Sempat Disalip Blok Cepu, Lifting Minyak Blok Rokan Melesat

Menteri ESDM Arifin Tasrif didampingi pejabat ExxonMobil melihat fasilitas pemrosesan minyak Banyu Urip, Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Suarabanyuurip.com – d suko nugroho

Jakarta – Lifting minyak Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus menurun hingga ke level 150 ribu barel per hari (bph). Lifting minyak tersebut sekarang ini disalip Blok Rokan di Provinsi Raiu yang mencapai 163 ribu bph.

“Blok Cepu dan Banyu Urip sudah menurun. Sekarang tinggal 150-an ribu barel per hari. Sudah tidak sampai 160 ribu lagi,” kata Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto saat memberi sambutan pada Fokus Group Discussion dengan SKK Migas dan Pertamina di Pekanbaru, Riau pertengahan Desember 2022 lalu.

Menurut Sugeng, Blok Rokan saat ini dipandang sebagai tulang punggung lifting nasional. Sehingga jika blok ini terganggu, maka lifting minyak nasional ikut terganggu. Sebab ada sekitar 163 ribu barel per hari produksi minyak yang dihasilkan dari Blok Rokan.

“Blok Rokan menjadi salah satu tulang punggung lifting nasional,” tegas Politisi Partai NasDem itu.

Sugeng mengungkapkan, lifting minyak Blok Rokan akhir-akhir ini menunjukkan hasil menggembirakan. Blok migas ini sebelumnya selama 50 tahun dikelola oleh PT Chevron Pacific Indonesia. Namun pada 8 Agustus 2021 diserahkelolakan kepada Pertamina, karena Pemerintah Indonesia mengambil keputusan tidak memperpanjang Chevron.

“Keberadaan Blok Rokan sangat penting di tengah banyak blok yang sudah menua. Apalagi, konsumsi BBM terus meningkat. Maka, produksi minyak dari Rokan sangat krusial untuk memenuhi kebutuhan BBM di dalam negeri,” tandasnya.

Oleh karena itu, Komisi Dewan yang membidangi masalah energi ini berharap semua pemangku kepentingan di tingkat daerah agar mendukung kegiatan di Blok Rokan.

Baca Juga :   Amdal Proyek Cendana Tak Libatkan Pemdes

“Konsumsi BBM terus naik, sementara blok-blok kita sudah relatif tua. Yang termuda ada di blok Cepu dan Banyu Urip. Terganggunya Blok Rokan, maka terganggunya lifting nasional,” pungkas Sugeng dikutip dari Parlementaria.

Lifting minyak Banyu Urip, Blok Cepu, yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) sebelumnya paling besar di tanah air, bahkan menyalip Blok Rokan. Pada 2020, mencapai sebesar 217.617 barel per hari (bph). Namun turun menjadi 203.525 bph di 2021.

Lifting Blok Cepu kembali turun di tahun 2022. Dari target yang dipasang di APBN sebesar 182.000 bph, namun berdasarkan perhitungan angka teknis sesuai work program and buget (WP&B) dipasang 170.711 bph

“Menurunnya produksi Blok Cepu ini dikarenakan meningkatnya kandungan air,” kata Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto saat menyampaikan data 15 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) besar penyumbang lifting minyak nasional pada rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu, 2 Pebruari 2022.

Menurut Dwi, Blok Cepu masih sangat ekonomis karena satu wilayah kerja yang memiliki cadangan migas cukup besar. Keekonomian blok migas tersebut bukan hanya di level nasional tatapi secara global.

“Penopang lifting kita sekarang ini ada dua yakni Blok Cepu sekitar 160 sampai 170 ribu barel per hari, dan Rokan sekitar 160 sampai 165 ribu. Lifting dua blok ini yang paling besar saat ini,” beber mantan Direktur Pertamina itu.

Sebagai informasi, cadangan minyak Blok Cepu mengalami peningkatkan dua kali lipat dari penemuan awal sebesar 450 juta barel. Pada awal bulan Desember 2018, cadangan minyak meningkat setelah operator melakukan pembaruan data seismik reprocessing guna meningkatkan gambaran di bawah permukaan tanah. Cadangan Lapangan Banyu Urip mengalami penambahan dari 729 juta barel menjadi 823 juta barel.

Baca Juga :   Realisasikan Produksi Minyak 1 Juta Barel Per Hari, KESDM Cetak Inspektur Migas Baru

Untuk kembali mendongkrak produksi minyak Blok Cepu ini akan dilakukan pengembangan sumur baru pada 2023. Diproyeksikan bisa menambah produksi sekitar 15.000 sampai 20.000 ribu bph pada tiga tahun mendatang.

Investasi telah diputuskan sebesar USD150 juta atau setara Rp2,128 triliun. Biaya tersebut untuk pengeboran 7 sampai 10 sumur baru dalam rentang waktu empat tahun.

Dari jumlah investasi Rp2,128 triliun itu, biaya yang harus ditanggung Badan Kerja Sama (BKS) Blok Cepu sebesar USD15 juta atau Rp 216.635.250.000. Jumlah tersebut sesuai porsi BKS dalam pengelolaan PI 10% yang dibagi empat BUMD.

Untuk investasi yang harus dibayar PT Asri Dharma Sejahtera (ADS), BUMD Bojonegoro, sekitar Rp 135 miliar, yang terbagi empat tahun kedepan. Untuk tahun 2022 ini investasi awal sebesar Rp 11 miliar. Selanjutnya pada tahap kedua Rp 40 miliar, dan tahap ketiga mencapai Rp 60 miliar. Sementara untuk, sisanya akan diinvestasikan di 2024.

“Prinsipnya kami setuju dengan tambahan investasi ini. Karena lifting minyak ini berpengaruh terhadap dana bagi hasil migas yang diterima Bojonegoro. Kalau lifting turun tentu DBH migas yang diterima juga turun. Begitu juga sebaliknya,” kata Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *