun 2013, dalam perjalanan tahun 2014, dan di rumah ibunya tahun 2014 dan 2016.

Baca Juga :   Menguatkan Posyandu ILP: Strategi Membangun Layanan Kesehatan Dasar yang Inklusif dan Berkelanjutan

“Setelah setiap desa memiliki satu mobil kesehatan diharapkan ibu yang hendak melahirkan cepat dirujuk ke RS,” harap Ela sapaan akrabnya.

Keberadaan mobil siaga kesehatan telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di desa penghasil Migas Desa Rahayu, Kecamatan Soko. Tanpa dipungut biaya BBM, warga leluasa menggunakan inventaris desa tersebut.

“Sejak 2016 warga Rahayu kalau mau berobat atau keadaan emergency bisa menggunakan mobil yang bertuliskan SIOPER itu,” sergah Kades Rahayu, Sukisno.

Untuk meningkatkan kesehatan warganya, Kisno telah mengoptimalkan Dana Desa (DD), Alokasi Dana Desa (ADD), dan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari pengelola Lapangan Mudi, Blol Tuban, Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ). (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *