TPPI Investasikan Rp3 Triliun untuk Industri Paraxylene di Tuban

Kompleks industri kimia aromatik dan olefin PT TPPI di Desa Remen, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jatim. TPPI melakukan revaming untuk meningkatkan produksi Paraxylene bagi pemenuhan kebutuhan dalam negeri.(Suarabanyuurip.com/tbu)

Suarabanyuurip.com – Teguh Budi Utomo

Tuban – PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) menginvestasikan anggaran sekitar 200.000.000 Dolar, setara Rp3 triliun, untuk peningkatan produksi Paraxylene di wilayah Kabupaten Tuban, Jatim. Hal itu dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang saat ini 50 persen masih impor.

Kebutuhan dalam negeri terhadap produk turunan industri industri aromatik tersebut sekitar 1,5 juta kilo ton per tahun, sedangkan produk dalam negeri sekitar 770.000 kilo ton. Produk tersebut diantaranya dihasilkan TPPI Tuban sekitar 500.000 kilo ton, dan dari Residual Fluid Catlytic Cracking (RFCC) Cilacap sekitar 176.000 kilo ton.

Pengembangan industri berbasis Petrochemical di Bumi Ranggalawe tersebut, dilakukan dalam di kompleks TPPI di Desa Remen, Kecamatan Jenu, Tuban. Proyek ini bukan membangun pabrik baru, namun semacam revamping dan upgrade untuk menambah volume produksi hingga total sebanyak 780.000 kilo ton per tahun.

Hal tersebut diungkapkan General Manager TPPI Tuban, H Sugiyo, saat silaturahmi dengan jajaran media massa dari organisasi wartawan Ronggolawe Press Solidarity (RPS) dan PWI Tuban di Tuban, Senin (06/02/2023) malam.

Baca Juga :   Bisnis Kilang Pertamina Internasional Lampaui Target di Triwulan Pertama 2023

General Manager PT TPPI Tuban, H Sugiyo, menyatakan, pengembangan produksi Paraxylene di TPPI hingga 780.000 kilo ton per tahun untuk mengurangi impor. Tampak Sugiyo didampingi PR & CSR Section Head TPPI Tuban, Taheran Sidik Prabowo, menyerahkan tali asih kepada Ketua RPS Khoirul Huda dan Sekretaris PWI Tuban Amin Ramadhan. (Suarabanyuurip.com/tbu)
© 2023 suarabanyuurip.com/Teguh Budi Utomo

Sugiyo yang kala itu didampingi PR & CSR Section Head PT TPPI Tuban, Taheran Sidik Prabowo, menambahkan, pengembangan industri Paraxylene dari perusahaan yang 80,26 persen sahamnya milik pemerintah tersebut strategis untuk mengurangi impor. Pada gilirannya produk dari pabrik aromatik dan olefin yang telah berstatus sebagai Obyek Vital (Obvit) ini, bisa dipakai  untuk mendukung pasokan bahan baku industri hilir.

Kendati perusahaan dengan tapak pabrik di wilayah Tanjung Awar-awar ini menggunakan high technology dalam operasinya, namun 91 persen dari total sekitar 760 orang pekerjanya berasal dari Kabupaten Tuban, dan sisanya 9 persen dari luar daerah. Dari jumlah tersebut sebanyak 37 persen berasal dari desa Ring 1 pabrik, Desa Remen, Tasikharjo, dan Desa Purworejo di wilayah Kecamatan Jenu.

Baca Juga :   Kilang Badak Diproyeksi Tambah Produksi LPG 1,56 Juta M3

Operasi kilang di TPPI Tuban, timpal Taheran Sidik Prabowo, semuanya dilakukan oleh pekerja dari Tuban. Hal itu terjadi lantaran tranfer skill teknologi telah dilakukan dari tenaga asing maupun tenaga luar daerah sebelum mereka eksodus, sehingga murni pabrik kimia di bibir Pantai Utara (Pantura) Tuban tersebut didominasi oleh warga Indonesia.

“Kami adalah bagian dari masyarakat, TPPI adalah Obvit yang harus dilindungi dan lindungi keberadaannya agar bermanfaat untuk publik,” papar Sugiyo. (tbu)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA BANYUURIP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *