Bioetanol Bakal Didirikan di Kawasan Peruntukan Industri Gayam Bojonegoro

Tangkap layar di laman Kementerian Investasi/BKPM tentang rencana lokasi industri bioetanol di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Suarabanyuurip.com – Arifin Jauhari

Bojonegoro – Guna memenuhi kebutuhan sektor bahan bakar nabati, Indonesia bakal membangun industri bioetanol. Pabrik tersebut rencananya dibangun di Kawasan Peruntukan Industri (KPI), Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Kawasan industri di Kecamatan Gayam dipilih bukan tanpa alasan. Lahan seluas 10 hektar untuk pendirian industri yang hasil produksinya untuk skema campuran bahan bakar bensin itu dianggap memiliki faktor ketersediaan bahan baku.

Selain itu, sebagaimana tertera di laman resmi Kementerian Investasi/ BKPM, lokasi yang terpilih itu mempunyai akses yang mudah menuju offtaker di Tuban, serta infrastruktur serta sumber daya lain yang mendukung. Status kawasan tersebut tidak dalam sengketa dengan status lahan clean and clear.

Industri bioetanol baru ini mengutamakan bahan baku jagung sebagai bahan baku utama, bukan menggunakan molases/tetes tebu seperti industri bioetanol lain di dalam negeri. Jagung dianggap sebagai bahan baku paling potensial di antara bahan baku berpati lainnya. Dengan kapasitas industri bioetanol sebesar 100 KTA diperlukan pipil jagung kering sebanyak 337.500 ton per tahunnya yang diperoleh dari penanaman jagung di lahan seluas 30.000 hektar (ha).

Lahan yang diproyeksikan sebagai lahan tanam jagung adalah lahan non-produktif milik Perum Perhutani sekitar area Bojonegoro, Tuban, Blora, dan Cepu. Skema kerjasama 3 arah (tripartite) antara Perum Perhutani sebagai pemilik lahan tanam jagung, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) sebagai perwakilan petani jagung, dan pihak investor sebagai pemilik usaha industri bioetanol dirancang agar pasokan pipil jagung kering untuk industri dapat terpenuhi secara stabil dan berkelanjutan serta tidak berkompetisi dengan kebutuhan pangan dan pakan.

Baca Juga :   Tujuh Rekomendasi Pemkab Bojonegoro untuk Perbaikan Regulasi Pengelolaan Migas

Dikonfirmasi mengenai hal ini, Administratur Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro, Irawan Darwanto Djati mengatakan, bahwa perihal lokasi industri pihaknya belum dapat konfirmasi para pihak terkait dalam pembangunan pabrik.

“Karena kalau di tempat kami pasti melalui aturan yang panjang, yakni harus ke kementrian LHK perijinannya,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com, Kamis (30/03/2023).

Meski begitu, jika menyangkut investasi di bojonegoro khususnya Perhutani KPH Bojonegoro, pihaknya bersikap welcome atai terbuka dan menerima. Dengan catatan selama hal itu sesuai dengan ketentuan.

“Apalagi untuk kepentingan negara sendiri. Pasti kami mendukungndengan tetap mengikuti ketentuan,” ujarnya.

Untuk diketahui, sebagai bahan bakar nabati (BBN) pencampur bensin, bioetanol direncanakan untuk diaplikasikan pada beberapa skema pencampuran antara lain A20 (15% metanol, 5% etanol), A6 (4% metanol, 2% etanol), maupun E5 (5% etanol).

PT. Pertamina (Persero) sebagai badan usaha yang mengedarkan bensin eceran akan menjadi offtaker utama bagi bioetanol dengan biofuel grade yang dihasilkan dari industri ini. Hasil samping industri bioetanol berupa Distilled Dried Grain with Soluble (DDGS) juga dapat dijual sebagai pakan ternak dengan protein tinggi.

Menteri ESDM Arifin Tasrif sebelumnya menyampaikan, pabrik methanol berkapasitas 800.000 ton akan dibangun di Kabupaten Bojonegoro. Pabrik ini merupakan upaya pemerintah untuk mengoptimasikan hilirisasi gas dan menumbuhkan perekonomian di daerah.

Baca Juga :   Pabrik Bioetanol di Bojonegoro Diprediksi Mampu Serap 300 Ribu Ton Jagung

“Kedepan produksi gas di Jawa Timur cukup besar seiring meningkatnya kapasitas lapangan Jambaran – Tiung Biru di Kabupaten Bojonegoro, dan Lapangan Gas MDA & MBH di Madura,” ujarnya saat mendampingi Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin meresmikan Proyek Strategis Nasional (PSN) Jambaran Tiung Biru (JBT) serta Lapangan Gas MDA & MBH, di Sheraton Hotel and Towers, Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Rabu (8/2/2023) lalu.

Arifin menyebut total produksi gas dari dua lapangan itu mencapai 312 juta standar kaki kubik per hari (milion standar cubik feet per day/MMSCFD). Rinciannya, kapasitas produksi lapangan Gas JTB yang dioperatori Pertamina EP Cepu sebesar 192 Sementara kapasitas lapangan Gas MDA & MBH yang dikelola HCML Husky-CNOOC Madura Limited sebanyak 120 MMSCFD.

Dijelaskan, produksi gas dari dua lapangan tersebut sebagian telah dialokasikan untuk PLN, industri di Jawa Tengah dan Jawa Timur, PGN ke Jargas Lamongan, dan PT Petrokimia Gresik (PKG).

“Sebagian dari gas ini akan diproses untuk membangun pabrik methanol berkapasitas kurang lebih 800.000 ton yang akan berlokasi di Bojonegoro yang produknya berupa methanol ini akan dipakai untuk mendukung kebutuhan industri biofuel di Indonesia,” pungkas Arifin.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *