SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Gresik – Proyek fasilitas pemurnian (smelter) tembaga baru berkapasitas 1,7 juta dry metric ton (dmt) per tahun milik PT Freeport Indonesia (PTFI) sudah mencapai 34,9% di akhir bulan Juni 2022. Total biaya yang sudah dikeluarkan lebih dari USD1,15 miliar. Proyek ini berada di kawasan Java Integrated and Industrial Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengungkapkan progres pembangunan smelter saat ini melebihi dari yang telah ditargetkan awal, yaitu 34,3%.
“Untuk sekarang yang sudah kami kerjakan adalah beberapa pailing (pondasi tiang pancang) telah terpasang, yakni mencapai 11 ribu dari total 16 ribu pailing atau 65 persen, dengan kongkret pouring mencapai 20 ribu meter kubik, dari rencana total sekitar 220 ribu meter kubik,” jelasnya saat mendampingi Menteri ESDM Arifin Tasrif mengunjungi proyek smelter, Jumat (29/7/2022).
Tony mengatakan, aktivitas pembangunan hingga kini terus dilakukan secara intensif, dengan perusahaan kontraktor PT Ciyoda International Indonesia (CII) yang fokus pemadatan lahan, serta dibantu Adhi Karya, serta beberapa kontraktor lokal lainnya.
Ditempat yang sama, Menteri Arifin mengapresiasi upaya PTFI serius menggarap proyek smelter.
“Secara keseluruhan saya puas. Progresnya cukup bagus, sangat berbeda dengan kunjungan pertama kali lalu,” ucap Arifin.
Dijelaskan progres pembangunan sudah mencapai 34,9% di akhir bulan Juni 2022, dengan biaya yang dikeluarkan lebih dari USD1,15 miliar.
“Capaian ini lebih cepat dari yang ditargetkan,” tegas Arifin dalam pernyataan tertulisnya.
Saat ini, sudah terdapat 10.500 titik tiang pancang serta berlangsung pula pengecoran (concrete pouring) untuk fondasi struktur.
“Ditargetkan akhir tahun 2022 mencapai 50%. Kita harapkan di kuartal II 2023 konstruksi udah selesai, terutama proyek smelting eksisting yang ekspansi,” tegas Arifin.

Pembangunan smelter PT Freeport Indonesia menyerap tenaga kerja 3.500 orang selama konstruksi berlangsung. Ribuan pekerja terdiri dari 98% tenaga kerja Indonesia, 50% diantaranya tenaga kerja lokal Jawa Timur. Hal ini diharapkan dapat menjaga akselerasi progres tersebut sedini mungkin.
“Proyek pembangunan harus tetap on progress. Untuk itu, kebutuhan tenaga kerja lokal akan dioptimalkan,” ungkap Arifin.
Dalam pembangunan smelter terdapat ekspansi kapasitas pada smelter eksisting sebesar 0,3 juta dmt/tahun oleh PT Smelting, serta pengolahan logam berharga (precious metal refinery) yang mencapai 6.000 ton/tahun. PTFI sendiri menyiapkan investasi pada belanja modal (capital expenditure) sebesar USD3 miliar untuk proyek pembangunan smelter tersebut.
Arifin menekankan, pemerintah akan terus mendorong percepatan pembangunan, salah satu upayanya adalah dengan adanya pengaturan mengenai pertambangan, serta regulasi mengenai keharusan hilirisasi.
“Kita ada pengaturan pertambangan dan regulasi hilirisasi, kita jaga proses itu,” tandanya.
Sebagai informasi, persetujuan masterlist pembangunan smelter telah didapatkan oleh PT Freeport Indonesia dari pemerintah. Untuk teknologi yang diterapkan dan dikembangkan pada pembangunan Smelter tersebut berupa Double Flash Smelting & Converting yang telah diadopsi oleh beberapa negara di dunia, seperti China, India, negara-negara Kawasan Eropa, dan Amerika Serikat.
Sementara itu, produk utama yang dihasilkan pada Smelter tersebut berupa katoda tembaga, emas dan perak murni batangan, PGM (Platinum Group Metals), serta asam sulfat, terak, gipsum, timbal sebagai produk sampingan.(suko)





