126 Bayi dan 28 Ibu Melahirkan di Bojonegoro Meninggal

21460

SuaraBanyuurip.comArifin Jauhari

Bojonegoro – Tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menjadi perhatian serius dinas kesehatan ( Dinkes) setempat. Tercatat sebanyak 126 bayi dibawah usia satu tahun meninggal dunia, dan AKI melahirkan mencapai 28 orang.

Guna menekan tingginya AKB dan AKI, Dinkes Bojonegoro gencar mensosialisasikan pengetahuan kesehatan. Dikegiatan Bupati Sambang Desa di Dusun Bedahan, Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (21/11/2020) kemarin misalnya.

Kepala Dinkes Bojonegoro dr. Ani Pujiningrum M. Kes, mengungkapkan, sejak awal tahun 2020 sampai saat ini telah tercatat sebanyak 126 bayi dibawah usia satu tahun meninggal dunia. Angka Kematian Bayi tersebut tergolong tinggi meski targetnya 144. Pihaknya berharap tentu tidak ada lagi bayi yang meninggal dalam satu tahun kehidupannya atau selanjutnya.

“30 persen diantaranya meninggal ini disebabkan karena berat badan lahir rendah, disebabkan karena kelahiran prematur. Jadi bayinya kecil akhirnya tidak bisa bertahan hidup,” ujar dr. Ani Pujiningrum, dihadapan Ketua penggerak PKK dan para Kepala Desa se Kecamatan Gayam.

Baca Juga :   BINDA Jatim Gencar Berikan Vaksinasi Anak di Sumberejo

Dijelaskan, prematur ini biasanya disebabkan karena rata-rata saat hamil, ibu kurang gizi. Jadi karena malas makan, gizinya tidak terpenuhi, kurang darah. Masa hamil ini selain mempengaruhi persalinan nantinya juga pada bayinya. Penyebab selanjutnya adalah infeksi, sakit. Kalau sakit, bayi setelah dilahirkan agar bapaknya segera mengantar ibu dan bayi untuk diperiksa kesehatannya.

“Jadi jangan terpaku pada imunisasi saja, apabila ada gejala sakit ringan bawalah pada tenaga kesehatan agar segera terdeteksi sebelum menjadi sakit berat, tertangani dengan dini supaya tidak menimbulkan penambahan angka kematian bayi,” jelasnya.

Sementara Angka Kematian Ibu melahirkan mencapai 28 orang. Dari 28 tersebut 14 orang dikarenakan penyakit penyerta. Artinya sebelum hamil sudah sakit. Ini adalah penyebab yang pertama.

“Saya titip kepada Pak Kades, kepada semuanya, kalau ada tetangganya, keluarganya ada yang sedang sakit tolong diingatkan, sebaiknya tidak hamil. Atau kalau sakitnya sudah berat dilarang hamil. Karena sakit berat ketika ditolong dalam keadaan hamil sulit,” pesan dr. Ani Pujiningrum.

Baca Juga :   Potensi Kembangkan Layanan Kesehatan Blora Selatan

Sedangkan penyebab yang kedua karena pendarahan, ada 9 orang yang meninggal disebabkan hal tersebut. Jumlah kematian berikutnya disebabkan karena ibu hamil tidak memeriksakan diri. Pada trimester kesatu ibu hamil itu memeriksakannya sebulan sekali, trimester kedua juga sebulan sekali.

“Kemudian trimester ketiga dua minggu atau satu minggu sekali meskipun bukan anak pertama. Supaya ketika ada penyakit yang bisa dicegah tidak menyebabkan hal-hal yang fatal,” pungkas dr. Ani Pujiningrum.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *