Alat Pengolahan Gas JTB Lebih Berat Dibanding Minyak Banyu Urip

Alat Pemrosesan Gas JTB Lebih Berat Dibanding Minyak Banyu Urip

SuaraBanyuurip.comd suko nugroho

Bojonegoro – Peralatan pemrosesan gas,  H2S Absorber Jambaran -Tiung Biru (JTB) dipastikan lebih berat dibanding alat pengolahan minyak Banyu Urip, Blok Cepu. 

H2S Absorber memiliki berat 113,25 ton, atau jika ditambah berat kendaraan pengangkut totalnya mencapai 180 ton. Sedangkan berat total peralatan pengolahan minyak Banyu Urip dan armada yang pernah diangkut PT Tripatra hanya 130 ton.   

Mobilisasi H2S Absorber akan dilakukan Konsorsium PT Rekayasa Industri-Japan Gas Coporation Indonesia-Japan Gas Coporation (RJJ), pada awal Oktober 2019. RJJ adalah kontraktor Pertamina EP Cepu, yang melaksanakan proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi fasilitas pemrosesan gas (Proyek Engineering, Procurement and Constructions – Gas Processing Facility/EPC-GPF) JTB.

Baca : Mobilisasi Alat Pengolahan Gas JTB Dimulai Awal Oktober

“Ini lebih besar dan lebih berat dibanding peralatan untuk Banyu Urip,” ujar ujar Site Manager RJJ, Zainal Arifin saat rapat koordinasi subkontraktor lokal proyek GPF dengan sejumlah media di Kantor Representativ PT Rekind Jalan Raya Bojonegoro – Cepu KM 19, Perempatan Clangap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Jumat (23/8/2019) kemarin.  

Baca Juga :   Petani Mojodelik Ancam Demo Proyek EPC-5

H2S Absorber memiliki panjang 40 meter. Awalnya 60 meter, kemudian dilakukan pemotongan untuk memudahkan mobilisasi. 

“Jumlahnya ada empat buah,” ucap Zainal, sapaan akrabnya.

Baca : Penyerapan Tenaga Kerja Lokal Proyek Gas JTB Berdasarkan Amdal

Ada lima jembatan di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang akan dilakukan penguatan untuk mendukung mobilisasi alat pengolahan gas JTB.  Yakni Jembatan Semar Mendem, dengan Austria Truss-Kelas A 50 meter, jembatan Besuki Kulon, dengn Girder Beton Kelas A dengan ukuran 2×22,75 meter.

Kemudian Jembatan Pacal akan diberikan Hollandia Klos, Kelas B 45 meter, Jembatan Jetak dengan Callendering Hamilton Kelas A 42 meter dan yang terakhir adalah Jembatan Kalitidu, dengan Australia Truss kelas A 50 meter.

“Jembatan itu usianya sudah tua, jadi akan kita perkuat. Setelah pengangkutan selesai penguatnya akan kita lepas,” tegas Zainal.

Fasilitas pemrosesan gas (gas processing facility/GPF) JTB memiliki kapasitas produksi sales gas sebesar 192 juta standart kaki kubik per hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD). Target onstream pada 2021.  

Baca Juga :   Tim Konten Lokal Urai Problem Blok Cepu

Total cadangan gas JTB sebesar 2,5 triliun kaki kubik (TCF), JTB. Produksi gas akan berlangsung selama 25 tahun. Gas nantinya akan dialirkan melalui Pipa transmisi Gresik-Semarang. (suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *